2. Merapat di Hotel

1267 Words
. "Kenapa belum tidur?" Suara bariton itu mengejutkan Agnes yang masih melamun. Sejak tadi Agnes memang gelisah. Memikirkan, apa perbuatannya ini akan berdampak buruk? Apakah yang dilakukannya sudah cukup bijak? Bagaimana kedua orang tuanya? Sedihkah mereka? "Masih sedih?" tanya Janaka. "Hm," Agnes hanya bergumam. "Lo aneh ya Sist. Cewek kalo sedih di sini pasti udah banyak tisu bertebaran. Ingus semua tuh," maksud Janaka ingin menghibur. Agnes menoleh,"Pemborosan tahu. Mending pake saputangan, trus cuci. Keringin, pake lagi, cuci lagi. Kelar." "Bhak...ha...ha..." Janaka tertawa sampai terpingkal. "Wah, bener-bener lo Sist, absurd! Ya udah, gue jadinya tenang, nggak bakal jadi tersangka pembunuhan," masih kelakarnya. "Sebelum gue dibunuh, gue bakal bunuh duluan tuh orang. Udah tahu gue lagi pengen makan orang!" debas Agnes. Janaka menahan tawanya,"Eh, lo nggak ada baju ganti ya?" Agnes mengangguk lemah. Janaka menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Kemudian ia membongkar ranselnya. "Lo bisa pake ini dulu, kalo lo nggak keberatan. Gih, mending mandi, keburu malem..." ujar Janaka. Agnes tanpa rasa sungkan mengambil kaos dan celana training milik Janaka. "Ini juga udah malem, dodol!" Janaka hanya geleng-geleng kepala mendapat sahutan Agnes yang ketus namun terkesan akrab itu. "Emh... Dasar cewek abnormal," gumamnya. Sepuluh menit kemudian, Agnes sudah keluar dari kamar mandi dengan pakaian lengkap. Dan menemukan Janaka masih asik main game. Tampang cowok itu memang tak ada tanda-tanda psikopat atau pun orang jahat. Namun meski begitu, tak ada salahnya dia waspada. Kejahatan terjadi karena ada kesempatan, bukan? Orang baik bisa mendadak jadi orang jahat kok. Kira-kira begitu pemikiran Agnes saat ini. "Tadi gue pesen nasi goreng, siapa tahu lo masih laper," kata Janaka, melirik dua piring nasi goreng di atas nakas. "Eoh? Emang gue masih laper. Tahu aja. Thanks ya?" Agnes mengambil sepiring lalu duduk bersila di atas tempat tidur. Janaka masih memerhatikannya. Sudut bibirnya tertarik ke atas. Cewek itu seperti benar-benar tak merasa takut sedikitpun. "Emang kalo lagi sedih bawaannya laper ya?" Agnes mengangguk, mulutnya penuh hingga pipinya gembung. Pemandangan yang bagi Janaka adalah semacam penghiburan di sela ketemaraman hatinya. "Sist, lo beneran nggak takut sama gue?" iseng tanya Janaka, kali ini ia pun ikut mengambil sisa piring nasi goreng di atas nakas. "Khawatir ada sih. b**o aja kalo gue percaya lo seratus persen!" sahutnya. "Nah terus?" "Secara ya, sekarang ini gue kelaperan, gue dalam misi pelarian. Ketiban musibah kayaknya udah pasti. Tuh, higheels gue patah. Itu udah musibah buat gue," selorohnya. Janaka menanggapinya dengan senyuman. "Yang lo pake tadi itu baju pengantin? Bener-bener kayak Cinderella, ampun dah! Sepatu patah, gaun compang-camping, dah mirip!" kekehnya seolah mengejek. Agnes menggeleng,"Hari ini gue tunangan, dua minggu lagi merit. Tapi ada insiden terbongkarnya aib tunangan gue. Ya udah, babay deh." Janaka manggut-manggut walau masih menyisakan tawa kecil. "Gue terlalu pede kalo dia cinta sama gue, ternyata dia cintanya sama sepupu gue. Dan mereka saling mencintai. Nih d**a kayak di tonjok, tahu nggak?" lanjutnya. "Daripada gue ngamuk di sana, mending gue pergi. Berasa gue yang jadi pelakornya. Males gue jadi nyamuk," sahut Agnes cuek. "Tapi kalo perginya cuma kayak gini, nanggung Sist. Kenapa nggak sekalian yang jauh?" tanggap Janaka. "Ini baru pemanasan, Bro. Eh, lo kan backpacker pasti tahu tempat-tempat yang oke. Setelah ini lo mau ke mana?" Agnes memandang Janaka antusias. "Menyusuri pulau-pulau. Berhubung kita sekarang berada di ujung pulau Jawa, gue bakal terus jalan ke arah timur." Bibirnya mencebik,"Kenapa nggak nyebrang aja? Mulai dari pulau Sumatera terus ke sanaaaa, sampe Aceh. Nyebrang ke Malaysia. Kita keliling Asia kan seru!" "Seru, mahal iya Sist!" Agnes tertawa,"Sust-sast-sist! Gue Agnesia, punya nama gue. Heran! Ya kita kerja kek, atau kuras aja tabungan gue. Sekali-kali gue pengen out of the box, keluar dari cangkang gue dan liat dunia. Asik nggak tuh?" Janaka ikut tergelak dan bertepuk-tangan. Agnes memang benar-benar ingin pergi. Kalau ia masih di dalam negeri sama saja bohong. Orang-orang kepercayaan papa dan keluarganya pasti berhasil menemukannya. Sedang ia saat ini dan beberapa hari ke depan tidak ingin ditemukan. Dua piring nasi goreng itu ludes. Janaka masih menilik gadis yang duduk di seberangnya sambil scroll sana-sini lalu mengetikkan sesuatu di ponselnya. Janaka belum pernah bertemu gadis model Agnes. Begitu apa adanya, natural, tapi Janaka sempat berpikir bagaimana bisa gadis seperti itu ditinggalkan? Dan gadis itu tak memikirkan tentang diet, berbeda dengan gadis-gadis yang Janaka kenal. Yang selalu heboh tentang diet, merawat diri, dan mereka biasanya tak pernah makan di atas jam 10 malam seperti ini. Janaka menahan kedutan di kedua sudut bibirnya. "Eh, gimana dong? Berani nggak?" tanya Agnes random. "Apaan?" "Ajak gue backpacker-an! Tadi lo udah ajak gue loh, nggak aci ya... Jangan ingkar lo," Agnes nunjuk wajah Janaka. "Gue nggak pernah ajak orang asing," cetus cowok itu. Agnes mencibir,"Ya sekarang 'kan bukan orang asing lagi. Pokoknya gue ikut! Titik!" "Jadi cewek tuh nggak boleh banyak tingkah & banyak minta plus maksa," timpal Janaka. "Hah? Bukannya cowok yang suka kayak gitu? Udah punya pawang masih aja nyari gebetan, bukannya itu banyak tingkah ya? Seneng minta di mengerti saat sibuk, minta jatah, dan minta-minta lainnya, pake maksa lagi!" berondong Agnes, makin merepet. Janaka mendengkus. Salah cari lawan dia, lalu merotasi matanya. "Oke, oke. Trus Cinderella tuh mau ke mana? Gue nggak mau ya direpotkan ntar di perjalanan," dengkusnya. Agnes tersenyum sambil bertepuk tangan,"Kayak yang aku bilang, kita abis ini bisa nyebrang dan mulai deh backpacker-annya." "Nyebrang? Rencana gue kan mau ke timur!" "Mending ke Barat, atau ke Utara atau ke Selatan." Janaka mengembuskan napasnya ke atas, kesal. Dia menyesal di awal pakai basa-basi nawarin segala. Akhirnya dia harus kerepotan sendiri. "Oke, kita lanjut nyeberang." "Yeeeeaayyy!" Agnes mengangkat sebelah tangannya yang terkepal ke udara. Serius lo Ka? Janaka mengangguk, mengiakan pada dirinya sendiri. Lagi pula dirinya tidak akan merasa rugi, karena dalam perjalanannya kali ini dia memiliki teman untuk berbagi. ° Sebelum mereka memutuskan pergi, Agnes membeli beberapa potong pakaian dan keperluan lainnya, plus satu ransel seperti milik Janaka. Cowok itu menilik penampilan Agnes dari kepala sampai kaki. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya. Sempurna! "Topi, kacamata hitam, jaket, tas ransel, celana pendek dan sepasang beebop? Kayak yang mau ke hutan, tahu nggak?" Meski terlihat sempurna, tetap Janaka rasanya senang kalau menggoda gadis itu dan berkata sebaliknya. "Not bad kan?" Agnes memutar tubuhnya di depan Janaka. "Terserah deh, gue bukan tipe fashionable!" Agnes mencebik, bibirnya mengerucut, yang membuat Janaka tanpa sadar merasa gemas. "By the way, ini lo serius mau ikut gue? Lo nggak kenal gue, Sist!" Agnes memutar bola matanya lagi dan lagi. Perasaan sejak mereka check-out dari penginapan, Janaka terus menanyakan hal yang sama. "Yaa... gue cuma pengen yakinin lo aja, perjalanan yang kita tempuh mungkin lo atau kita nggak tahu sama sekali medannya kayak gimana." Janaka menatap Agnes. Helaan napasnya membuat Janaka menegakkan tubuhnya yang semula hanya menyandar di kap mobil. Beberapa langkah lagi di depan sana, mereka sampai di peron dermaga pelabuhan. "Gini deh, kalo semisal lo nggak rela, nggak ridlo gue ikut, ya udah, kita pisah di sini. Tujuan lo ke timur kan? Kalo gue ... Gue pokoknya pengen jauh dari pulau Jawa," kali ini nada bicara Agnes terdengar serius. "Bukan gitu maksud gue--" "Makasih udah nolongin gue. Silakan turun dan sori gue nggak bisa anterin lo ke terminal," ucapnya sambil mandang lurus ke depan. Apa boleh buat dirinya dalam misi pelariannya ini harus melangkah sendirian. Lagi pula apa haknya mengajak orang asing untuk ikut hanyut menderita bersamanya? Janaka dengan perasaan tak menentu memilih turun. Dia ragu dan takut meninggalkan gadis itu melanglang menyeberang sendirian menuju pulau yang mungkin tak dikenalnya. Dia udah gede, udah legal, bukan bocah yang harus lo perhatiin. Ngapain nguras energi buat sesuatu yang nggak penting? Janaka menatap body Honda City itu yang mulai menjauh dan perlahan perut kapal itu menelan Honda City beserta isinya. ~~ tbc
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD