Mendegar ucapan dari Pak RT barusan. seketika tubuh Rajena langsung lemas. Ia seakan tak punya tenaga meski sekedar menopang kedua kakinya untuk berdiri. Tubuhnya langsung ambruk ke tanah. Dengan sigap Pak RT dan beberapa tetangga membantu Rajena untuk kembali berdiri.
"Rajen yang sabar ya, sekarang Bapak bantu masuk ke dalam rumah, ya. Biar Rajen bisa lihat Nenek untuk yang terakhir kalinya," ujar Pak RT.
Rajena dibantu oleh beberapa orang untuk berjalan masuk ke dalam rumahnya. Di sana Rajena melihat Hayissa yang sedang menangis di pelukan Melly temannya kecilnya. Begitu mata Hayissa bertemu dengan matanya, gadis itu langsung berjalan cepat menuju ke arah kakaknya dan langsung memeluknya dengan erat. Akhirnya tangis keduanya pecah di pelukan satu sama lain.
"Abang, Nenek udah gak ada," isak Hayissa.
Rajena tak menyahut, pemuda itu masih tidak percaya jika semua ini terjadi. Bagaimana hidup keduanya setelah Neneknya pergi? Nenek yang sudah merawatnya sejak kecil kini sudah berpulang ke hadapan Yang Maha Kuasa.
___
Kabar bahwa Nenek Rajena meninggal dunia telah sampai pada rekan-rekan kerjanya bahkan sudah terdengar di telinga Naveen selaku bos di tempat kerja Rajena. Lelaki yang seumuran dengan Rajena itu meminta Argi untuk menemaninya melayat ke rumah Rajena.
"Argi, kamu tahu rumah Rajena di mana?" tanya Naveen yang langsung diangguki oleh Argi.
"Tahu, Mas. Rumahnya ada di Desa Kasturi, sekitar tiga puluh menit dari sini," jawab Argi.
"Kalau gitu antar saya ke sana ya, saya mau melayat."
Setelah itu Argi dan Naveen langsung berangkat ke kediaman Rajena. Dengan lalu lintas kota yang tidak terlalu padat, akhirnya mobil Naveen sampai di halaman rumah milik Rajena. Bisa Naveen lihat di sana sudah banyak orang yang berkumpul. Argi turun dari mobil Naveen dan segera berjalan mendekati Arka.
"Ar," sapa Argi.
"Eh Gi, sama siapa ke sini?"
"Sama Mas Naveen," jawab Argi.
Melihat keberadaan Naveen, Arka langsung berdiri dan menyapa rekannya itu.
"Veen," sapa Arka.
"Eh Ar, di sini dari tadi?" tanya Naveen.
Arka mengangguk, "Abis gue dengar kabar langsung buru-buru ke sini."
"Si Hadlan tahu gak, Ar?" tanya Argi kemudian.
"Tahu, tapi dia lagi sibuk sama skripsinya. Gak bisa ke sini, tadi udah video call sama Rajen sambil nangis."
"Terus Rajen sama Hayinya sekarang di mana?"
"Ada di dalam, Hayi gak berhenti nangis."
"Ya Tuhan, gue beneran makin gak tega sama itu anak dua."
Selanjutnya Naveen meminta Argi untuk menemaninya menemui Rajena.
"Jen," panggil Argi, lelaki itu langsung memeluk tubuh sahabatnya. Rasanya ia juga ikut kehilangan.
"Turut berduka cita ya, Jen. Gue sedih banget. Gue inget banget Nenek lo baik dan suka kalau kita main ke sini," sambung Argi.
"Terima kasih, Gi. Tolong dimaafin ya kalau Nenek gue ada salah, baik yang disengaja maupun enggak."
Setelah berbincang dengar Argi, kali ini mata Rajena tertuju pada Naveen yang sedari tadi diam di belakang Argi. Sedangkan Argi saat ini sudah menemui Hayissa yang hingga saat ini masih menangis.
"Mas," sapa Rajena.
"Ajen, saya turut berduka," ucap Naveen singkat.
Rajena mengangguk, "Terima kasih, Mas."
Kemudian mata Rajena tanpa sengaja bertemu dengan mata milik Hayissa. Pemuda itu merasa tidak asing dengan wajah Hayissa, ia seperti melihat seseorang versi muda.
___
Pemakaman Herliza telah selesai, saat ini Rajena dan Hayissa sedang menaburkan bunga di atas pusara Nenek tercintanya. Hayissa sudah berhenti menangis, namun rasa sesak di dadanya belum juga hilang.
"Udah yuk, sekarang kita pulang. Nenek udah tenang di sana dan gak sakit lagi," ajak Rajena pada adiknya.
Hayissa hanya bisa mengangguk dan mengikuti langkah Rajena untuk meninggalkan tempat pemakaman umum itu. Arka, Argi dan Naveen pung mengikuti. Mereka berjalan kembali ke kediaman Rajena.
"Jen, sekali lagi gue turut berduka ya. Gua yakin lo dan Hayi kuat, kalian bisa melewati semua ini. Kalau butuh apa-apa hubungi gue aja," ujar Arka sambil menepuk pelan pundak Rajena.
"Terima kasih, Ar. Argi dan Mas Naveen juga terima kasih ya."
"Sama-sama, Jen."
"Sama-sama, Ajen. Tolong jangan pernah berpikir dunia hanya berhenti hari ini ya, kamu dan adik kamu harus tetap melanjutkan hidup setelah ini," ujar Naveen.
"Pasti, Mas."
Usai teman-teman Rajena berpamitan, kini hanya tersisa Hayissa, Rajena dan beberapa orang yang membantu membereskan rumah. Dua kakak beradik itu sama-sama duduk di teras rumah. Hayissa tidak bisa mendeskripsikan perasaannya untuk saat ini. Perasaannya tidak karuan saat ia mengingat dengan jelas bagaimana sang Nenek meregang nyawa di hadapannya.
"Abis ini gimana ya, Bang?" tanya Hayissa.
"Gak gimana-gimana, ini udah takdirnya. Kita gak bisa mengubah ini, meskipun Nenek gak sakit tapi kita gak bisa merubah kalau Nenek tetap akan meninggal tadi malam."
"Aku jadi kepikiran, Bang."
"Kepikiran apa?"
"Betapa banyaknya dosa Ibu, dia udah nyusahin Nenek dengan meninggalkan kita, sekarang Nenek meninggal dia gak tahu. Aku harap dia gak akan pernah tahu sih."
"Jangan bilang gi—"
"Permisi, apakah ini benar kediaman Ibu Herliza?" tanya seseorang yang baru saja datang dengan pakaian yang begitu rapih seperti orang kantoran.
"Iya benar, ada apa ya, Pak?" tanya Rajena.
"Saya dari pihak Bank. Hari ini saya ditugaskan untuk memberikan informasi bahwa Ibu Herliza pernah meminjam uang kepada kami senilai delapan puluh juta rupiah dan hari ini adalah jatuh temponya.
Mendengar ucapan orang tersebut, Rajena dan Hayissa tidak bisa untuk tidak kaget. Leher keduanya terasa tercekik dan dadanya sesak. Kenapa Nenek mereka bisa memiliki utang sebesar itu?
___
Naveen langsung pulang ke rumahnya selepas melayat Nenek Rajena tadi. Sebelumnya ia mengantar dulu Argi untuk kembali bekerja di kafenya. Naveen masuk ke dalam rumah dan melihat ibunya sedang menjahit baju yang sobek.
"Ma," sapa Naveen.
Namari langsung menoleh dan tersenyum saat melihat anak angkatnya itu pulang.
"Kok Kakak udah pulang jam segini?" tanya Namari sambil melihat jam dinding yang masih menunjukan pukul dua siang.
Naveen tak menjawab, ia malah merebahkan dirinya di sofa dan menjadikan paha Namari sebagai sandaran.
"Ada masalah, hm?" tanya Namari sambil mengusap lembut rambut Naveen.
"Tadi ada karyawan Naveen yang Neneknya meninggal. Naveen jadi ingat pas Ibu dan Ayah kandung Naveen meninggal waktu itu."
Namari tersenyum sambil terus mengusap kepala Naveen, "Kedua orang tua kandung kamu udah bahagia di sana, jangan dipikirin lagi ya. Kamu udah ada Mama dan Papa, lagian selama ini Mama dan Papa gak pernah membedakan antara kamu dan Justin kan?"
Naveen mengangguk, "Iya, Naveen bahagia kok. Tapi rasanya selalu sesak aja setiap dengar orang yang meninggal."
"Emang karyawan kamu yang Neneknya meninggal itu tinggalnya di mana?"
"Di Desa Kasturi, Ma. Nama desanya cantik ya."
Deg
Jantung Namari seketika berdetak kencang ketika Naveen menyebutkan nama desa itu. Desa yang dulu menjadi tempat tinggal Namari, tempat yang penuh kenangan. Seketika Namari merasa sedih lagi, rasa bersalahnya kembali mencuat.
"Kalau boleh tahu, karyawan kamu namanya siapa?"
"Ajen, nama aslinya Ra-"
"Mama, Justin dapat nilai seratus ulangan matematika!" pekik seorang anak kecil yang baru saja muncul di balik pintu utama.
Dia adalah Justin, anak pertama Namari dan Andra. Anak yang Namari lahirkan enam tahun yang lalu, anak yang tanggal lahirnya sama dengan Hayissa.