.
Obrolan mereka saat di kedai mie Khondo, berlanjut sampai di kamar Agnes. Sebenarnya tidak sengaja juga Janaka masuk ke kamar gadis itu, karena rencananya mereka akan mendiskusikan tentang tujuan mereka selanjutnya sambil menikmati kudapan khas Lampung lainnya.
Agnes sudah menghabiskan hampir seperempat Engkak. Kue berbahan dasar santan dan tepung ini begitu menyapa lidah Agnes langsung jadi favoritnya. Tiba-tiba ponselnya berdering. Tulisan Ibu Negara terpampang di sana. Janaka meliriknya seakan bertanya.
"Mami. Gue angkat dulu ya? Khawatir beliau pingsan," Agnes beranjak menjauh sambil terkikik.
"I-iya Mi..."
"Agness! Ya Tuhan, terima kasih... Mami lega banget. Di mana kamu? Papi udah cari kemana-mana ini. Sayang, pulang ya? Soal Tius, biar nanti kita selesaikan baik-baik. Mami juga nggak mau kalau dia nyakitin kamu kayak begitu," berondong Camelia dari sebrang.
"Mami ngomong apa nge-rapp? Hehe... Aku baik-baik aja, Mi. Aku lagi liburan, nikmatin waktu sendiri ditemeni bekantan ganteng tuh..." Agnes masih menyisakan kekehannya saat netra Janaka menyorotnya.
"Bekantan? Ganteng? Kamu lagi di Kalimatan?"
"Nggak Mi, pokoknya aku lagi main-main sama binatang. Percaya aku ya Mi? Aku baik-baik aja. Aku di sini nggak pernah mikirin dia lagi. Jadi Mami nggak usah ingetin dia terus, sampein maafku buat Om dan Tante ya Mi. Semoga kalian paham perasaanku," papar Agnes akhirnya serius.
"Si Tius udah Papi suruh pergi kok. Masa bodo kalo Mami mah, keluarganya mau kayak gimana juga, anak Mami nomor satu! Cepet cari ganti. Biar bisa pamer, kalo kamu juga bisa bahagia!"
"Ya ampun Mami, dipikir cari calon suami kayak beli gorengan gitu Mi?" Agnes tak habis pikir maminya seingin itu dirinya cepat menikah.
"Lah, Mami udah seneng sama karir kamu, kerjaan kamu juga menjamin. Tinggal nunggu kamu nikah, kasih cucu buat Mami. Beres!"
Agnes merotasi bola matanya, sang Mami dengan kecerewetannya yang hakiki, tak ada banding.
Agnes mendengkus,"Yang penting Mami kasih aku waktu. Transferin aja aku uang ya? Daripada aku jual mobil,"
"Tapi kamu ada di mana, Sayang?"
"Aku mau keliling dunia, Mi. Siapa tahu nanti aku bawa cowok bule, atau Oppa Song Jong Ki ke rumah..."
"Agness..."
"Pokoknya Mami nggak usah khawatir ya?"
Sesi curhat ibu dan anak itu pun diakhiri. Setelahnya Agnes duduk kembali di tempat semula, di sebelah Janaka yang masih memandanginya.
"Kenapa? Kangen? Pengen pulang?" tanya Janaka beruntun.
Agnes memberengut, wajahnya menekuk tertunduk. Janaka mencolek lengannya,"Pengen gue anterin pulang?"
"Ntar lo dikira calon suami gue," cicit Agnes.
Janaka tertawa terbahak sambil mengusak kepala Agnes gemas. Agnes cuma khawatir saja, kalau ia pulang saat ini juga pertahanannya akan hancur dan malah kembali ke pelukan Ignatius. Dia tak mau hal itu terjadi. Kembali pada Ignatius tak ada dalam kamusnya saat ini. Pria itu sudah mematahkan apa yang ia jaga selama ini, hatinya. Ignatius sudah membuat trauma. Agnes sudah lelah. Lelah menunggu, lelah mengejar yang tak pasti, yang sudah pasti pun digenggaman pun akhirnya lepas juga dan Agnes tak mau mengejar lagi. Sudah cukup.
"Ya nggak apa-apa, pulang langsung pemberkatan atau ijab kabul." Janaka masih tertawa.
"Ngaco!" cebiknya seraya mencomot sepotong Engkak lagi.
"Jadi namanya Tius ya?" terdengar serius nada Janaka.
"Hah?"
Janaka tersenyum,"Ya udah gue balik ke kamar. Sweet dream, night Cinderella..."
Agnes terpaku. Kenapa senyumnya manis gitu?
°
Cicit burung, desau angin beserta aroma embun dan arunika pagi yang membiaskan jingga terang di selaksa pemandangan hijau di kiri kanan jalan yang saat ini tengah Agnes nikmati. Mereka sudah berada di perjalanan menuju Palembang. Setelah membeli perbekalan yang cukup, mereka memutuskan untuk terus melanjutkan perjalanan. Walau pun perjalanan mereka berbeda dengan backpacker aslinya, tapi setidaknya jenis perjalanan mereka sama. Agnes pun tak ambil pusing dengan istilah itu meskipun Janaka sesekali meledeknya karena keliru menafsirkan.
"It's traveling, Sist." Begitu tandasnya.
Agnes pikir sama saja, hanya dalam istilah saja yang berbeda, sama-sama artinya perjalanan.
"Oh iya, next, kita hiking atau treking yuk! Gimana?" usul Agnes.
Janaka yang sedang menyetir menoleh sesaat, lalu menggeleng.
"Kenapa? Nggak mau?"
"Ya, bukan nggak mau, kebetulan gue belum pernah hiking atau mendaki ke daerah sini. Banyak yang masih perawan," sahut Janaka.
"Hah, perawan?"
Janaka terkekeh, dia sadar mungkin kata-katanya bagi gadis ini terdengar ambigu atau nyeleneh.
"Masih jarang dijamah manusia, Sist. Beda kalo gunung-gunung di Jawa," imbuh Janaka menjelaskan.
Agnes manggut-manggut,"Trus, kok lo bisa tahu macem-macem kuliner sini?"
"Ya tahu, pernah nyoba. Di Jakarta juga ada walau masih dalam porsi kecil, semacam pesanan gitu."
"Btw, cerita lo berarti bener, lo pergi karena tunangan lo selingkuh? Namanya Ignatius?"
Agnes berdecak,"Iya. Kan gue pernah cerita. Lagian ngapain sih dibahas? Gue juga nggak kepo soal lo."
"Ceritanya cuma sepintas, nggak detail. Pengen dong sesekali lo kepoin," balas Janaka.
"Males kepoin orang. Udah kapok, dikepoin, ujung-ujungnya sakit hati. Ya gue mana tahan," celetuknya ringan.
Janaka mengangguk, dia pikir Agnes akan cerita panjang lebar atau setidaknya curhat padanya atas apa yang terjadi. Namun lagi-lagi Agnes di luar perkiraannya. Gadis itu tak tertebak. Akhirnya Janaka memilih tak memperpanjangnya. Dia teringat 'seseorang' yang selalu membutuhkan dirinya, yang selalu menceritakan segala padanya. Seseorang yang membuatnya terbiasa mendengarkan dan hal itu ternyata tidak membuat seseorang tersebut mampu bertahan bersamanya.
"Gue punya usaha agen travel, trus beberapa kos-kosan di Bandung dan sebuah studio kayu. Gue bikin kayak perangkat, mebelair tapi unik, itu tergantung pesanan sih. Tapi gue nggak pernah bikin banyak, limited edition."
Serta-merta Agnes menoleh dan menelisik raut pria di sebelahnya itu. Tiba-tiba saja tanpa diminta Janaka mengatakan hal-hal tentang dirinya. Agnes hanya jadi pendengar. Dia ingin tahu sampai mana dan apa tujuan Janaka sebenarnya.
"Gue anak angkat keluarga Wibawa, makanya setelah Papa Mama angkat gue meninggal, gue keluar dari rumah itu dan gue sama sekali nggak mau ngerecoki adek-adek angkat gue. Gue bener-bener mandiri dan berdiri di atas usaha gue sendiri. Itu menyenangkan banget, Sist. Lebih tepatnya bangga, gue nggak perlu ngemis-ngemis ke saudara atau ke temen. Nggak ada dalam kamus gue," paparnya melanjutkan.
Lama kelamaan, Agnes makin antusias mendengarkan kisah seorang Janaka ini. Terbit rasa kagum dalam dirinya. Sambil kuliah dan memiliki usaha yang cukup mapan bukan hal yang mudah menurut Agnes, apalagi dalam membagi waktu. Agnes pernah begitu dan akhirnya dia keteteran.
Akhirnya mereka sama-sama menceritakan kisah masing-masing. Tentang hobi, sekolah dan banyak lagi. Keduanya pada dasarnya senang ngobrol dan mereka menikmati kegiatan tersebut.
"Gue sih masa paling menyebalkan sekaligus nggak bakal gue lupa itu masa putih biru. Karena pertama gue naksir cewek dan gue ditolak mentah-mentah. Hahaha...." Janaka senang melihat semburat rona pipi gadis di sebelahnya.
"Kalo lo? Hm, pasti si Ignatius itu ya cinta pertama lo..." tebak Janaka.
Agnes mengangguk,"Beberapa orang mengharapkan kalo cinta pertamanya adalah yang cinta yang terakhir. Tapi nyatanya cinta pertama itu nggak pernah ada yang berhasil."
"Kalo menurut gue, cinta pertama itu adalah guru. Guru yang ngajarin sakit, seneng, ngerasain berbunga-bunga, dan kalo buat cowok sebagai uji nyali, berani nggak lo cium cinta pertama lo?"
"Idih! Bocah udah pikirannya m***m ya?" Agnes memukul bahu Janaka.
"Loh, bukan m***m Sist! Kita emang gitu kok, nggak jauh-jauh deh kalo pengen punya pacar itu ya nggak lain demi gengsi sama pengen cium pacar." Janaka menyanggahnya sewot.
Agnes mengerling,"Itu mah situ aja emang udah korslet!"
Janaka tertawa melihat raut Agnes dan bibirnya yang cemberut.
"Kemaren nyokap nelpon itu nyuruh lo pulang?"
Agnes mengangguk,"Sambil gue minta transferan hahaha ..."
"Dasar. Trus kerjaan lo?"
"Gue kan bukan bos, gue mah rakyat jelatah, yang digaji tiap bulan. Untung belum gue acc buat resign," gadis itu mengikat rambutnya yang mulai amburadul diterpa angin. Leher jenjangnya terekspos sempurna.
Pemandangan yang tak dilewatkan Janaka sedetik pun.
"Cowok bodoh yang ninggalin lo," gumam Janaka.
"Apa?"
"Nggak, dah lewat." Cibiran Agnes yang didapat Janaka dan pria itu menyambutnya dengan senyuman.
"Lo harus bahagia, Cinderella..."
~~