3. bersauh

1382 Words
. Agnes menatap lautan dengan ombak berdebur di tengah laut sambil menyeruput es kelapa mudanya. Rambutnya berkibar-kibar si tiup angin yang cukup kencang. Dia bersyukur untung dia membeli kacamata hitam, selain untuk penyamarannya juga berguna menepis angin yang menerpa wajah dan matanya. Gadis itu mendengkus saat dia merasa harus ke toilet. Ternyata penyakit besernya masih kambuh. Apa dirinya gugup sekarang? Tidak juga. Dia sangat menikmati alam, yang jarang sekali Agnes dapat meluangkan waktunya. Dia type gadis yang senang berkegiatan. Selama ini pun dia berkutat di belakang meja dan di hadapan komputer. Tak ada asik-asiknya tapi Agnes cukup menyukai pekerjaannya yang membuatnya larut tak ingat apa pun itu. Akhirnya dia cepat menuju toilet karena hajatnya itu. Beberapa orang memperhatikan karena penampilan Agnes yang sudah seperti teman Otan. Namun gadis itu cuek saja, tak ambil peduli dengan sekitar. Dia harus terbiasa bukan? Asal tak ada yang mengenalinya saja itu sudah cukup. Saat keluar dari toilet, seseorang sudah berdiri di dekat pintu toilet. Agnes pikir orang yang antri ke toilet karena ia pun tak begitu memerhatikan. "Cinderella tujuannya mau kemana sih?" tanya orang itu. Agnes mendongak, matanya membulat, bibirnya terbuka, tak percaya kalau Janaka kembali. "Hoaaa! Senangnya lo ikut!" serunya riang. "Gue udah takut tahu? Mikir apa ikut lo aja keliling Jawa? Tapi pasti ketahuan bokap lah," bibirnya mengerucut dan menjadi mimik favorit Janaka beberapa waktu ini. "Abisan gue nggak tega sih, gimana ya?" kekeh Janaka. "Ya mana ada yang tega ninggalin gue. Bener, bener... Seratus buat lo," "Narsis abis!" "Lah?!" "Dah, lo udah makan?" tanya Janaka, sambil menarik tangan Agnes. Mereka berjalan beriringan. "Baru makan roti sama es kelapa muda tadi," sahutnya. Janaka mengangguk,"Masih laper nggak?" "Emh..." Agnes berlagak bingung. "Ah, lama! Nih, udah gue beliin nasi Padang." Janaka menjejalkan satu kantong kresek di tangannya. Agnes tertawa renyah. Ya, Agnes sepertinya tak tahu, ini satu lagi yang membuat Janaka tiba-tiba lain  dari biasanya. Tawa lepas Agnes. Padahal ia tahu gadis itu pun tengah sama sakit sepertinya. Sama-sama ditinggal, dicampakkan. Janaka merasa dunia tak adil pada mereka berdua. Contohnya, Agnes adalah type setia, itu bisa Janaka simpulkan ketika pertama kali bertemu dengannya. Entahlah, mungkin insting Janaka lebih peka. Ternyata setia saja tak cukup, keluhnya dalam hati. "Ini gue masih mikir loh Sist, ini mimpi apa beneran, gue ambil risiko backpackeran lintas pulau Sumatra?" mata Janaka melebar. Agnes menyambutnya dengan tawa lalu mencubit pipi pria itu. Janaka meringis dan mengusap pipinya yang terasa panas. "Nah berarti bukan mimpi," Agnes masih tergelak. "Oiya, btw kita belum kenalan secara resmi ya? Gue, Agnesia Agatha. Lo?" Agnes mengulurkan tangannya. "Janaka Wibawa, panggil aja Naka." Janaka menyambut uluran tangan Agnes. Mereka habiskan waktu sambil mengobrol di atas dek kapal. Merasa kebetulan mereka memiliki kisah yang sama atau mungkin ada koneksitas yang terjadi saat mereka berjumpa. Entahlah, tapi mereka begitu larut dalam obrolan ringan dan tak nampak kesedihan di raut mereka. Sampai beberapa penumpang mengira mereka sepasang kekasih. "Cocoklah kalian. Saya kira kalian pasangan," komentar salah satu dari penumpang. "Pasangan patah hati, mbak." Janaka mengulas senyum. "Padahal nggak apa-apa loh Ka, kita ngaku aja pasangan. Daripada ribet ntar, ditanya-tanta mulu, kek acara infotainment." Agnes berkomentar setelah penumpang tadi berlalu. Ia meremas bungkus nasi Padang yang isinya yang sudah tandas lalu membuangnya ke tong sampah. Janaka memandang sekilas ke arah Agnes. Mimiknya menggambarkan ketidak-percayaan. "Nggak segampang itu kali," selanya. "Kalo gue males ditanya-tanya!" balas Agnes. Lalu mereka turun menuju tempat mobil mereka terparkir, karena kapal akan segera merapat di pelabuhan Bakauheni. "Kali ini biar gue aja yang nyetir," cetus Janaka sambil mengambil alih stir. Agnes nyengir,"Eh? Tengkyu ya Bro..." "Ini lo serius pengen backpacker-an sama gue?" Sekali lagi Janaka menanyakan hal yang sama seperti waktu lalu. Agnes mengembuskan napasnya, menatap Janaka gemas dengan bibir di katup rapat dan menipis. Kedua tangannya terangkat seperti ingin meraup wajah Janaka. Pria itu memundurkan wajahnya dengan raut heran. Lalu Agnes justru mengembuskan napasnya kembali sambil merotasi kedua maniknya. "Harus berapa kali gue yakinin elo, Pangeran sendal jepit? Kalo gue se.ri.us!" tekannya dongkol. "O-oke," Janaka menggendikkan bahunya lalu kedua tangannya di atas stir. Mulai menstater, karena yang lain pun mulai menstater kendaraan mereka. Satu persatu kendaraan mulai keluar. Agnes mengembuskan napas lega. Dia membuka jendela mobilnya. Tahu begitu Janaka mematikan AC. "Nggak pake AC nih?" tanya Janaka. Agnes menggeleng,"Nggak usah. Enak gini, lebih seger." Janaka mengulum senyum melihat  Agnes belum melepas kacamatanya. Dan ajaibnya gadis itu sudah terlelap! Padahal baru saja dia menyahut.  Janaka dibuatnya geleng-geleng kepala. "Bener-bener abnormal...." gumamnya sambil terus menyetir. Lalu menyalakan tape dengan volume kecil. "... Kini 'ku menemukanmu Di ujung waktu 'ku patah hati Lelah hati menunggu Cinta yang selamatkan hidupku … Kini 'ku telah bersamamu Berjanji 'tuk sehidup semati Sampai akhir sang waktu Kita bersama 'tuk selamanya Sampai akhir sang waktu Kita bersama 'tuk selamanya..." (Seventeen) ° Janaka menatap sepasang mata yang masih tertutup itu. Tadi dia melepaskan kaca mata hitamnya. Janaka masih mengamatinya. Bulu matanya yang lentik, hidung yang bangir dan bibirnya yang kecil. Janaka melempar pandangan ke arah lain. Namun, seolah Agnes memiliki magnet yang membuat Janaka ingin memandanginya. Kulit gadis itu memang tidak seputih gadis-gadis yang dikenalnya. Namun gadis ini berkesan manis dan ayu. Lagi-lagi Janaka mengulum senyum. Mobil telah berhenti sejak seperempat jam yang lalu. Dan Janaka masih bergeming, enggan untuk sekadar membangunkan gadis itu. Mungkin karena suara azan Maghrib itulah, Agnes terbangun. Matanya mengerjap-ngerjap lalu memicing mengedar ke sekitar sambil menegakkan tubuhnya. "Hoamm... Di mana kita, Ka?" tanyanya. "Hm ... Tar, baru sampai Tanjung Karang." "Udah jauh?" "Ya lumayanlah," Agnes memang buta peta. Tanjung Karang itu di mana, entahlah dia tak tahu. Gadis itu mengangguk-anggukan kepalanya,"Oh, udah sampe Padang kali ya?" Sontak tergelaklah tawa Janaka, tapi segera dia membungkam mulutnya sendiri, mengingat azan masih berkumandang. Agnes tersipu, sadar jawabannya salah. "Masih Lampung lah Sist. Gue bingung soalnya, takut lo pengen ke mana dulu gitu. Siapa tahu lo mau ke rumah temen misalnya," kata Janaka. "Ck, gue nggak ada temen atau saudara daerah luar Jawa. Kecuali calon suami gue yang nggak jadi, dia orang Manado." Janaka manggut-manggut,"So, kita lanjut ke mana nih?" "Cari makan kali ya? Gue laper..." Agnes meraba perutnya dengan raut memelas. Janaka menahan senyumnya,"Oke, makan apa nih? Sekalian kita nyari tempat nginep atau mau lanjut jalan terus?" "Enaknya gimana? Eh tapi lo udah dari tadi nyetir ya?" Mendadak Agnes menghadap Janaka. "Hah?" "Kita cari tempat istirahat aja deh," usul Agnes. "Hah?" "Udah jalan," titahnya. Janaka cuma geleng-geleng kepala. Setelah mencari-cari akhirnya mereka menemukan penginapan kecil setara hotel melati gitu. "Dua kamar?" Janaka mengangguk. "Kita harus hemat, Naka." Agnes agak mendekat ke arah pria itu. "Udah, nggak apa-apa, murah kok." Janaka mengibaskan tangannya. "Ck, bukan soal murahnya, perjalanan kita masih panjang!" geram Agnes, inginnya dia tonjok pria itu. Janaka mengerling,"Penginapan kayak gini, tempat tidurnya kecil. Please, gue lagi pegel, pengen nguasain kasur sendirian aja. Oke?" Agnes merengut,"Tapi..." "Gue yang bayar," putus Janaka. Lagi pula bukan masalah pegal saja, jantungnya bisa-bisa pegal beneran, harus banyak-banyak ngerem dan sadar diri kalau dirinya kini tengah bersama seorang perempuan. Perempuan yang sejak pertemuannya kemarin lusa sudah mencuri atensinya. Not, bukan jatuh cinta, sekadar tertarik, Janaka berusaha menyanggahnya dalam hati. Tertarik. Itu saja. Dan Janaka tak ingin merusak koneksitas yang ada. Biarlah semua sesuai alur. Toh perjalanan mereka masih panjang. Seperti janjinya pada diri sendiri, kalau dia akan menemani gadis itu kemana pun dia ingin pergi. Ada siluet lain yang diam-diam Janaka rindukan. Jangan jadi b******k, Janaka! Gadis itu cuma butuh suasana baru. Nggak lebih! Lama Janaka termenung, duduk di tepi tempat tidurnya. Seperti perkiraannya, bahwa tempat tidur itu kecil. Dia saja rebahan di situ berasa di tempat tidur liliput. Janaka mengurai senyum sambil mendengkus. "Gimana kalo kita sekamar, Nes? Ngalah tidur di atas tiker lagi? Etdah, ck!" gumamnya sambil bangkit menuju kamar mandi dengan bertelanjang d**a. Belum juga masuk, pintu kamarnya sudah diketuk. Dahinya mengernyit, tapi tak urung dia membuka pintu. N amun seseorang di depannya kini hanya berdiri sambil melotot. "Kenapa, Sist?" "I-itu..." "Eh?!" Janaka beringsut ke belakang pintu. "Ada apaan? Orang mau mandi juga," cetusnya antara kaget dan kesal. "Oh, kayaknya tas kita tertukar deh, Ka." "Oh ya? Ya udah, ambil aja sono. Tuh," Janaka menunjuk tasnya yang di dalam. Agnes masuk sambil menarik tas ranselnya. Lalu di tukarkan dengan milik Janaka. "Thanks ya?" Agnes melambaikan tangannya. "Hm..." angguk Janaka sambil menutup pintu kamarnya dengan cepat. Janaka tak mau berlama-lama dengan Agnes, bisa bahaya! ~~
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD