.
Beberapa jam sebelumnya...
"Aduhhhhh... Cantiknya anak Mami, gimana nanti kalo jadi pengantin..." Camelia mencubit ujung hidung Agnes.
"Mami..." Agnes tersipu.
"Mami nggak sangka deh akhirnya Tius mau nikahin kamu, Nes. Syukurlah dia mau membuka hatinya," ujar Camelia.
Agnes tertegun, merasa tersentil. Ia ingat bagaimana memperjuangkan Ignatius. Semua usaha pasti ada hasilnya. Agnes sangat mencintai Ignatius. Namun, entah dengan lelaki itu sendiri. Adakah posisi hatinya telah bergeser, terisikan olehnya?
"Keluarga Rorimpandey sudah datang," Ardan melongok dari balik pintu.
Ignatius Rorimpandey. Cowok tinggi, ganteng berwajah oriental yang sudah Agnes perjuangkan mati-matian. Agnes tersenyum bahagia karena sebentar lagi ia akan bersanding dengan Ignatius. Cowok yang dikejarnya tanpa kata menyerah.
Ignatius menyematkan cincin yang bertahtakan berlian di sekelilingnya itu di jari manis Agnes. Tepuk tangan riuh menyambut calon pasangan pengantin itu. Agnes dengan gaun pink silk berenda dengan potongan neck silang dan kerutan dikedua bahunya, nampak cantik dan lebih muda dari usia sebenarnya.
"Yus, aku ke toilet dulu ya?" pamit Agnes.
"Hm, perlu kuantar?" godanya.
Agnes mengedipkan sebelah matanya,"Boleh, tapi nanti setelah kita berikrar di depan altar."
Keduanya terkekeh. Agnes agak terburu-buru menuju toilet.
"Nes, lo liat Ana nggak?" Ray, sepupu Agnes mencegatnya di pintu toilet.
"Tadi di depan. Awas, gue kebelet nih."
Beberapa hari ini dirinya memang buang air kecil terus. Entahlah, mungkin karena udara dingin. Penyakit lamanya ternyata kambuh di saat tak terduga. Setelah usai dengan hajatnya, ia buru-buru keluar. Namun, suara decakan yang ia dengar sungguh membuatnya terganggu. Perlahan ia mengintip dari balik dinding yang jadi penyekat. Tampak dua manusia yang tengah berpagutan. Tangan si perempuan melingkar di leher si pria dan sesekali meremas rambutnya. Agnes tersipu, merasa malu hati melakukan hal konyol seperti itu. Mengintip orang yang tengah berciuman.
"Apa yang harus kulakukan, Ana? Aku nggak bisa jauh darimu. Aku mencintaimu, bukan Agnes."
Langkah Agnes sontak terhenti ketika namanya disebut. Dahinya mengernyit, keringat membasahi pelipisnya kini. Sepasang onyx sekelam malam itu bergulir kesana-kemari. Seolah awas memastikan kira-kira hal apa lagi yang akan ia dengar. Hatinya berdegup kencang.
"Aku tahu. Tapi Agnes, dia mencintaimu, sangat mencintaimu Yus," balas Tatiana.
"Apa nggak bisa kita bersama? Kenapa nggak bisa, Na?" terdengar lirih suara Ignatius di rungu Agnes. Begitu tak berdaya dan menyedihkan.
Agnes memejamkan matanya, ingatannya memutar slide demi slide perjuangannya mendekati Ignatius hingga lelaki itu datang tiba-tiba melamarnya. Masih terngiang apa yang diucapkan Ignatius padanya.
"Agnes, apa yang kamu lakukan selama ini, perhatianmu, semuanya membuatku berpaling dari duniaku. Makasih udah memperjuangkanku dengan cintamu..."
Dan kini, lelaki itu di sana, mendekap, mencumbu sepupunya. Agnes pikir Tatiana dan Ignatius hanya dekat sebagai sahabat semata. Mengingat mereka telah bersama sejak sekolah menengah pertama.
Aku yang bodoh dan g****k tak peka menyadari kedekatan mereka. Mana ada persahabatan tulus antara laki-laki dan perempuan? Terlalu naif kamu, Nes.
Agnes menahan pilunya. Ia ingin tahu apa lagi yang akan mereka umbar.
"Aku sayang Agnes, Yus. Ini kebersamaan kita terakhir kalinya," ujar Tatiana.
Ignatius menggeleng, menangkup wajah di depannya. Ignatius kembali meraup bibir gadis itu. Kemudian melekatkan kedua kening mereka.
"Ana," panggil Agnes sengau.
Betapa terkejutnya kedua orang itu. Terlebih Tatiana. Raut pucat segera menggantikan wajahnya yang sempat merona saat di cumbu lelaki di sampingnya.
"Agnes?"
"Sejak kapan?"
"Um... M-maksudmu? Oh, tadi Tius mencarimu," sahut Tatiana.
"Sejak kapan kalian bermain di belakangku?" tanya Agnes, kedua tangannya mengepal.
"Nes, i-itu nggak kayak yang kamu liat. Ka-kami--"
"Aku udah liat dan denger semua kok. Jadi nggak ada gunanya kalian cari alasan atau pembenaran atas perbuatan kalian," cetus Agnes.
Ignatius diam sembari menatap gadis yang kini tengah mondar-mandir di depan mereka, setelah ia mencoba menjelaskan duduk persoalannya.
"Yus, cukup nggak perlu ada sandiwara lagi. Ini kukembalikan, aku nggak mau dapet sisa, barang bekas, atau pun sesuatu yang bukan milikku. Berikan pada yang berhak," Agnes mengepalkan cincin itu di telapak tangan Ignatius.
"Nes, maksudku bukan kayak gini," sela Ignatius.
"Lantas kayak gimana? Permainan kalian mungkin akan terus berlanjut saat kita udah nikah atau bahkan sampai kita punya anak!" Agnes menggeleng kencang.
"Kami nggak akan sejauh itu, Nes." Tatiana mengimbuh.
"Ana, aku tahu kamu kayak gimana. Aku juga sayang sama kamu. Tapi ini nggak benar Ana. Kenapa kamu nggak bilang kalo kalian udah menjalin hubungan?" tatap Agnes.
"Kamu terlihat begitu berjuang dan sangat mencintai Ignatius. Mana aku tega, Nes?"
Agnes tersenyum miring,"Lalu sekarang ini apa? Kalian bermain di belakangku, mengharapkan kalian bisa bersama. Itu yang disebut nggak tega?"
"Nes aku--"
"Udah Na, udah cukup."
"Agnes, kita nggak mungkin membatalkan semua ini. Nggak mungkin Nes!" seru Ignatius.
"Maumu apa, Yus? Menikahi kami berdua? Nggak tahu diri!"
"Bukan! Kita lanjutkan rencana kita."
"Lalu Ana?"
Ignatius menoleh sekilas ke arah Tatiana yang tengah menatapnya penuh harap. Ia bungkam.
Agnes tersenyum,"I have to go."
"Nes, Agnes!" cekal Ignatius.
"A trust, Yus! Aku milih mundur,"
"Nes!"
Agnes bergegas setengah berlari ke kamarnya. Di sambar tas selempang yang isinya selalu komplit itu.
"Agnes! Ada apa?"
Gedoran di daun pintu tak dihiraukannya. Agnes hanya meliriknya sebentar. Cinta yang ia kejar ternyata lebih memilih cinta lama. Mungkin inilah kekuatan cinta lama. Tidak. Kedua sejoli itu bukan cinta lama. Agnes menggelengkan kepalanya tak habis pikir dengan yang dilakukan Ignatius terhadapnya.
"Agnes! Buka pintunya Nes! Kita perlu bicara," itu suara Ignatius.
Gadis itu mendengkus, apa lagi yang akan Ignatius bicarakan? Agnes sudah siap pergi. Dia butuh ruang dan waktu untuk menyepi saat ini.
"Nes?" wajah Ignatius yang terlihat begitu Agnes membuka pintu.
Ardan dan Camelia menatapnya khawatir.
"Aku batalkan pertunangan ini!" kata Agnes.
"Apa?!"
"Nes! Nggak ada pembatalan," elak Ignatius.
"Kenapa nggak? Daripada nanti ribut-ribut, nggak pantes didenger orang," sanggah Agnes keras kepala.
"Di undur oke, batal no!" Ignatius mencekal lengan Agnes yang segera dihempasnya.
"Apa alasannya, Sayang?" Ardan mendekat.
Agnes menatap mata tua itu dengan nelangsa.
"Kami nggak saling mencintai, Pa. Please, jangan teruskan. Cukup sampai di sini."
Ignatius menggeleng kencang,"Nes! Jangan konyol. Kita saling mencintai!"
Agnes tak menggubris apa yang Ignatius katakan. Ia sudah muak! Ia turun dari kamarnya dengan tergesa yang masih diikuti Ignatius dan racauan pertanyaan dari Ardan dan Camelia.
"Maafkan Agnes, Om, Tante..." pamitnya pada orangtua Ignatius.
"Agnes!" tiba-tiba Ignatius menyambar lengannya.
Rahangnya mengetat dan kedua maniknya menatap penuh amarah.
"Nggak semudah itu," imbuhnya.
Gadis itu tertawa miring,"Siapa bilang? Mudah kok! Kamu sekarang tinggal ganti calon pengantin perempuannya. Tatiana."
Semua orang di sana tampak terkejut. Apalagi Camelia. Memangnya ada apa dengan Tatiana? Semua yang hadir seolah berseru hal yang sama di pikiran dan hati mereka. Karena Tatiana salah satu keponakan favoritnya.
"Tatiana?" ulang Camelia.
"Tapi baguslah, ketahuannya sekarang. Kalo nanti-nanti, bisa rugi bandar aku. And sorry to say, I have to go," repihnya sambil terus berjalan keluar.
"Agnes, bukan begini caranya. Baik, aku yang akan pergi dari hidup kalian. Tolong, aku menyayangimu dan Mama Camel. Jangan pergi, jangan batalkan. Jangan biarkan aku makin merasa bersalah..." Tatiana mencegatnya di depan pintu.
"Ana, aku harus pergi. Aku nggak mau memandangmu sebagai saudara yang nggak tahu diri. Aku masih saudara dan sahabatmu. Dan sekarang aku butuh waktu. Semoga kalian bahagia," Agnes melepas tangan Tatiana dari cekalannya.
"Agnes," lirihnya sambil menangis.
Agnes bergegas masuk ke dalam mobilnya. Melajukannya seperti orang sinting yang baru melarikan diri dari rumah sakit jiwa!
~~
tbc