Sudah lama ya kita tidak bertemu, rindu rasanya saat kita bertukar cerita dan bercanda tawa tanpa memikirkan akan berpisah dengan keadaan seperti ini.
- Clara Alda -
Keesokan harinya hari terakhir ulang tahun SMA pelita, semuanya berjalan dengan mulus, kata-kata Nathan kemarin masih terngiang ngiang dibenak clara.
Flashback on
"Gue rindu sama lo Clara." ucap Nathan.
"Gue rindu lo yang dulu Clar, gue mau lo yang dulu, gue rindu lo jadi sahabat gue Clar." lanjut Nathan.
Flashback off
"Woy Clara, lo kenapa sih?" tanya Tania dengan wajah penasaran.
"Aelah, bikin kaget aja lo, gue baik-baik aja kok." balas Clara dengan mengulas senyumnya.
"Bohong, gue udah kenal sama lo sejak bertahun-tahun lalu Clara, lo gak bisa bohongin gue." ucap Tania dengan menatap Clara intens.
"Emang ya, gue gak bisa bohong sekalipun sama lo Tan." balas Clara dengan wajah lesu.
"Iya-iyalah, gue tuh gak bisa dibohongi, udah sih cerita sini sama gue." ucap Tania.
"Sebenarnya gue kemarin ketemu kak Nathan, dia sahabat gue dulu, lo tau gak dia bilang apa sama gue?" tanya Clara.
"Ya mana gue tau b**o, lo kan belum cerita sama gue." balas Tania dengan nada yang sedikit menyolot.
"Iya juga ya, jadi gini, dia bilang sama gue kalau dia rindu sama gue, dia rindu sahabatan sama gue. Gue bingung mau jawab apaan saat dia bilang gitu ke gue." ucap Clara menjelaskan.
"Berarti secara tidak langsung dia memberi kode ke lo Clar, dia ingin lo kembali sebagai sahabat dia, mungkin juga dia meminta satu kesempatan lagi ke lo." balas Tania.
"Iya lo benar juga sih Tan, tapi gue masih takut perasaan yang sudah lama gue pendam nanti akan terungkap." ucap Clara dengan menunduk lesu.
"Iya kalau itu sih pasti, gini ya Clara dengerin gue, semua hal rahasia itu pasti akan terungkap seiring berjalannya waktu, rahasia apapun itu termasuk rahasia perasaan lo ke kak Nathan itu pasti akan terungkap secara perlahan." balas Tania.
"Gue takut Tan, gue takut dia menjauh dari gue disaat dia tau perasaan gue yang sebenarnya." ucap Clara sambil menatap sendu ke Tania.
"Lo harus yakin dulu Clara, coba lo pikirin baik-baik dulu ya. Jangan sampai lo gegabah saat mengambil keputusan." balas Tania sambil menepuk pundak Clara pelan.
Hari berganti siang, terik matahari mulai menyinari bumi dan saatnya untuk Clara membersihkan stan kelasnya, lalu pulang ke rumahnya.
-------
Keesokan harinya, seluruh siswa berangkat seperti semula dan setelah diadakan ulang tahun SMA pelita akan diadakan penilaian akhir semester.
Skip..
Setelah penilaian akhir semester, ada waktu jeda untuk seluruh siswa class meet yang diisi dengan berbagai macam perlombaan yang diadakan oleh osis.
Perlombaan demi perlombaan berlalu, dan kini saatnya kelas X IPA 1 berlomba, kelas Clara mengikuti lomba basket.
"Eh Clar keluar yuk, nonton pertandingan." ajak Sari dan Tania.
"Ya udah deh ayo." balas Clara.
"Oke, saatnya kita menyaksikan pertandingan basket dari kelas X IPA 1." ucap mc yang mengisi acara itu.
"Eh, udah mau mulai tuh." ucap Tania.
"Iya-iya, gue juga tahu kali." balas Clara.
Semuanya masih terlarut untuk melihat pertandingan itu dan tanpa sengaja mata Clara menatap manik mata yang sudah tidak asing lagi baginya, siapa lagi kalau bukan Nathan.
"Eh Clar, itu ada mantan lo yang..." ucap Tania belum selesai, langsung dia menoleh ke arah Clara yang sedang beradu tatap dengan seseorang dan ternyata itu Nathan.
"Liatin aja terus Clar, sampai mulut gue berbusa juga gak bakal lo dengerin gegara lo liatin dia mulu." cibir Tania.
"Eh sorry-sorry, emang tadi lo ngomong apa Tan?" tanya clara.
"Aelah, itu bukannya mantan lo si Rafael itu?" tanya Tania lagi.
"Iya." balas Clara datar, karena dia sangat malas sekali jika membahas tentang Rafael.
Setelah Clara menjawab pertanyaan dari Tania mereka sama-sama diam, mereka larut dalam menyaksikan pertandingan itu.
Setelah tiga hari lamanya, para siswa diadakan class meeting. Sekarang tiba waktunya untuk penerimaan laporan hasil belajar, semua siswa tegang dan khawatir karena nilai mereka yang masih menjadi misteri.
Setelah semua orang tua mengambil rapot para anakknya. Clara yang langsung saja diajak pulang oleh mamahnya.
"Eh, gue balik duluan ya." pamit Clara kepada teman-temannya.
"Oke Clar." balas Sari dan Tania bersamaan.
"Duluan ya nak." pamit Sarah, mamah Clara.
"Iya tante, hati-hati dijalan ya" balas Tania dan Sari.
Setelah itu, tanpa sengaja Clara bertemu Nathan di lapangan, mereka saling bertatap mata, tetapi tidak ada satupun yang menyapa.
Mereka saling menatap cukup lama hingga akhirnya Clara lah yang lebih dulu tersadar.
Setelah penerimaan rapot kemarin, seluruh siswa SMA Pelita diliburkan selama 2 minggu, karena memang liburan akhir semester.
Selama liburan Clara mengisi hari liburnya dengan berbagai macam kegiatan untuk menghindari rasa bosannya saja. Dihari pertama liburan Clara membersihkan semua peralatan sekolahnya bukan hanya itu dia juga membantu membersihkan rumahnya. Setelah pertengahan liburan, Clara mulai bosan, lalu muncullah sebuah ide untuk dia memasak.
"Udah lama juga ya gue gak masak masak gini, kayaknya seru deh." gunam Clara.
Clara membuat dalgona coffee sambil menyiapkan bahan bahannya dia kembali mengingat ingat apa saja yang harus disiapkan.
"Mixer udah, s**u udah, es batu udah, kopi tanpa ampas udah, kurang apa lagi ya?" ucap clara sambil mengetuk ngetukkan jari telunjuknya di dahi menunjukkan seperti seseorang sedang mengingat ingat.
"Oh iya gula, gimana gue bisa bikin kalo gak ada gula nanti yang ada gak manis dong, ya walaupun gue udah manis sih." gunam Clara dengan percaya dirinya sambil terkekeh geli dengan ucapannya.
"Claraaa..." panggil Sarah.
"Iya mah, Clara di dapur" balas Clara.
Lalu setelah mendengar suara anaknya yang berada di dapur, Sarah pun menghampiri anaknya itu.
"Eh, bikin apa kamu pake di mixer segala?" tanya Sarah.
"Bikin dalgona coffee mah." balas Clara sambil mencampurkan seluruh bahan bahan.
"Eh, emang kamu bisa?" tanya sarah dengan nada menggoda dan tidak yakin.
"Yah mamah, bisa lah kan Clara jago masak." balas Clara sedikit menyombongkan dirinya.
"iya-iya, nanti kalau sudah jadi, mamah dicicipin ya." ucap Sarah dengan mengelus puncak kepala Clara dan terkekeh.
"Iya mah pasti, ini clara bikin banyak kok, nanti sekalian buat mamah deh" balas Clara.
"Ya udah, mamah mau ke supermarket dulu ya, kamu mau titip apa sayang?" tanya Sarah dengan nada lembut.
"Gak titip apa-apa deh mah." balas Clara.
"Ya udah, mamah pergi dulu ya." pamit Sarah.
"Oke mah, hati-hati ya dijalan ya." balas Clara.
Setelah beberapa minggu seluruh siswa menikmati liburannya, termasuk Clara yang menikmati liburannya dengan kegiatan-kegiatan seru lainnya, walaupun hanya kegiatan sederhana tetapi itu sangatlah seru bagi seorang Clara.
Hari ini hari Senin seluruh siswa SMA Pelita sudah berkumpul dilapangan, untuk melaksanakan apel pagi.
"Baik, saya rasa kalian sudah puas dengan liburan akhir semesternya, sekarang kita mulai belajar lagi dan untuk kelas kita rolling ya, nanti bisa dilihat dipapan mading." ucap pak Ikhsan kepala sekolah di Sma Pelita itu.
Setelah itu apel dibubarkan, lalu seluruh siswa berhamburan berebut untuk melihat kelas mereka masing-masing, tidak dengan halnya Clara dengan kawan-kawan. Clara sangat tidak suka berdesakan seperti sekarang, lebih baik dia menunggu sampai sedikit lega lalu dia melihatnya.
Setelah melihat pengumuman kelas tadi dimading, Clara menduduki kelas 11 IPA 4 dan Tania serta Sari di kelas 11 IPA 3.
"Eh Clar, lo di kelas apa?" tanya Tania.
"Kelas 11 Ipa 4." balas Clara.
"Yah, kita gak sekelas dong." lirih Sari.
"Udah enggak papa, kita masih tetep bareng-bareng kok, lagian juga kelas kita deket ya kan Clara?" tanya Tania.
"Iya lagian nanti kalau istirahat gue juga bakalan main-main ke kelas lo berdua." balas Clara.
"Iya udah deh." ucap Sari.
Setelah itu mereka memasuki kelas mereka masing-masing, disaat clara akan memasuki kelasnya dia seseorang yang sangat familiar baginya di kelas seberang.
Dia adalah Nathan, laki-laki itu tampak santai memasuki kelasnya.
"Ternyata dia dikelas 12 IPA 1." gunam Clara sambil melihat kearah Nathan.
"Ah bodoamat lah, ngapain juga gue ngurusin dia, ingat Clara lo harus bisa lupain dia, lo harus bisa." batin Clara sambil meyakinkan dirinya sendiri.
Lalu Clara mulai memasuki kelas barunya, dan melanjutkan aktivitasnya sebagai seorang pelajar.