Minyak Goreng

1658 Words
Terkadang saat kita sudah berusaha keras untuk melupakan,sekeras apapun usaha kita,akan tetap terkalahkan bila sudah ditakdirkan untuk bertemu kembali. - Clara alda - Setelah selesai bermain skateboard Nathan kembali duduk, lalu bermain ponselnya sebentar dan dia akhirnya beranjak untuk meninggalkan koridor itu. Clara pun memutuskan untuk kembali ke stan tempat jualan kelasnya itu. "Eh Clara tolong belikan minyak goreng dong, persediaan kelas kita udah hampir habis nih." ucap Rina salah satu teman Clara. "Memangnya dimana belinya?" tanya Clara. "Itu di warung deket gang biasanya." balas Rina. "Ya, ya udah sini uangnya mana gue beliin." ucap Clara. "Nih gue kasih uang 50 ribu cukup kan?" tanya Rina kepada Clara. "Cukup kok, biasanya gue beli gak sampai 30 ribu." balas Clara sambil tersenyum. "Syukurlah, jadi bisa sisa itu uang." ucap Rina. "Ya udah Rin, gue berangkat ke warung dulu ya." pamit Clara. "Iya hati-hati, lo gak mau bawa payung Clar? kayaknya sebentar lagi mau turun hujan deh." tanya Rina. "Enggak usah, nanti kalau hujan juga seru banget pasti. Bisa main hujan-hujanan nanti." balas Clara sambil menyengir tak berdosa. "Iya deh, terserah lo aja Clar." ucap Rina sambil tersenyum dan menggelengkan kepalanya. "Bye Rin." ucap Clara sambil melambaikan tangannya. Setelah itu Clara pun pergi untuk membeli minyak goreng. Baru saja beberapa meter Clara berjalan, tiba-tiba saja hujan turun dengan derasnya. "Aduh, kok gue males ya ke warung yang ada didekat gang itu, apa gue ke minimarket di ujung sana aja ya?" batin Clara. Tanpa disadari rintikan hujan pun mulai berjatuhan lebih banyak dari tadi. Sehingga Clara tersadar dari lamunan nya. "Aelah pake hujan segala lagi, ya sudah deh gak jadi ke minimarket. Ke warung biasanya aja, tapi gue gak bawa payung dong." gunam Clara. Setelah beberapa menit bergelut dengan pemikiran nya sendiri Clara pun akhirnya memutuskan untuk menerobos derasnya air hujan. "Bodoamatlah, hujan-hujan kayaknya seru juga nih. Kalau nanti gue basah juga gak masalah sih, sebentar lagi juga mau pulang juga kan." ucap Clara sambil terkekeh sendiri. Setelah hampir setengah jalan menuju warung, Clara tidak sengaja melihat di warjok yang sering dikunjungi anak SMA dan menjadi tempat nongkrong favorit anak SMA Pelita, disana Clara tidak sengaja menatap manik mata milik Nathan. Clara diam mematung menatap Nathan dan tanpa disadari Nathan sudah berjalan terlebih dahulu kearah Clara, sambil membawa payung. "Lo mau kemana hujan-hujan gini?" tanya Nathan dengan sedikit berteriak karena suara derasnya hujan. "Hah?" tanya Clara sedikit cengo, karena baru saja tersadar dari lamunan nya. "Astaga, lo mau kemana kok hujan-hujan gini?" tanya Nathan kembali. "Itu.. mau beli minyak goreng buat di stan kelas gue." balas Clara dengan sedikit gugup. "Bukannya kemarin dia menghindar ya dari gue, tapi sekarang kok dia akrab sama gue? ah bodoamat lah" batin Clara. "Oh, lo gak bawa payung?" tanya Nathan. "Gue lupa." balas Clara sambil menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal. "Astaga, kalau lo tau hujan begini, kenapa maksain buat pergi sih? nanti kalau lo sakit gimana?" tanya Nathan dengan sedikit nada marah dan khawatir. Clara terdiam membeku mendengar ucapan Nathan tadi, tidak seperti biasanya dia berbicara panjang lebar seperti itu. Entah mengapa tiba-tiba Clara merindukan Nathan yang dahulu selalu berada didekatnya dan selalu saja mengomel jika Clara keras kepala. "Maaf." ucap Clara lirih. "Ya udah gue antar sampai warung." balas Nathan sambil mengelus pipi Clara Deg... "Please Clara, lo harus bisa kendaliin perasaan lo, jangan sampai lo sakit hati lagi." batin Clara. "Tapi kak.."ucap Clara. "Gak ada alasan untuk penolakan, gue gak terima penolakan lo." potong Nathan saat Clara ingin menolak ajakannya. "Iya udah deh." balas Clara pasrah. "Ayo, nanti hujannya tambah deras." ajak Nathan sambil merangkul Clara. Tidak terasa perjalanan mereka cukup terasa singkat. Sesampainya didepan warung Clara langsung saja membeli minyak goreng yang akan dibutuhkan. "Bu permisi, saya mau beli minyak gorengnya." ucap Clara ramah. "Iya, sebentar ya nak saya ambilkan." balas pemilik toko itu. "Berapa bu harga minyak gorengnya?" tanya Clara kepada sang penjual. "25 ribu saja nak." balas penjaga toko itu. "Oh, ini bu uangnya pas ya." ucap Clara. "Iya, terimakasih ya nak." ucap ibu itu. "Iya sama-sama bu, kalau begitu saya pamit ya, permisi bu." ucap Clara sopan Setelah itu mereka kembali ke sekolah, tetapi ditengah perjalanan mereka, ada suara petir yang sangat keras dan reflek Clara memeluk Nathan yang ada disampingnya sambil memejamkan mata. Nathan mematung saat Clara memeluknya, tanpa Clara sadari detak jantung Nathan berdetak lebih cepat dari biasanya. "Eh, maaf kak gue gak sengaja tadi." ucap Clara sambil melepaskan pelukannya. "Iya gak papa santai aja Clar, ya udah kita neduh dulu ya biar lo gak takut petir lagi di jalan." balas Nathan. Setelah itu mereka berteduh di suatu pos kampling tapi seperti sudah jarang dipakai. "Aduh dingin banget sumpah, tau gini gue bawa jaket dari rumah." batin Clara sambil menggosok gosok kan kedua tangannya agar hangat. Nathan yang dari tadi memperhatikan gerak gerik Clara, Nathan mengerti kalau Clara sedang kedinginan. Nathan melepaskan jaket yang dia pakai, lalu memakaikannya di bahu Clara. Tanpa Clara sadari hawa hangat mulai menyelimuti tubuhnya dan ternyata dia sedang memakai jaket, jaket itu milik Nathan. "Eh kak, kok dilepas jaketnya." tanya Clara kepada Nathan. "Enggak papa, kan lo kedinginan, daripada lo sakit lebih baik lo pake jaket gue aja, lagian gue juga suka dingin kok." balas Nathan bersamaan dengan senyum hangatnya yang membuat Clara terpana menatap senyum itu, senyum yang telah lama Clara rindukan. "Ma..makasi ya kak." ucap Clara canggung. "Gak usah canggung gitu kali, biasanya lo juga cerewet dulu." balas Nathan sambil terkekeh pelan menatap Clara yang canggung. "Apaan sih, itu kan udah lama banget." ucap Clara sambil menyembunyikan senyumnya. Hening... Dan Nathan yang sangat tidak menyukai suasana hening serta canggung ini, Nathan mulai memecahkan keheningan ini dengan mengajak Clara berbicara. "Clar, gue boleh ngomong sesuatu?" tanya Nathan. "Boleh aja, memang ngomong apa sih kak kok serius gitu mukanya." balas Clara sambil tersenyum canggung. "Gue rindu sama lo Clar." ucap Nathan. Damn... Bagai ditusuk beribu ribu pisau hati Clara mendengar ucapan Nathan tadi. Pertahanan hati Clara yang sudah lama dia bangun kini perlahan mulai runtuh. Dia tidak tau harus bersikap bagaimana untuk sekarang ini. "Gue, rindu sama lo yang dulu Clar, gue mau lo yang dulu, gue rindu lo jadi sahabat gue Clar, lo mau kembali ke gue seperti dulu Clar?" lanjut Nathan dengan tatapan mata yang sendu. "Apaan sih kak ada-ada aja, kan kita sekarang ketemu, jadi gak rindu kan?" tanya Clara sambil merasakan hatinya teriris. "Gue serius Clara, gue rindu sama lo, gue ngerasa lo berubah, apa karena masalah itu dulu? jujur gue rindu banget Clar." balas Nathan. Clara hanya diam tidak menjawab pertanyaan Nathan. Clara merasakan sesak dan perih dihatinya. Jika saat ini Clara bisa berteriak sekencang-kencangnya, maka dia akan berteriak sekarang juga menumpahkan segala perasaan yang dia pendam selama ini. "Gue juga rindu sama lo Nath, bahkan sebelum lo ngucapin kata rindu itu ke gue." batin Clara. Hening.. "Eh kak, udah agak reda nih hujan nya, lanjut jalan lagi yuk." ajak Clara membuyarkan lamunan Nathan. "Ayo." balas Nathan. Lalu mereka melanjutkan perjalanan kembali ke sekolah dan setelah mereka sampai, "Eh kak, makasih ya udah antar Clara dan pinjemin jaketnya, ini jaketnya." ucap Clara sambil memberikan jaket Nathan. "Iyaa sama-sama, gak usah bilang makasih begitu banyaknya juga. Dan ya, panggil gue Nathan saja, gak usah pakai sebutan 'kak'." balas Nathan sambil terkekeh lalu mengelus puncak kepala Clara. "Iya, kalau begitu gue mau ke teman-teman gue dulu ya." pamit Clara. "Iya Clar, hati-hati." balas Nathan sambil mengulas senyumannya. Clara hanya tersenyum hangat menanggapi Nathan, lalu Clara pun segera beranjak pergi dari hadapan Nathan. Perlahan detak jantung Clara mulai membaik, tidak seperti saat dia sedang berada didekat Nathan. Baginya berada didekat Nathan akan membahayakan kesehatan jantungnya. Sesampainya di Stan, Clara pun menyerahkan minyak goreng yang dia beli tadi. Sejenak Tania menatap Clara yang sedang mengukir senyuman manisnya, Tania merasa aneh, tidak seperti biasanya Clara selalu tersenyum manis seperti ini. Akhirnya Tania pun memutuskan untuk bertanya, "Lo kenapa Clar? lo gak ketempelan setan di warung pojok kan?" tanya Tania sambil bergidik ngeri. "Heh enak aja, apa-apaan gue ketempelan, gue masih waras ya Tan." balas Clara dengan nada sedikit sewot. "Ya kan kali aja gitu, gue aneh aja, lo dari tadi senyum-senyum gak jelas gitu, kenapa sih?" tanya Tania. "Gue senyum-senyum? salah lihat kali lo." balas Clara dengan nada tak percaya. "Mana ada gue salah lihat, mata gue masih sehat Clara, gue tau lo lagi bahagia kan? coba sini cerita sama gue." ucap Tania. "Enggak kok, gue biasa aja tuh." balas Clara dengan mengangkat kedua bahunya acuh. "Alah, lo mah gitu, lo balikan sama kak Nathan?" tanya Tania menebak. "Balikan pala lo peang, jadian juga enggak." balas Clara dengan nada yang sedikit meninggi. "Terus apaan dong?" tanya Tania. "Gue tadi barusan ketemu dia, dia anterin gue ke warung, gue kan gak bawa payung tadi." jelas Clara. "Dia siapa? kak Nathan?" tanya Tania. "Iyalah siapa lagi." balas Clara. "Widihh, selamat ya sayang, sudah memasuki fase-fase pendekatan." ucap Tania dengan nada kegirangannya. "Dih apaan, gue cuma lagi berusaha berdamai aja dengan keadaan dan perasaan gue, gue gak tau bisa kembali sepenuhnya ke dia atau enggak." balas Clara. "Iya bagus dong, perlahan aja Clar, semua butuh proses." ucap Tania menasihati. "Iya deh." balas Clara sambil memutar bola matanya jengah. "Eh iya, kalau gitu gue mau pamit pulang duluan ya, soalnya gue juga mau pergi ke rumah saudara gue setelah ini." pamit Tania. "Iya udah sana, jangan lupa mandi ya, lo bau Tan." ucap Clara sambil terkekeh geli. Tania pun dengan spontan melotot dan mencium bau tubuhnya, "Sialan lo Clar, awas aja nanti, walaupun gue bau gue tetap cantik tiada tara." balas Tania dengan percaya diri. "Serah lo dah Tan." ucap Clara sambil menggeleng gelengkan kepalanya. "Udah ah, gue pergi dulu, bye Clara." pamit Tania sambil meninggalkan Clara yang hanya tersenyum menanggapinya. Hari larut begitu cepat, senja pun mulai menampakkan diri, kini saatnya untuk Clara kembali pulang kerumah untuk mengistirahatkan dirinya agar esok hari kembali bersemangat lagi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD