02

761 Words
Happy Reading! "B-b******a?" kaget Athaya. Kenapa om Cakra bisa punya pemikiran seperti itu? Cakra mengangguk."Apa kita melakukannya?" Athaya langsung menggeleng."Om bicara apa sih? aku tidak mengerti. Lagipula sejak tadi, aku berada di sini." "Jangan bohong." marah Cakra. "Aku sudah berkata jujur, om. Lagipula mana berani aku masuk ke kamar om tanpa ijin." dusta Athaya. Lebih baik menyelesaikan ini dengan bilang kalau ia tidak pernah masuk ke kamar itu. Dari pada jujur dan tendangan mautnya tadi disadari oleh om Cakra, kan jadi lebih memalukan. "Lalu darah siapa yang ada di atas sprei?" tanya Cakra membuat Athaya mengernyit. Darah? Apa itu darah menstruasi ku? Batin Athaya lalu mengangguk. Iya itu pasti darah kotornya dan bisa-bisanya malah ada di sprei om Cakra. "Darah apa, om?" tanya Athaya pura-pura tak mengerti. "Jangan pura-pura tidak mengerti." tekan Cakra. Dia mendengar dengan jelas kalau nama gadis yang tadi dipeluknya bernama Athaya, Cakra tak mungkin salah dengar. Tapi sialnya hanya bagian itu yang bisa dia ingat, teriakan nama Athaya. "Aku bukan pura-pura, om. Tapi memang tidak mengerti." ucap Athaya. Cakra menghela napas."Baiklah, tapi namamu Athaya kan?" "Iya," ucap Athaya cepat lalu segera menggeleng."Tapi aku benar-benar tidak pernah masuk ke kamar om." "Tidak mungkin." gumam Cakra. "Atau om salah orang? Bisa saja memang ada orang lain yang masuk kamar om tapi itu bukan aku." ucap Athaya dengan wajah meyakinkan. Cakra diam. Memang ada kemungkinan itu tapi dia masih curiga. "Karena aku benar-benar tidak masuk ke kamar, om. Mendekatinya pun tidak." dusta Athaya lagi membuat Cakra mengangguk lalu berbalik dan membuka pintu perpustakaan. Dia akan memeriksa cctv dan memastikan siapa yang masuk ke kamarnya tadi. Athaya langsung menghela napas lega saat pria itu pergi. "Untunglah masalah sudah diatasi." gumam Athaya lalu segera keluar dari perpustakaan dan turun ke bawah. Dan sialnya, ia turun hampir bersamaan dengan om Cakra. Pria itu menatapnya seperti mau menerkam, padahal harusnya masalah sudah selesai. "Cakra, kamu ada di rumah?" kaget Rihana begitu melihat adiknya. Cakra mengangguk, tadi dia pulang memang diantar lewat pintu belakang oleh asistennya. Mungkin karena keadaannya yang mabuk berat. "Lalu kenapa tidak turun dan ikut kakak menyapa para tamu?" tanya Rihana lagi lalu menatap penampilan adiknya itu. Sepertinya ada yang aneh? "Kamu mabuk?" bisik Rihana. "Maaf." ucap Cakra lalu berniat pergi, tapi-- "Athaya, kamu tadi kan tante Suruh istirahat di kamar Cakra. Apa kalian bertemu?" Deg Langkah Cakra langsung berhenti lalu berbalik menatap kakaknya. "Kakak menyuruh seseorang istirahat di kamarku?" tanya Cakra. "Iya. Athaya tadi terlihat sangat lelah dan kamar tamu di sini juga sudah terisi semua. Jadi kakak pikir lebih baik ia istirahat di kamarmu." ucap Rihana membuat cakra segera menatap Athaya. Athaya sendiri langsung menggeleng."Tante memang menyuruhku istirahat di kamar om Cakra tapi aku tidak ke sana." "Oh benarkah?" "Iya, tante. Kan tidak enak, takut om Cakra marah, jadi aku memilih istirahat di perpustakaan keluarga. Tidak masalah kan?" dusta Athaya. "Tidak masalah, hanya saja istirahat di perpustakaan pasti tidak leluasa." ucap Rihana. "Hanya sedikit pegal di pinggang tapi aku baik-baik saja." ucap Athaya. "Maaf ya, Athaya. Tapi syukurlah kamu tidak ke kamar Cakra, karena ternyata dia ada di rumah. Sepertinya pulang lewat pintu belakang," ucap Rihana tak enak lalu menatap adiknya itu."Kebiasaan!" omelnya. "Iya, tante. Untung aku tidak istirahat di kamar om Cakra." ucap Athaya untuk menekankan bahwa sekali lagi ia tidak masuk ke kamar pria itu. "Tapi sepertinya aku melihat kak Athaya masuk ke kamar paman. Apa aku yang salah lihat?" gumam Ricky, dia adalah anak bungsu Rihana. "Apa itu benar?" tanya Cakra pada keponakannya itu. "Iya, paman. Aku mau menegur tapi sepertinya mama yang suruh, jadi aku diam saja." Cakra langsung menatap Athaya. Berarti benar, gadis itu yang tadi b******a dengannya di kamar. "B-bukan eh aku tidak ke sana. Sungguh!" ucap Athaya terbata. "Tapi aku melihatnya sendiri." "Kau pasti salah lihat. Karena aku hanya masuk ke perpustakaan." kekeh Athaya. "Tapi--" "Tidak masalah, paman akan periksa cctv untuk memastikannya." ucap Cakra. "Jangan!" cegah Athaya. Rihana yang mendengar itu jadi bingung."Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa kalian jadi berdebat." "Tidak ada, tante." sahut Athaya cepat lalu menunduk. Jika om Cakra periksa cctv maka akan terlihat jelas kalau ia memang masuk ke kamar pria itu. Jadi sebaiknya ia jujur saja lebih dulu. Cakra menatap tajam, menunggu kejujuran Athaya. "Baiklah, aku memang masuk ke kamar om Cakra. Tapi hanya sebentar dan setelah itu aku langsung keluar. Aku benar-benar tidak bertemu om Cakra." dusta Athaya membuat Cakra menghela napas. Masih saja berbohong, batin Cakra. Tapi setidaknya dia sekarang sudah yakin bahwa mereka memang b******a. Dia telah merenggut kesucian gadis itu, mungkin karena itu Athaya malu dan menghindar. Tapi Cakra bertekad untuk bertanggung jawab. Bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD