Pemberi Beasiswa

1043 Words
Setelah libur satu minggu karena kelas 12 mengadakan ujian sekolah, Hayissa kini harus kembali ke sekolah untuk menimba ilmu. Hari-hari yang Hayissa jalani saat ini begitu terasa berat. Biasanya setiap pagi ia akan dibangunkan oleh sang Nenek untuk berangkat ke sekolah. Tapi hari ini ia terbangun sendiri, bahkan ia bangun saat waktu masih menunjukan pukul tiga pagi. Sejak kepergian Herliza, Hayissa maupun Rajena tidak bisa tidur nyenyak. Sepasang kakak beradik itu hanya bisa pasrah untuk menjalani hari-hari serta kejutan yang akan datang entah kapan. Hayissa berjalan melewati gerbang sekolah. Matanya menatap sekitar, ternyata suasana sekolah masih sangat sepi. Hayissa masuk ke dalam kelas dan melihat jam dinding yang tergantung di atas papan tulis, ternyata waktu masih menunjukan pukul enam lewat lima belas menit. "Kepagian ya?" gumam Hayissa. Selagi menunggu bel masuk, Hayissa menumpuk kedua tangannya di atas meja lalu menundukan kepalanya. Matanya memejam membayangkan saat-saat neneknya masih hidup. Rasanya Hayissa masih ingin menangis sekeras mungkin, akan tetapi ia tak memiliki sandaran. Rajena sekarang benar-benar sibuk mencari uang, kakak Hayissa itu selalu pulang hampir tengah malam. Hayissa tahu, Rajena seperti itu karena harus melunasi utang-utang sang nenek. Hayissa tidak bisa menangis atau merengek lagi seperti dulu kepada Rajena karena ia tahu beban yang dipikul kakaknya itu sudah sangat besar. "Hayissa," panggil seseorang. Hayissa mengangkat kepalanya dan tersenyum tipis melihat orang itu. Dia adalah Hasya, adik Hadlan. Hayissa tahu dia adik Hadlan, tapi Hasya tidak tahu bahwa Hayissa mengenal Hadlan. "Kenapa?" "Udah bel, upacara sebentar lagi dimulai," beritahu Hasya. "Oh iya, terima kasih, Hasya." Hasya mengangguk sambil tersenyum, kemudian ia langsung pergi dari hadapan Hayissa. Begitu pun Hayissa, setelah Hasya tak terlihat lagi di matanya, barulah ia beranjak dari tempat duduknya untuk segera pergi ke lapangan upacara. ___ Selepas upacara selesai, seluruh siswa sudah kembali ke kelas masing-masing begitu pun dengan Hayissa. Gadis itu mengeluarkan buku dan sebuah pulpen untuk mencatat materi yang akan diterangkan oleh guru. "Hayissa," panggil Hasya lagi. Hayissa menoleh dan mengangkat alisnya seakan bertanya, "Ada apa?" "Aku beli roti dua, tapi menurut aku itu kebanyakan. Kamu mau kan bantu aku buat habisin ini?" tanya Hasya dengan senyum manis membuat lesung pipinya terlihat jelas. Hayissa terdiam sebentar. Selama ini Hayissa tidak memiliki teman di sekolah. Tidak lain dan tidak bukan adalah karena kebanyakan temannya yang bersekolah di sana memandang apapun dari materi, maka dari itu ia terlalu minder dengan teman-temannya yang memiliki banyak materi dan keluarga cemara. Berbeda dengan Hasya, gadis ini selalu berbuat baik dan membantu Hayissa. Hanya saja Hayissa yang terlalu takut dan tidak percaya, membuat Hasya sulit untuk menjadikan Hayissa temannya. Seperti saat ini, jika Hasya memberikan secara langsung roti yang sebenarnya sengaja ia beli untuk Hayissa, pasti Hayissa akan menolaknya. Itulah mengapa Hasya pura-pura membeli roti lebih dan meminta Hayissa untuk membantu menghabiskannya. "Gak perlu, Hasya. Buat kamu aja, nanti bisa kamu makan di rumah," tolak Hayissa dengan lembut. Hasya tahu, Hayissa pasti trauma karena saat kelas sepuluh ada temannya yang memberikan makanan pada Hayissa. Namun ternyata makanan itu adalah makanan kadaluarsa dan akhirnya membuat Hayissa sakit perut. Sejak saat itu Hayissa sangat waspada dan anti menerima makanan dari teman-temannya di sekolah. "Ini aman kok, Hayissa. Kamu bisa lihat tanggal kadaluarsanya masih lama, terus ini bungkusnya masih disegel kok belum dibuka sama sekali," paksa Hasya. Gadis itu benar-benar ingin Hayissa menerima roti darinya. Bukan apa, Hasya sering memperhatikan Hayissa tidak pernah jajan ke kantin. Hayissa akan selalu pergi ke perpustakaan setiap sekolah, bahkan Hasya pernah memergoki Hayissa yang meminum obat maag di UKS dan itu tidak terjadi hanya satu kali. "Aku gak takut kok, cuma itu kan masih bisa kamu makan lagi pas di rumah," Hayissa masih berusaha menolak. Hasya gemas sendiri, kenapa ada orang yang menolak makanan seperti Hayissa. Dengan cepat Hasya menarik tangan Hayissa dan menyimpan roti itu tepat di tangannya. "Aku gak mau tahu, kamu harus terima. Mau makan di rumah juga gak apa-apa," ujar Hasya kemudian ia segera duduk ke bangkunya karena guru yang akan mengajar sudah datang. ___ Hayissa berdiam diri di rumah menunggu Rajena pulang kerja. Gadis tujuh belas tahun itu belum makan sedari pagi karena tak ada bahan masakan yang bisa dimasak untuk hari ini. Hayissa hanya berharap bahwa Rajena akan datang dengan membawa sebungkus makanan. Pucuk dicinta ulam pun tiba, Rajena akhirnya pulang dengan membawa satu bungkus nasi goreng dan beberapa bahan makanan seperti beras, telur dan sawi hijau. Melihat itu Hayissa tersenyum senang, akhirnya penantiannya tidak sia-sia. "Abang tebak pasti kamu belum makan ya?" tanya Rajena. Hayissa menggeleng, "Abang tahu sendiri, gak ada bahan makanan apapun." "Maaf ya, kita sekarang harus hemat banget karena Abang harus lunasi utang-utang Nenek." "Gak apa-apa, Abang. Hayi ngerti, terima kasih ya Abang buat semuanya. Hayi gak bisa bantu padahal Hayi juga mau bantu Abang cari uang." "Gak usah, kamu gak perlu kerja. Cukup fokus aja sekolah, kamu udah dikasih kesempatan buat sekolah. Jangan sampai kamu sia-siakan, apalagi kamu sekolah di SMA favorit," ujar Rajena. Hayissa mengangguk terpaksa. Rajena tak pernah tahu apa yang Hayissa alami di sekolah, perundungan dan hinaan yang diterima Hayissa tidak sekali dua kali. Tapi Hayissa tidak punya kekuatan untuk sekedar melawan. Hayissa takkan mampu untuk melawan orang-orang yang memiliki kuasa dan banyak harta. "Kalau dipikir-pikir kenapa ya ada orang yang tiba-tiba kasih beasiswa buat aku sekolah di sana?" tanya Hayissa. Rajena menatap Hayissa sekilas, "Ya mungkin donaturnya survey aja, kamu kan punya potensi. Sayang banget kalau di diasah." "Iya sih, cuma aneh aja kenapa aku dapat beasiswa dari donatur di sekolah favorit. Di mana orang-orang yang mau masuk sana aja harus tes mati-matian, kecuali kalau orang tuanya kaya dan bisa nyogok." "Udah gak apa-apa, itu rezeki buat kamu. Beruntung kamu sekolah di sana, orang-orang harus keluar uang belasan juta buat SPP satu bulannya. Sedangkan kamu gak perlu bayar. Pokoknya kamu tinggal sekolah yang benar, kalau nanti dikasih kesempatan buat ketemu orang yang nyekolahin kamu ini, jangan lupa bilang terima kasih ya." Hayissa hanya mengiyakan saja ucapan Rajena, agar cepat. Hayissa sebenarnya ingin tahu siapa orangnya, hanya saja orang itu sangat rahasia. Semoga saja di masa depan Hayissa bisa membalas kebaikan yang dilakukan orang itu. Namun di detik berikutnya, Hayissa tiba-tiba terpikir sesuatu. "Bang," panggil Hayissa. "Hm?" sahut Rajena yang saat ini sedang memainkan ponsel mengecek info di grup pekerjaannya. "Kalau ternyata yang kasih beasiswa untuk aku itu Ayah gimana?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD