.
Mata Agnes membola saat pintu itu terbuka. d**a telanjang, cukup kekar dengan perut layaknya kotak bento, membuat Agnes terpaku untuk sesaat. Lalu setelah menukarkan kembali tas ranselnya dengan milik Janaka, Agnes bersandar di pintu sambil mengelus d**a.
"Ihh... Itu d**a favoritnya emak-emak!" desisnya. "Bentonya ada berapa ya? Empat? Enam?"
Agnes lalu menyeret langkah ke kamarnya yang ada di depan kamar Janaka sedang pikirannya masih tertuju pada perut bento Janaka.
Apa? Perut bento Janaka?! Malulah sama umurmu, Agnes!
Tapi perut bento Naka memang menggoda!
Hei! Kau sudah lupa pada Ignatius? Serius?!
Ugh! Ignatius ke laut aja! Persetan dengan Ignatius!
Perut bento Naka...
Agnes memukul kepalanya,"b**o! Stop Agnes! Jangan pernah lo terlibat cinlok sama cowok modelan Janaka. Belum tentu juga dia orang baik-baik. Lagian, siapa tahu dia adalah pelarian. Atau masuk dalam daftar hitam pencarian orang. Hiyy!"
Agnes bergidik lalu mengeluarkan isi dari ranselnya. Dia mencari perlengkapan mandinya. Senjata untuk membuatnya selalu tampil cantik.
Mami, Papi...
Seketika hatinya galau. Diraih ponselnya berencana mengaktifkan data selularnya. Tapi tangannya hanya mengudara lalu niat pun urung. Disimpan ponselnya kembali di atas kasur. Cepat-cepat dia masuk kamar mandi, dia tak mau nanti berubah pikiran. Dan gagallah backpackerannya.
Kalau dipikir ulang, selama ini dia tak terlalu kepikiran soal Ignatius. Agnes baru sadar. Kemana perginya kegalauannya tentang Ignatius dan Tatiana? Kemana menguapnya perasaan marah karena terkhianati hingga membawanya sampai sejauh ini dari rumahnya yang nyaman?
Mengingat dulu, semasa SMA, betapa ia jatuh bangun mengejar sekadar perhatian Ignatius. Dan beberapa kali pula ia kerap di pandang sebelah mata. Padahal dirinya termasuk gadis yang supel, yang senang bergaul, berteman banyak walaupun ia tidak sepintar Tatiana.
Senyum sumir terulas di bibirnya.
Tatiana...
Ada perasaan perih merayap di hatinya mengingat sang sepupu. Mengingat betapa teganya sepupu dan calon suaminya itu bermain di belakangnya selama ini. Andai mereka jujur sejak awal, Agnes tak akan pernah memaksakan dan mengejar Ignatius. Menyadari dirinya yang ternyata jadi batu sandungan bagi hubungan mereka berdua, itu lebih menyesakkan.
Dulu, ketika beberapa teman sekelasnya terus melakukan pdkt atau sekadar tebar pesona pada gadis manis, supel dan ramah itu, Agnesia remaja malah tertarik pada Ignatius. Sosok ketua OSIS dan ya, seklise itu Agnesia menyukai seorang Ignatius. Karena Ignatius itu keren, ganteng dan berwibawa. Namun sayangnya, cowok satu itu judesnya luar biasa. Tapi Agnesia tak kenal menyerah.
"Pepet terusssss! Di pikir si Tius itu truk gandengan ya?" goda Shila, teman sebangku Agnesia, saat gadis itu kembali dengan tangan hampa.
Agnesia cuma mesem lalu mencebik, duduk sambil menghempaskan tubuhnya ke bangku.
"Nyerah deh..." Shila menyikutnya.
"Nyerah? Nggak bakalan! Nggak ada kamus buat nyerah. Sebelum ada tenda biru, janur kuning melengkung, juga cincin melingkar di jari manisnya, aku nggak bakal nyerah. Liat aja, someday, Ignatius bakal jadi milikku."
Shila geleng-geleng kepala. Shila salut pada kegigihan temannya itu. Namun sayang, salah kaprah. Jadi dia cuma sanggup menertawakan saja. Karena sudah tak mempan kalau sekadar memberi masukan. Agnesia sudah terkena penyakit bucin.
"Kamu yakin?"
"Why not? Selain untuk cita-cita, untuk cinta apa salahnya juga kalo kita pengen meraihnya? Di mana ada kemauan di situ ada jalan," sahutnya yakin.
"Iya deh.... yang dadakan hapal peribahasa. Terserah kamu aja Nes. Jangan mewek kalo ntar kamu ditolak mentah-mentah sama Ignatius," balas Shila.
"Nggak akan mewek karena aku nggak akan ditolak..." Agnesia terkekeh.
Entah dari mana dia mendapat keyakinan diri setinggi itu. Dia percaya diri, terlalu malah. Mungkin karena cinta pertama yang dia rasakan. Dan Ignatius adalah incarannya sejak di bangku SMP.
Agnesia tahu sepopuler apa Ignatius. Selain karena suaranya yang enak di dengar kala bernyanyi. Apalagi bila cowok ganteng itu bernyanyi di podium, aura kegantengannya kian bertambah. Agnesia makin jatuh terpesona. Dia terus melancarkan pendekatannya, karena selama mengenalnya, cowok itu tak pernah terlihat dekat dengan satu gadis manapun. Maksudnya tak ada yang istimewa. Jadi Agnesia pun semakin berharap dan terus berharap.
"Sist!" Ketukan pintu kamarnya terdengar dan melesapkan lamunannya yang mengembara ke masa putih abu.
"Ya?" Agnesia cepat membuka pintu kamarnya.
"Mau cari makan lagi nggak?" tanya pria yang kini berdiri menjulang di depannya.
"Maulah, eh, emang jam segini masih ada yang jualan?" balas Agnesia.
"Masihlah, ayo buruan."
Setelah mengambil tas slempangnya, dia mengekor di belakang Janaka. Karena terlalu fokus pada ponsel, dia tak sadar kalau Janaka berbalik dan menghentikan langkahnya. Alhasil, dia menubruk Janaka. Kepalanya terhuyung dan untung saja Janaka balik menarik tangannya agar tak terjatuh.
Syuutt...
"Eh?" Agnesia mengerjap. Sepintas dia merasa dejavu, seperti pernah melihat atau mengalami hal yang sama.
"Klise ya, kayak di drama-drama sweet gitu ..." cetus Janaka sambil menahan senyum.
"Sweet apaan?"
"Ya lagian nih Sist, jalan sambil liatin handphone. Simpen dulu kek, pegang kek, nggak usah sambil diliatin juga. Untung masih di sini, kalo udah sampe jalan raya, udah kena situ." Janaka mengepalkan ponsel di tangan Agnesia.
"Nah gini."
Agnesia meliriknya dengan bibir cemberut. Lagi-lagi, Janaka terlihat menahan senyum.
"Trus kita mau makan apaan?" tanya Agnes.
"Maunya apa?"
"Apa ajalah asal bukan batu!" Agnes mengibaskan tangannya dan berjalan mendahului pria itu.
"Perasaan sejak kita ketemu, lo laper mulu ya? Gue bikin laper ya?" kekeh Janaka.
Agnes mengerling tak menjawab.
"Boros."
"Heh, gue nggak minta lo bayarin makanan gue ya? Kalo lo nggak ikhlas, nggak usah ajak-ajak gue. Nyebelin!" Agnes menjejakkan dua kakinya dengan kesal lalu meninggalkan Janaka yang terbengong.
"Lah? Dia beneran ngambek gue katain boros?" Janaka cepat menyusulnya.
"Sist! Sori, sori bukan gitu maksud gue." Janaka meraih lengan Agnes.
"Basi! Udah sana! Gue bisa makan sendiri," tepisnya saat tangan Janaka meraihnya.
"I'm sorry, okay? Maaf," Janaka menangkupkan dua tangannya di depan d**a. Tampaknya serius tapi Agnes tak akan terkena prank lagi.
"Ya udah yuk kita makan mie khodon.
Lo pasti belum ngerasain kan? Ayo," tiba-tiba Janaka mengamit tangannya.
Walau masih cemberut Agnes terus mengikuti pria itu dari belakang. Lagian kalau dia nekad makan sendirian mana mungkin, dia tak hapal daerah seasing Tanjung Karang ini.
"Eoh? Jalan kaki?" pekiknya saat Janaka malah melewati tempat parkir. Mobilnya kan di parkir di sana.
"Yee... enak jalan kaki tuh, Sist. Sehat!" balas Janaka.
Agnes mencebik,"Udah malem dodol! Gimana kalo kita tersesat?"
"Ya nggaklah, tuh tempat makannya di situ. Deket kan?" Janaka menunjuk sebrang jalan tempat mereka kini berdiri.
"Mana?" Agnes celingukan.
"Ke dalem dikit. Ayo sini, pegangan."
"Ogah!" tepisnya lagi.
"Pegangan, Agnes. Bahaya, suka banyak anak-anak balapan liar di sini."
Agnes mendongak,"Iya?"
Mereka pun menyebrang. Benar juga, tempat makan mie Khodon yang kata Janaka terkenal di Lampung. Mereka memilih duduk agak di luar, sekalian nikmati jalanan di waktu malam.
"Lo mau yang digoreng apa kuah?"
"Enaknya?"
Janaka senyum,"Gini deh, nanti kita saling nyicip deh. Lo mie goreng, gue mie kuah. Gimana?"
Agnes mengangguk antusias. Obrolan ringan Janaka lancarkan mungkin berharap agar gadis itu tak ngambek lagi. Lalu akhirnya pesanan mereka datang dengan dua teh botol.
Mata Agnes berbinar,"Hm... Kayaknya lezato nih. Eh, tampakannya kayak mie tek-tek gitu ya Ka?"
Janaka mengangguk,"Bener. Cuma mie Khodon ini mienya dia bikin sendiri, bukan beli-beli ke pasar yang udah jadi."
"Ohh..." Kepala Agnes ikuta manggut-manggut. Sesendok mie goreng berhasil ia suapkan ke dalam mulutnya.
"Bumbunya beda dari mie tek-tek yang biasa gue makan sih, tapi enak. Lekker!" Agnes mengacungkan ibu jarinya.
Janaka tersenyum,"Nih cobain yang kuahnya. Sebelum gue pedesin,"
Agnes menyendok mie kuah Khodon milik Janaka.
"Hm," Agnes memejam."Lebih kerasa bumbunya yang kuah ya?"
Janaka tertawa kecil,"Jadi mau yang mana nih? Goreng apa kuah?"
Agnes melihat dua piring di depannya bergantian. Goreng? Kuah?
"Tukeran boleh?" matanya mengerjap.
"Boleh, lo pengen kuah?" Janaka mendorong piring mienya mendekat ke arah Agnes.
"Nggak apa-apa kan?"
"Nggak, makan aja."
Setelah memberinya sesendok sambal, Agnes memakannya dengan lahap. Bumbu mienya membuat lidahnya bergoyang. Yummy!
Sesekali Janaka memandangnya dengan senyuman. Agnes pikir pria itu tengah meledeknya dengan pikiran absurd tentu saja. Tapi ditepisnya toh seharusnya dia berterima kasih pada Janaka karena mengenalkannya pada mie Khodon ini.
"Besok kita makan gulai Taboh. Lo pasti suka!" cetusnya.
"Gulai Taboh? Apaan tuh?"
"Kayak gulai ikan ala Lampung, emh... bumbunya kayak sayur lodeh gitu. Pokoknya enak deh," kata Janaka.
"Kok gue jadi lapar lagi ya?"
Malam itu dihiasi gelak tawa Janaka. Dan tawa Janaka membuat Agnes terhibur. Sama-sama merasa terhibur walaupun keduanya sama-sama tak menyadarinya.
***