?
.
Agnes menatap siluet tepatnya lelaki itu, yang masih bermain pasir dan tertimpa mentari sore. Rambut gondrongnya yang basah hasil cipratan nakal ombak, kaos sleavless-nya pun basah hingga otot perut yang berjejer rapi, yang dia sebut perut bento itu tercetak jelas menyapa pandang Agnes. Agnes mengabadikannya melalui kamera ponselnya. Kenang-kenangan, begitu pikirnya.
Dari sekian banyak perbincangan yang mereka lakukan sepanjang perjalanan tadi, nyatanya tak membuat Agnes tahu siapa Janaka. Selain hanya mengetahui bahwa lelaki itu pemilik agen travel, juragan kos, dan pengrajin kayu. Karena memang Janaka hanya bercerita. Agnes butuh bukti riil. Agnes ingin tahu seperti apa kantor agen travelnya. Ada berapa orang pegawainya? Pokoknya yang begitu-begitu.
"Ngelamunin apa?" Janaka mencipratkan air laut ke arahnya.
"Ngebayangin kayak apa kantor agen travel lo, ada berapa yang kerja, trus kayak gimana bentukan maha karya lo dan serame apa kos-kosan lo?" cerocos Agnes tanpa jeda sampai-sampai Janaka menatapnya gemas.
"Serius pengen tahu?" tanya Janaka.
Anggukan antusias Agnes membuat Janaka tak yakin sebenarnya, mengapa ada seorang gadis yang begitu antusias mengetahui kehidupan seseorang? Agnes pun tak terlihat selugu gadis desa atau bocah SMA. Mata cerah berbinar salah satu tanda orang berwawasan karena dia memiliki kepercayaan diri.
"Buat apa? Kalo udah tahu mau apa?" kejar Janaka.
"Buat ngukur semapan apa seorang Janaka Wibawa. Kali aja--"
"Kakak, bunga mawarnya kakak, cuma sepuluh ribuan."
Dua orang bocah menghampiri dan menyela obrolan mereka. Kuntum-kuntum bunga mawar berwarna pink, putih dan merah itu berada dalam keranjang yang di bawa gadis cilik berkerudung dengan senyum tersungging manis di bibirnya.
Agnes seolah terhipnotis untuk ikut tersenyum juga.
"Adek kakak?" tanyanya penasaran.
Gadis berkerudung itu mengangguk,"Iya Kak, ini adek saya. Pulang sekolah terus bantuin Mama jualan bunga."
"Berapa ini harganya?" tanya Janaka.
"Sepuluh ribu, Kak."
Janaka mengeluarkan dompetnya, mengambil uang lima puluh ribuan lalu diambilnya tiga tangkai mawar putih.
"Kok tiga, Kak? Sekalian aja, soalnya nggak ada kembalian."
Janaka tersenyum mengusap kepala berkerudung itu.
"Kembaliannya buat kamu aja. Makasih bunganya ya?" ucap Janaka.
Semua itu tak luput dari perhatian Agnes. Terlepas dari perbuatan Janaka itu sebatas pencitraan atau bukan, tapi setidaknya hal manis itu cukup membuat Agnes mengubah persepsinya tentang lelaki itu. Hingga kedua bocah itu berlalu, Agnes masih memperhatikan Janaka.
"Kenapa?" tanyanya.
"Hm?" Agnes mengerjapkan matanya.
"Apa gue seganteng itu sampe lo kayak terpesona ngeliatin gue begitu?"
"Hm?"
Pecahlah tawanya. Benar-benar jadi hiburan tersendiri.
"Lo b***t atau apa sih?" kekehnya.
"Ih, bisanya ngatain aja."
"Lah habis gue ngomong apa balesnya hm? Hm? Kocak,"
"Dah sore, yuk. Kita cari penginapan lagi?" Agnes menepuk-nepuk bokongnya dari kotoran pasir.
"Boleh. Emh... Kita nggak perlu sampe Sabang kan?" tanya Janaka saat mereka berjalan pulang.
"Emang kenapa?"
"Bukannya lo pengen ke Singapur? Malaysia? Keliling Asia," sahut Janaka.
Agnes tampak berpikir, lalu,"Nggak kepengen banget sih. Cuma kalo lo nggak keberatan gue ikutin, why not? Kita jelajah Asia!"
"Ntar kalo lo kangen sama orang rumah, gimana?"
"Ya tinggal pulang," Agnes menggendikkan bahunya seenteng itu.
Janaka sampai geleng-geleng kepala akan keabsurdan gadis ini.
"Oh ya, ini mawarnya buat lo," Janaka memberikan tiga tangkai mawar putih itu.
"Wahhh... Gue dikasih mawar!" serunya excited.
"Kayak baru dikasih bunga aja, Sist!"
"Bukan gitu, baru lo yang kasih gue mawar putih." Agnes mencium ketiga mawar itu.
Glabelanya berkerut tak paham,"Emangnya lo suka dikasih bunga apa?"
"Nggak pernah dikasih sih, yang ngasihnya bingung duluan. Di rumah Mami punya mawar merah, punya melati, kenanga, kemuning, dahlia emh... Bunga apa lagi ya? Bakung, bougenvil, daisy, banyak deh. Mami emang suka bunga, udah kayak florist aja rumah gue ..." cerocos Agnes semangat empat lima.
"Jadi kalo ada yang mau kasih bunga, biasanya liat-liat dulu, di rumah yang nggak ada bunga apa? Ngakak bener orang-orang," imbuhnya.
"Oh gitu. Berarti pacar atau si Ignatius itu nggak pernah kasih lo bunga?"
"Jarang sih, dia emang cowok romantis tapi nggak pernah kasih bunga. Atau bisa jadi bunganya dia kasih ke sahabat gue," cetus Agnes kelabu.
"Oopps, sori. Gue ngingetin lo lagi ya?"
"Dan lo nikmati itu. Sialan!" dengkus Agnes sambil berjalan mendahului lelaki itu.
"Nes! Agnes!" kejar Janaka. "I'm sorry about it."
Ah, menyebalkan! Agnes bukan merasa terluka atau tersinggung tiap Janaka mengungkit Ignatius, hanya saja dia merasa kurang nyaman dan kesal setiap mengingat kelakuan lelaki itu dalam hidupnya. Dia seperti perempuan bodoh yang dibutakan cinta.
Fyi, you're a fool, stupid girl and blind. Yes you are ...
Agnes merutuki diri sendiri. Dia memang benar-benar bodoh. Membuang waktu dengan mengejar lelaki yang tak pernah mencintainya. Seperti gadis gila yang melempar dirinya pada sekumpulan pemabuk. Tak ada bedanya bukan?
"Nes, sori. Mulut gue emang seember itu, asal jeplak. Oke? Can you forgive me?" Janaka menyentuh bahu Agnes yang ternyata dapat disusulnya.
"Ka," Agnes berbalik. "Gue bodoh kan? Jatuh cinta, ngejar-ngejar orang yang nyata-nyata nggak pernah cinta sama gue, selama ini gue cuma nipu diri sendiri. So, apa yang gue punya? Sekarang gue nggak punya siapa-siapa..."
"Hei, lo dikelilingi banyak orang yang sayang sama lo, Nes. Orang tua lo, misalnya. Temen-temen lo," balas Janaka sambil menatap lekat gadis itu.
Agnes tersenyum simpul,"Gue pernah merasa berharga--"
"Salah. Lo selalu berharga," Janaka menangkup wajah Agnes.
"Lo nggak usah merasa kalah karena seorang Ignatius. Dia terlalu payah buat lo, yang kuat, yang tangguh. He's loser, not you."
Senyum di keduanya terbit, sorot mereka saling bertaut. Agnes mengangguk. Ada yang berbeda yang dia rasakan. Ringan dan bebas.
"Makasih," ucapnya.
Gue tahu sekarang siapa lo, Ka. Lo, cowok terhangat yang pernah gue kenal...
°
Janaka menyentuh dadanya sendiri.
"Busyet! Ngapain d**a gue cenat-cenut kayak gini? Kayak bocah nemu mainan baru..." gumamnya saat tiba di kamar inapnya.
Mereka sudah check-in di hotel sekitar pantai. Janaka senyum-senyum sendiri.
"Gue? Bukan gue banget!" cetusnya lagi.
Menghempaskan tubuhnya di atas kasur menatap langit-langit kamar. Pikirannya mereka sesuatu di sana yang membuat ia senyum-senyum lagi layaknya orang gila.
Entah sejak kapan dia mulai merasakan perbedaan itu. Dia sendiri tak sadar dengan semua perasaannya. Namun saat ia menatapnya seperti tadi, Janaka merasa memiliki dunianya sendiri. Dia pernah jatuh cinta, dia pernah menyukai seseorang dan menyayanginya tapi tak seperti ini. Ini terlalu kacau, ini terlalu bergelora. Atau efek pesona gadis itu yang memang lain dari yang lain?
"Agnes..." desisnya menyebut nama itu.
Ponselnya berdering. Panggilan video call dari seseorang yang membuatnya agak syok.
"Ngapain dia?" Janaka merejectnya.
Berkali-kali nomor itu menghubunginya tapi Janaka tak mau mengangkatnya ataupun menjawabnya. Bahkan sampai lelaki itu menembus alam mimpi.
Pagi buta kembali ponsel Janaka berdering. Seakan tahu saat ini lelaki itu terjaga. Lantas saat dia membuka chat, matanya melotot.
"Perempuan gila!" umpatnya.
Saat deringan ke sekian kalinya, Janaka terpaksa menerimanya.
"It's finish! Apa yang kamu inginkan kali ini?"
"Jaka," suara lirih yang Janaka dengar hampir meruntuhkan egonya.
Panggilan 'Jaka' yang perempuan itu sandangkan padanya, hanya padanya, itu yang ia janjikan dulu.
Bullshit!
"Kamu di mana?"
"Apa pedulimu?"
"I'll always care about you, Jak."
"Apa yang kamu inginkan?" dengkusnya.
"Aku ada di studio kayumu," sahutnya.
"Aku dalam perjalanan keliling Asia," balas Janaka.
"Jaka, aku kangen..."
Janaka melempar pandangannya ke jendela.
"Tapi aku nggak,"
"Jak, itu nyakitin banget."
"Aku nggak peduli dan nggak akan pernah peduli lagi. Oke? Bye,"
Janaka mematikan ponselnya. Dadanya naik turun. Kesal. Marah. Kecewa. Tak ada rasa sayang lagi yang tersisa di hatinya untuk perempuan itu.
Lelaki itu tersenyum miris,"Ternyata yang bodoh bukan Agnes aja, gue lebih bodoh dari dia."
~~
tbc