Happy Reading!
Athaya pikir, setelah kembali dari rumah tante Rihana maka hidupnya akan kembali normal tapi ternyata tidak. Sudah satu bulan, om Cakra selalu mengganggunya.
Entah itu chat atau bahkan langsung datang menemuinya dan anehnya pria itu selalu mengatakan hal yang sama. Yaitu om akan bertanggungjawab.
Bertanggungjawab tentang apa? Mereka bahkan tidak melakukan apapun. Tapi setiap Athaya mengatakan itu, om Cakra tidak pernah percaya.
Harusnya pria itu jujur saja kalau kebelet kawin bukannya malah mengarang-ngarang alasan untuk bertanggung jawab dan menikah dengannya. Ada-ada saja.
"Itu om yang kemarin kan?" tunjuk Tasya membuat langkah Athaya terhenti lalu menatap seorang pria yang sedang merokok di depan mobil mewahnya.
'Om Cakra, ngapain lagi sih?' batin Athaya kesal lalu segera menarik tangan Tasya untuk sembunyi, mumpung om Cakra belum melihatnya.
"Kita kenapa sembunyi?" tanya Tasya bingung.
"Sushhh! Kita keluar setelah om Cakra pergi." ucap Athaya pelan membuat Tasya menghela napas.
"Sebenarnya ada masalah apa sih sama tuh om om?"geram Tasya. Hampir tiap hari loh mereka harus menunggu pria itu pergi dulu baru bisa keluar dari kampus.
"Cuma salah paham, kan aku sudah cerita." sahut Athaya.
"Ya jelasin lah, jangan diam saja." kesal Tasya.
"Sudah. Tapi om Cakra tidak percaya." ucap Athaya. Ia juga kesal. Sudah satu bulan hidupnya dibuat tak tenang begini. Sudah dijelaskan juga kalau mereka tidak melakukan apapun sampai mulut Athaya berbusa mengatakannya tapi pria itu kekeh sekali kalau mereka sudah b******a.
"Atau kita panggil anak-anak, suruh pukulin om Cakra." usul Tasya.
"Ya jangan."
"Terus gimana?" tanya Tasya.
Athaya menghela napas kesal. Sepertinya ia harus menjelaskannya sekali lagi.
"Eh mau ke mana?" tanya Tasya saat Athaya mau keluar dari tempat mereka sembunyi.
"Bicara dengan om Cakra." ucap Athaya membuat Tasya melotot lalu segera berlari. Ia harus memanggil teman-teman mereka yang mungkin masih ada di kelas.
Sedang Athaya sudah melangkah mendekati om Cakra.
Cakra sendiri segera mematikan rokoknya lalu membuka pintu mobilnya, mempersilakan Athaya untuk masuk.
"Kita bicara di sini saja, om." ucap Athaya.
Cakra menutup pintu mobilnya kembali lalu menatap Athaya.
"Harus berapa kali lagi aku bilang kalau om tidak perlu bertanggung jawab. Lagipula saat itu om hanya menggendongku ke kasur dan setelah itu aku kabur." jelas Athaya kesal.
Cakra mendekat."Menggendongmu ke kasur?"
Athaya menelan ludah kasar. Sial! Ia kelepasan, padahal terakhir mereka bicara, Athaya bilang kalau om Cakra bahkan tidak menyentuh kulitnya sedikitpun.
"I-iya, tapi hanya itu kok. Om tidak melakukan apapun karena aku berhasil kabur." ucap Athaya gugup.
Cakra melirik perbedaan tubuh mereka lalu tersenyum sinis. Jika dia sempat menggendong tubuh Athaya ke tempat tidur maka kemungkinan gadis itu bisa lepas hanya 0,1 persen. Jadi kemungkinan kalau mereka memang b******a adalah 99,9 persen, jauh lebih besar.
"Om kenapa diam?" tanya Athaya. Kenapa nampaknya semakin dijelaskan, om Cakra malah semakin tidak percaya.
"Kita harus menikah." ucap Cakra membuat Athaya melotot.
"Apa om gila?" bentak Athaya.
"Mau atau tidak, suka atau tidak, kita harus menikah. Om tidak mau jadi b******n yang merenggut kesucian seorang gadis lalu kabur." tegas Cakra membuat Athaya memegang kepalanya. Sekarang ia jadi pusing.
"Om sebenarnya mengerti bahasa manusia atau tidak? Kan aku sudah bilang kalau kita tidak melakukan apapun." ucap Athaya, masih berusaha sabar. Meski aslinya sudah ingin berguling di tanah karena begitu kesal.
Cakra hanya diam. Dia tahu dengan jelas kalau gadis seumuran Athaya pasti masih memegang prinsip hanya menikah dengan pria yang dicintai. Karena itu Athaya terus membantah tentang kejadian yang sebenarnya. Tapi setiap kali mereka bicara, satu kebenaran selalu muncul seolah membuktikan bahwa mereka memang b******a saat itu.
Hari ini Athaya keceplosan kalau dia sempat menggendong gadis itu ke tempat tidur. Pantas saja Cakra mengingat teriakan gadis itu yang minta dilepaskan.
"Aku tahu mungkin om ngebet kawin diusia yang hampir menginjak kepala empat, tapi tolong lah om. Jangan menargetkan gadis suci sepertiku. Di luar sana pasti banyak kok yang mau sama om." ucap Athaya memelas.
Cakra menghela napas lalu segera menangkap tangan Athaya, sebaiknya langsung saja dia bawa gadis itu kehadapan keluarga mereka.
"Om mau apa?" kaget Athaya saat tangannya ditarik.
"Membawamu untuk meminta restu." sahut Cakra lalu membuka pintu mobil dan memaksa Athaya masuk.
"Om apa-apaan sih? Aku tidak mau." tolak Athaya lalu tiba-tiba saja sebuah benda keras mendarat di punggung Cakra.
Athaya melotot saat melihat Tasya. Ada apa dengan gadis itu? Kenapa begitu berani.
Sedang Cakra sendiri sudah mendesis kesal lalu segera berbalik menatap pelaku yang melempar benda keras padanya.
"Lepaskan teman saya, om." ucap Tasya garang.
"Jangan ikut campur." tegas Cakra.
"Harus. Saya harus ikut campur karena sebelumnya om sudah melecehkan teman saya dan hari ini om malah---"
"Apanya yang dilecehkan? Aku tidak dilecehkan." potong Athaya cepat. Jangan sampai perkataan Tasya malah membuat om Cakra semakin menjadi-jadi.
Tapi sia-sia saja. Cakra memang sudah menganggap bahwa kata dilecehkan adalah sebuah pembenaran lain atas apa yang terjadi. Athaya pasti cerita dengan temannya kan?
"Kita benar-benar harus menikah." ucap Cakra membuat Athaya melotot kesal.
Bersambung