Hari Berduka

1309 Words
Tak terasa tahun demi tahun telah terlewati oleh Rajena dan Hayissa tanpa ditemani kedua orang tuanya. Rasa sakit dan beratnya menjalani hidup perlahan mereka lalui dengan rasa lelah dan kepasrahan. Semuanya tidak ada yang berubah, mereka masih kesusahan seperti dulu. Enam tahun berlalu dan tak ada yang berubah, mereka masih berusaha untuk saling menopang satu sama lain. Herliza yang usianya semakin renta sekarang sedang sakit keras. Hayissa sudah berumur tujuh belas tahun, gadis itu duduk di bangku kelas 2 SMA. Adik Rajeno itu bersekolah di sekolah favorit yang ada dekat Desa Kasturi yang dulu pernah dibicarakan oleh Rajeno dan Pak Reza. Meski biaya di sana mahal, Hayissa mendapatkan beasiswa dari donatur sekolah sehingga ia bisa bersekolah di sana. Sedangkan Rajeno sekarang sudah memiliki pekerjaan yakni sebagai seorang pelayan di sebuah kafe yang direkomendasikan oleh Arka. Hayissa membantu sang nenek untuk bersandar di tempat tidurnya karena ini sudah waktunya untuk makan. "Ayo Nek, Hayi bantu dulu ya. Biar Nenek makan dulu," ujar Hayissa. Herliza hanya menuruti apa yang dikatakan oleh cucu perempuannya itu. Dengan telaten Hayissa menyuapi sang Nenek. "Nenek kangen Kakek," lirih Herliza secara tiba-tiba. Hayissa yang mendengar itu hanya bisa menatap sang Nenek dengan iba karena tak ada hal yang bisa ia bantu. Hayissa saja tidak tahu kakeknya di mana, bahkan tak tahu kakeknya siapa dan bagaimana. Hayissa menggenggam tangan Herliza, "Nek, kalau Hayi bisa udah dari dulu Hayi cari Kakek." "Kakek udah gak ada," ujar Herliza. Dada Hayissa rasanya sesak mendengar itu. Herliza semakin takut jika Neneknya akan meninggalkannya. Jika Neneknya meninggal, Hayissa tidak tahu harus apa. Ia hanya punya Nenek dan Abang hingga saat ini. Hayissa berusaha tegar dan menahan tangisnya, "Nek, kalau udah waktunya pasti Nenek akan bertemu sama Kakek. Sekarang yang terpenting Nenek semangat dulu buat sembuh ya." Herliza mengangguk dengan pelan, "Nenek gak sabar ketemu Kakek." ___ Malam ini Hayissa mengerjakan tugas sekolahnya di ruang tamu tempat sang Nenek tidur. Gadis memang sedang libur sekolah selama satu minggu karena kelas 12 yang sedang ujian sekolah tapi tugas sekolah tetap diberikan oleh para guru. Berkali-kali Hayissa melirik Herliza yang tertidur pulas untuk meyakinkan bahwa wanita tua itu masih bernapas. Mata Hayissa melirik jam yang saat ini menunjukan pukul delapan malam. Biasanya Rajena sudah pulang dari pekerjaanya, namun sepertinya kakak Hayissa satu-satunya itu harus lembur untuk mendapatkan uang tambahan. Hayissa pernah berbicara pada Rajena bahwa ia ingin bekerja paruh waktu untuk membantu Rajena memenuhi semua keperluan keluarga. Namun Rajena melarang dengan keras dan bilang bahwa biar Rajena saja yang bekerja, ia menyuruh Hayissa untuk fokus belajar dan merawat Neneknya. "Tiga hari lagi Hayi udah masuk sekolah, Nek. Kalau Nenek belum sembuh gimana?" tanya Hayi dengan suara pelan. "Semoga tiga hari ini Nenek bisa sembuh ya. Biar Hayi tenang kalau lagi di sekolah," lanjutnya. ___ Waktu pulang kerja sebenarnya sudah terlewat, namun karena keadaan kafe yang ramai membuat Rajena mengurungkan niatnya untuk pulang ke rumah. Selain itu, hari ini ada evaluasi karyawan yang akan langsung dilakukan oleh pemilik kafe ini. Saat ini pemuda itu sedang beristirahat di dapur bersama beberapa karyawan lainnya. Oh iya, Argi juga ikut bekerja di kafe tersebut bersama Rajena karena anak itu juga tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang perkuliahan. "Hayissa apa kabar, Jen?" tanya Argi. "Baik, Gi. Sekarang dia udah kelas dua SMA, gak kerasa ya padahal dulu pas pertama ketemu sama lo masih umur sebelas tahun. Masih suka ngerengek mau ini itu, tapi sekarang dia bisa bersikap dewasa meskipun dipaksa sama keadaan." "Udah lama ya gue gak main ke rumah lo. Soalnya Hadlan sama Arka sibuk kuliah, apalagi si Hadlan kuliahnya di universitas negeri mana di luar kota lagi. Makin susah kita ketemu," keluh Argi. "Iya gue juga kangen sama si Hadlan, dia beneran sibuk banget sejak kuliah. Kalau sama Arka gue sesekali ketemu sih biasanya dia ke sini buat ngopi." "Gue terakhir ketemu Arka pas dia antar gue buat kerja di sini. Abis itu udah deh dia kayak gak tahu ke mana gak ada kabar," beritahu Argi. "Gi, lo pasti sedih ya karena keluarga lo lebih milih buat gak kuliahin lo dan maksain kakak lo buat kuliah kedokteran?" tanya Rajena tiba-tiba. Argi menggaruk kepalanya merasa bingung, "Sedih gak sedih sih, Jen. Sedihnya gue tuh merasa gak adil aja kenapa orang tua gue bisa maksain biaya buat kakak gue kuliah kedokteran, sedangkan ke gue gak ada effort sama sekali. Mutlak aja gue gak harus kuliah. Senangnya sih gue gak usah pusing-pusing mikir dan belajar lagi, lo tahu gue paling bego di antara kita berempat." "Gak woy, lo gak bego. Lo itu cuma malas aja, kebanyakan ngandelin Hadlan sama Arka." "Hahaha tahu aja lo." Tiba-tiba seseorang masuk dengan tergesa-gesa, "Eh Ajen, Argi, ada bos datang." Kemudian Rajena dan Argi langsung bangkit dari duduknya dan segera menuju ke tempat evaluasi karyawan. Rajena dan Argi masuk ke ruangan itu, di sana sudah ada bos yang biasa mereka sebut Mas Naveen sedang duduk di kursi dan menatap layar laptop dengan teliti. "Udah kumpul semuanya?" tanya Naveen yang langsung dijawab dengan kompak oleh para karyawannya. "Saya lihat laporan keuangan hari ini bagus, laporan penjualan juga bagus, gak ada makanan yang salah bikin atau terbuang. Terus saya lihat review di maps juga bagus-bagus. Tapi ini ada- sebentar," ujar Naveen menggantung kalimatnya. "Menu di sana bervariasi, rasanya sesuai di lidah saya. Karyawannya cekatan saat saya minta extra saus langsung dikasih. Pokoknya luar biasa deh. Terus ada pelayan yang ganteng banget, ramah juga, suka senyum dan kalau senyum matanya hilang. Manis banget deh. Kalau gak salah lihat di nametag yang dia pakai namanya Ajen. Gak sabar deh pengen ke sana lagi," Naveen membaca salah satu komentar yang ada di peta online dengan tertawa. "Mana yang namanya Ajen?" tanya Naveen mengedarkan matanya mencari seseorang. Semua karyawan melihat ke arah Rajena, kemudian Argi menyenggol tangan Rajena agar lelaki itu mengangkat tangannya. Setelah itu Rajena langsung mengangkat tangannya. Naveen melihat seseorang yang mengangkat tangan kemudian menatapnya, "Kamu yang namanya Ajen?" Rajena langsung mengangguk. Benar, Rajena tidak menggunakan nama aslinya karena menurutnya itu terlalu ribet. Maka saat ia diterima dan akan dibuatkan nametag, ia meminta untuk dibuatkan nama Ajen saja agar lebih mudah. Nama itu juga adalah nama yang disematkan untuknya oleh Hayissa beberapa waktu belakangan ini. Hayissa menyebutnya dengan Abang Ajen. "Terima kasih ya, kamu udah menarik perhatian pelanggan. Saya terhibur baca review mereka, di sini banyak banget yang sebut nama kamu," ucap Naveen. Rajena tersenyum sambil menunduk, "Terima kasih, Mas." "Ya sudah, karena udah waktunya kafe tutup sekarang jadi kalian udah boleh pulang. Hati-hati di jalannya, semoga selamat sampai ke rumah masing-masing ya," ucap Naveen sebelum akhirnya ia meninggalkan ruangan evaluasi itu. ___ Rajena turun dari angkot yang biasa ia naiki sepulang kerja. Sekarang ia berjalan menuju ke pangkalan ojek. Sebenarnya ia bisa saja berjalan kaki seperti biasanya, namun ini sudah menunjukan pukul sepuluh malam di mana kawasan Desa Kasturi begitu sepi. Rajena bukan takut akan hal yang mistis, melainkan ia takut terhadap manusia. "Pak ojek ke Desa Kasturi ya," ujar Rajeno pada tukang ojek yang sedang mangkal saat ini. "Siap, Mas. Ayo naik." Setelah Rajena naik ke atas motor, tukang ojek itu langsung melajukan motornya membawa sang penumpang ke Desa Kasturi.Tak sampai sepuluh menit akhirnya ojek yang ditumpangi Rajena tiba di depan rumahnya. Rajena langsung memberikan selembar uang sepuluh ribu pada tukang ojek itu. Usai tukang ojek itu pergi, Rajena baru sadar jika di rumahnya saat ini banyak orang. Satu hal yang saat ini membuat jantung Rajena berdegup kencang adalah ada bendera kuning yang tertancap pagar rumahnya. Dengan langkah tergesa Rajena langsung masuk ke dalam rumahnya. Beberapa tetangganya menghalangi mencoba menenangkan Rajena yang terlihat panik. "Pak ini ada apa?" tanya Rajena pada Pak RT dengan tak sabaran. "Rajen yang sabar ya," ucap Pak RT. "Maksudnya apa, Pak?" suara Rajena sudah naik satu oktaf. "Ibu Herliza alias Neneknya Rajen dan Hayi baru saja berpulang." Mendengar itu, dunia Rajena seketika merasa hancur. Nenek yang selama ini merawatnya sudah tiada.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD