04

656 Words
Happy Reading! "Yang pakai mobil ferrari itu kan?" tanya Joko. "Iya." sahut Athaya cepat. "Masih di depan." ucap Joko membuat tubuh Athaya langsung lemas. Kemarin ia berhasil kabur lagi tapi ternyata hari ini om Cakra datang kembali dan menunggunya di depan kampus. Pria itu benar-benar giat sekali mau bertanggungjawab. "Lewat pintu belakang saja kalau mau pulang." usul Tasya. "Memang bisa? Bukannya jalan itu sudah ditutup." tanya Athaya mendapat sedikit harapan. "Pintunya memang dikunci tapi kan bisa dipanjat." sahut Tasya membuat Athaya menghela napas kesal lalu berdiri dan mengambil tasnya. "Eh mau ke mana?" tanya Tasya. "Manjat." sahut Athaya lalu segera keluar dari kelas. "Ck! Aku pulang lewat depan ya." teriak Tasya karena ia memang tidak bisa manjat. "Iya." balas Athaya juga ikut teriak. Sebenarnya kelas terakhir sudah selesai satu jam yang lalu, Athaya beruntung karena Tasya mau menemaninya menunggu tapi sampai kapan? Om Cakra benar-benar kekeh sekali. "Mau ke mana?" tanya Joko, dia memang anak satpam kampus. Jadi memang biasa keliling. "Mau pulang." sahut Athaya. "Lah salah jalan. Harusnya lewat sana." tunjuk Joko membuat Athaya menghela napas lalu mengeluarkan uang. "Joko, kau pasti punya kunci pintu belakang kan?" tanya Athaya. "Pintu belakang?" tanya Joko bingung. "Iya. Pintu keluar yang ada di belakang." ucap Athaya. "Ada sih. Memang kenapa?" "Bantu aku membuka pintunya." pinta Athaya sambil memberikan uang lima puluh ribu ke tangan Joko. "Ini untukku?" "Iya. Bisa tidak?" tanya Athaya lagi. "Bisa dong," sahut Joko lalu menyimpan uangnya."Tunggu di sini!" suruhnya lalu segera mengambil kunci pintu belakang di ruangan ayahnya. Athaya langsung menghela napas lega. Akhirnya ia punya cara untuk kabur tanpa harus pusing memikirkan om Cakra. "Rasakan! Biar om Cakra menunggu sampai lumutan." gumam Athaya lalu tersenyum saat Joko sudah kembali. Anak itu membawa sebuah kunci lalu meminta Athaya untuk mengikutinya. Begitu tiba di depan sebuah pintu besi berwarna hijau, Joko segera membuka gemboknya. "Sudah." adu Joko membuat Athaya langsung tersenyum lebar. "Terima kasih." ucap Athaya lalu segera berlari keluar. "Pintunya aku kunci lagi ya." ucap Joko. "Iya, iya. Aku juga mau langsung pulang."sahut Athaya lalu mengeluarkan ponselnya. Ia ingin menberitahu tukang ojek langganannya untuk menjemputnya di sini. Begitu pintu dikunci kembali, tiba-tiba saja ada seorang pria mendekat. Athaya tentu saja langsung melangkah mundur lalu berusaha memanggil Joko tapi sepertinya dia sudah pergi. Pria itu memakai jas hitam dan sepatu yang mengkilap. Dibilang penjahat sepertinya bukan, orang baik juga tidak mungkin. Athaya langsung tersenyum."Misi, om." ucapnya lalu melangkah melewati pria itu. "Hallo tuan, nyonya Athaya ada di sini." Deg Athaya langsung melotot. Tidak lama setelah itu sebuah mobil ferrari berhenti tepat dihadapannya lalu om Cakra keluar dari sana. "Mau kabur ke mana?" tanya Cakra membuat Athaya mendengus. "Om ngebet nikah banget ya sampai harus ngejar saya setiap hari?"tanya Athaya kesal. Cakra mendekat lalu meminta anak buahnya untuk menjauh karena dia perlu bicara empat mata dengan calon istrinya itu. "Kamu pikir om mau? Jika tidak terpaksa, untuk apa melakukan ini." ucap Cakra membuat Athaya berkacak pinggang. "Memang siapa yang memaksa om? Kan tidak ada." "Takdir yang memaksa, Athaya. Jadi walaupun kamu menolak, kita harus tetap menikah." tegas Cakra. "Wah om pasti sudah gila. Harus berapa kali aku katakan, kalau kita tidak melakukan apapun." ucap Athaya super tegas. "Tidak melakukan apapun, yakin?" tanya Cakra. "Yakin, om. Masa aku bohong." sahut Athaya cepat. Cakra menghela napas."Jadi kamu benar-benar tidak ingin om bertanggung jawab?" "Tanggungjawab apa sih. Om? Kan kita tidak melakukan apapun." ucap Athaya lagi. "Baiklah, tunggu beberapa minggu lagi. Kalau setelah itu, kamu tidak hamil maka om tidak akan memaksa untuk menikahimu lagi." ucap Cakra lalu segera melangkah menuju mobilnya. "H-hamil?" gumam Athaya lalu melotot kaget. "Om, aku tidak mungkin hamil." teriak Athaya keras saat mobil mewah itu berlalu meninggalkannya. Ya ampun, keluh Athaya lalu menendang batu yang ada di jalan. Ternyata segala perkataannya masih dianggap bohong oleh om Cakra. Pria itu masih meyakini bahwa mereka telah tidur bersama. "Sebenarnya om Cakra salah minum obat atau apa sih? Kok dijelaskan tidak mengerti juga." omel Athaya kesal. Bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD