Chapter 13

1875 Words
Semalaman Nadia tak bisa tidur. Dia, mengingat kembali apa yang Unclenya katakan. Lingkar hitam, menempel di bawah matanya. Matanya sudah bagai mata panda saja. Dia, menghela napas dan bangkit dari tidurnya. Dengan menghela napas, Nadia, bangkit dan menuju ke kamar mandi. Dia harus membersihkan diri, untuk berangkat kerja. Selesai ritual mandinya, Nadia, langsung menggunakan pakaian kerjanya. Dia menggunakan setelah kemeja biru muda, dengan rok hitam diatas lutut. Rambutnya yang sebahu, di biarkan lurus ke bawah. Terakhir, sebelum dia benar - benar berangkat, dia memasang kacamata hitamnya. "Aman, semua orang nggak akan takut liat mata gue kek hantu gini." Nadia mengambil tas kecilnya, dan mengambil kunci mobilnya. Dia hari ini berangkat menggunakan mobil pribadinya. Tak ada sopiran gratis untuknya, karena sang Uncle, Edgar sudah lanjut menjelajah jodoh. Dia membuka pintu mobil dengan malas, dan langsung masuk. Dia kemudian menjalankan mobilnya hingga menjauh dari sana. Di dalam mobil, Nadia Bramantyo masih menggunakan kacamatanya untuk menyetir. Saat ini, dia menyetir dengan perasaan yang bosan. Dia lalu menghidupkan radio. Saat dia menghidupkan radio, ternyata lagu yang di putar adalah lagu percintaan. Nadia seketika menjadi kesal. Kehidupannya serasa di sindir oleh lirik dari sebuah lagu. Dia, mengganti channel radio, dengan lainnya. Namun, dia malah kembali mendengar lagu yang memiliki makna yang sama, tetapi berbeda judul. Karena kesal, Nadia akhirnya mematikan radionya. “Fyuh! Sumpah demi apapun, ini pasti gue yakin kehidupan sedang tertawa keras mengejek hidup gue yang siall deh!” Nadia kemudian kembali menjalankan mobilnya tanpa menghidupkan radio. Butuh lima belas menit, akhirnya dia sampai di kantornya. Dia turun saat mobilnya sudah selesai dia parkirkan, dan masuk ke dalam kantor. Dia tak lupa, saat ini sudah membawa id card, dan dengan bebasnya tentu dia bisa mendapatkan akses masuk ke kantornya. “Nggak lupa deh gue bawa id card, jadi nggak perlu pinjem id card si bos lagi, ck ck.” Wanita itu menempelkan id cardnya, dan pintu pun terbuka, memberikan akses masuk untuk wanita itu. Dengan langkah yang lesu, dia masuk dan menuju ke lift untuk naik ke ruangannya. Dia menekan tombol lift, dan menunggu hingga lift terbuka. Ting! Saat lift terbuka, Nadia masuk ke dalam. Dia menekan kembali tombol untuk membuat lift tertutup, tapi, saat pintu lift tertutup, tiba – tiba saja kembali ke buka. Dan, seorang pria yang menahannya, sambil tersenyum tipis. “Sorry ya Nad, gue juga mau masuk lift, hehe,” katanya. “Mas Evan? Oh, boleh kok. Silahkan aja.” Evan, pria itu masuk ke dalam lift, dengan bersama Nadia. Lift ini hanya berisi mereka berdua, Nadia dan juga pria yang bernama Evan. Nadia diam, sesekali membenarkan kacamatanya yang melorot ke bawah. Evan, yang melihat Nadia sekilas, mengerutkan keningnya. “Loh, aku kok baru sadar kamu pakai kacamata hitam sih Nad?” Nadia menoleh dan menyengir, “Iya Mas, akibat nggak bisa tidur semalam, mata jadi kayak mata pandai hehe.” “Banyak tugas ya?” “Ya, gitu deh Mas. Namanya anak magang hehe,” alibinya. Padahal Nadia saja satu pun tugas nggak ada. Ya, masa dia harus jujur mengatakan dia tak bisa tidur gara – gara memikirkan kembali mengenai hubungannya dengan pemilik perusahaan ini? Yang ada malah dia di slepet sama Felix nantinya. Ting! Lift pun terbuka, dan Nadia menatap kearah Evan. “Aku duluan ya Mas.” “Oh oke.” Nadia keluar lift dengan santai. Namun, tidak sesantai tatapan karyawan lainnya yang menatap aneh dirinya. Rima, kepala Divisi Nadia yang berpapasan dengannya menghentikan dia. “Eh, anak magang. Kamu nggak salah pakai kacamata hitam ke kantor?” “Nama saya Nadia. Ish, masa di panggil anak magang sih Bu Rima…” “Iya, kan saya lupa – lupa inget. Kamu sih, orang nggak penting, mana saya inget kan,” katanya. “Bujuk buset, gue orang nggak penting. Siapa selama ini yang jadi babu tukang foto dia? Dia bisa terbang? Punya kekuatan gaib? Kera sakti kali ah!” batin Nadia kesal. Nadia hanya menyengir saja menanggapinya, “Iya Bu, maklum, anak muda lagi galau putus cinta uh…broken heart Bu.” Di luar ekspektasi, Bu Rima malah memerah matanya. Dia menangis mendengar kata Nadia yang dalam kategori mengibul. “Hiks, hiks…” Nadia yang melihat atasannya itu menangis bingung. “Bu, kok malah Ibu yang nangis sih? Kan harusnya saya…” “Iya harus saya!” Nadia mengerutkan kening, “Kan saya yang patah hati, masa Ibu maksa patah hati yang nangis? Nggak gitu konsepnya Ibu Rima…” “Bukan.” “Ha, la terus apaan Bu?” “Kaki saya kamu injak hiks hiks…” Nadia melihat kakinya. Dia benar – benar kurang ajar, dengan santai menginjak kaki atasannya dengan sepatuh high heelsnya. Dia mengangkat segera kakinya, dan lalu menyengir. “Hehe, ampun. Maaf ya Bu, nggak tau ish hehe!” “Yaudah, kamu ke meja saya. Bawa dokumen yang numpuk di meja saya, foto copy, habis itu kamu rangkum yang penting – penting saja. Setelah itu, kamu fotocopy lagi, dan kasih ke saya.” Nadia melongo, “Bukannya mending di rangkum aja dulu. Baru, nanti setelah itu di foto copy, kan sama aja Bu.” “Bukannya saya tadi sudah memberitahu kamu tadi. Apa coba?” “Yaudah, kamu ke meja saya. Bawa dokumen yang numpuk di meja saya, foto copy, habis itu kamu rangkum yang penting – penting saja. Setelah itu, kamu fotocopy lagi, dan kasih ke saya,” kata Nadia mengulang apa yang tadi Rima katakan. “Nah itu kamu tau. Nggak sia – sia pakai kacamata hitam, tambah pinter kamu!” kata Rima. “Yah, tapi kan Bu-” “Shsss… Jangan brisik ya. Saya mau nyalon dulu. Shsss…” Wanita itu pergi setelah mengatakan itu. Nadia melongo sambil melihat kepergiannya. “Pagi – pagi nyalon, ngadi – ngadi banget itu manusia?” gumamnya. Nadia menggelengkan kepala, lalu masuk ke ruangannya. Dia mendudukan diri dan meletakan tasnya. Saat dia akan mengeluarkan laptop kerjanya, yang ada di laci meja, Anggit sudah menongol di mejanya dengan khas menyengir kuda. “Hola!” Nadia menoleh dan memajukan bibirnya. “Hola hola, ndasmu itu hola!” Anggit pun berdecih, “Dih, ngamuk pagi – pagi, galak lo! Gue tu seneng banget. Si Anet, bikin gue klepek – klepek banget. Dia meman istri idaman banget!” kata Anggit dengan senyuman yang lebar. Nadia berdecih, “Iya lah idaman, orang dia goyangannya mantep. Ngaku lo!” Anggit menyengir, “Bukan gitu ish! Goyangan mah belakangan, memang dia cocok banget sama gue. Ah… ga sabar pingin kawin!” “Dih, lo aja dah kawin. Dasar buaya!” “Oh iya. Maksud gue nikah Nad! Sensi amat. Eh iya, lo kenapa pakai kacamata hitam? Gilaa lo ya, ke kantor pake kacamata hitam.” “Yang lebih gilaa itu gue. Pagi – pagi berkawan sama lo, otak gue tercemar.” Nadia bangkit dan meninggalkan Anggit. Anggit yang melihat Nadia pergi menatapnya heran. “Nad, woi, mau kemana!” “Mau ke hutan!” *** Selesai mem- fotocopy semua berkas yang di suruh oleh kepala divisinya, Nadia, menguap. Dia tidak boleh mengantuk, karena berkas yang di suruh meringkas sangat banyak. Mulai satu persatu dia buka, dan dia mencatatnya di jurnal yang sudah di sediakan oleh kepala divisinya. Di baca satu persatu halaman, dan kemudian, dia meringkasnya. Lucas yang kebetulan lewat melihat wanita itu tersenyum. Ternyata wanita yang seceroboh itu bisa serius juga saat mengerjakan tugas. Melihat senyuman yang jarang terbit di wajah Lucas, seorang wanita berdehem, membuat Lucas terkejut. “Ehem!” Lucas menoleh dan menatap datar. Namun, saat dia menoleh, dia menatap seorang wanita dengan rambut curly pirang sebahu, sedang bersedekap menatapnya heran. “Kania? Ngapain ke kantor aku!” Wanita itu memukul kepala Lucas, membuat pria itu mengerang kesal. “Argh! Stop!” Kania, wanita itu menatap kesal Lucas, “Kania, Kania, gue lebih tua dari pada lo!” Lucas memutar bola matanya jengah, “Dua bulan lebih duluan, nggak bisa di katakan Kakak.” Lucas pergi begitu saja menuju ke ruangannya. Sementara Kania, mengikuti pria itu untuk ke ruangannya. Dia duduk dengan seenaknya di sofa ujung sambil menatap pria itu. “Gue minta duit.” “Duit lagi? Nggak mau! Cari duit sendiri sana. Di kira, aku atm berjalan kamu apa!” “Dih, sebagai adik yang baik, bagi lah gue duit. Lo itu nggak pengertian banget sama gue. Semua duit gue di bekuin sama Papah,” kesalnya. “Berulah lagi hem?” “Gue nggak berulah Luc, gue cuma- em, ya cuma ons doang!” Lucas menatapnya kesal, “Itu urusan lo. Gue nggak peduli.” “Lucas! Lo nggak waras hem? Cepetan! Lo nggak kesian sama gue? Gue ini saudara lo ish!” Lucas dengan bodo amatnya tetap tak peduli, “Itu urusan lo, bukan urusan gue.” “Lucas!” “Kania! Sekarang, mending lo pergi dari kantor gue. Gue sibuk!” Kania, dengan kesal bangkit dan menatap Lucas kesal, “Lihat aja, gue nggak bakal nolongin lo kalau Mamah jodoh – jodohin lo sama temen anaknya. Mampus lo!” Kania pun pergi dari ruangan Lucas dengan kesal. Lucas hanya bisa memijat keningnya yang pusing karena ulang sang Kakak. Dret… Lucas melihat nama Felix yang ada di ponselnya berdering. Dia malas untuk mengangkatnya. Saat dia menatap ke depan, dia terkejut dan kaget saat melihat Nadia yang sudah berada di depannya secara tiba – tiba dan jarak mereka yang dekat, membuat dia hampir terjatuh dari kursi kebesarannya. Nadia menghela napasnya melihat nama Felix yang ada di panggilan atasannya. Berhari – hari dia menunggu telpon dari Felix, eh kok yang di telpon Felix malah si Lucas. Kan, memang asem. Dia menatap Lucas yang masih terkejut santai. “Pak, itu ada panggilan dari bos saya tuh!” “Nadia! Kamu ngapain ngagetin saya! Etika kamu ketuk pintu itu mana, malah kayak hantu aja datang tiba – tiba nongol!” omelnya. “Saya udah ketuk kok Pak, saya juga udah izin masuk tadi di luar. Mungkin aja memang Bapak b***k? Eh- nggak deng, maap Pak.” Lucas menghela napasnya. Kenapa dia hari ini siall sekali bertemu dengan orang – orang yang membuatnya darah tinggi melulu. Nadia, wanita itu tak mempedulikan omelan dari Lucas. Dia kembali mengintip ponsel Lucas, “Diangkat dulu Pak, sapa tau penting lo!” Lucas akirnya pun mengangkat ponselnya. “Halo?” Nadia sedia pasang kuping untuk mendengarkan apa percakapan antara Lucas dan juga kekasihnya itu. Memang rindu ini membuat dia gusar dan tak tenang. “Gue serahin sama Gladys aja deh. Lo sama Gladys kan sekarang?” “What?!! Gladys?!! Tunggu, tunggu, ini yang di maksud oleh Lucas Gladys Gladys mana? Atau, Gladys yang di maksud adalah mantan kekasih Lucas yang dahulu?” batin Nadia. “Oke, gue tunggu di email, oke!” Beep! Lucas menutup ponselnya, dan menatap Nadia yang sama menatap kearahnya. “Ngapain kamu lihat – lihat! Nguping ya!” “Iya- eh, nggak kok!” Lucas berdecih, “Yaudah, sana kamu pergi. Udah nggak ada perlu lagi kan?” Nadia menggerutu, “Iya – iya Pak, galak amat ih!” Nadia lalu membalikan badannya untuk keluar dari ruangan Lucas. Lalu, dia menutup pintu ruangan Lucas, dan kembali berpikir. “Felix, Tante Gladys? Nad, jangan pikiran negative dulu. Sapa tau itu orang yang beda. Oke?” Nadia berjalan pergi menjauh dari ruangan Lucas dengan perasaan yang bingung.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD