Penjelasan Nathan

1322 Words
Setelah beberapa bulan setelah pembagian kelas itu, kini Clara benar-benar tidak bisa melupakan Nathan. Clara sudah bersikeras untuk melupakannya, tetapi takdir mempertemukan mereka kembali. Disuatu ketika, "Eh Clara, nanti lo bisa temenin gue ke kelas 12 IPA 1? gue mau buat laporan nih, tugas ekstrakulikuler gue ini." ucap Tania dan diangguki oleh Sari. "Iya, nanti gue ikut deh." balas Clara santai. Setibanya di kelas itu, Sari dan Tania pun mulai sibuk mencatat data yang dikumpulkan dari pada siswa kelas 12 IPA 1 itu, kebetulan pula dikelas itu sedang tidak ada pembelajaran. Clara yang sendari tadi merasa bosan, memilih untuk bergabung dengan Sari dan Tania yang sedang sibuk mendata. "Eh Sar, Tan, masih lama gak? gue bosen nih disini, dari tadi lo berdua sibuk sendiri sampai-sampai gue dicuekkin, gue kan gabut jadinya." oceh Clara sambil merengut kesal. "Iya-iya sebentar, kalau lo bosen coba lo ke pojok baca disana itu, nanti lo bisa baca-baca buku yang disana." ucap Tania sambil menunjuk kearah pojok baca diujung kelas itu. "Iya dek, disana juga ada beberapa buku yang menarik yang bisa lo baca." ucap salah satu kakak kelas Clara yang sendari tadi ikut mendengarkan perbincangan antara Clara dengan temannya. "Iya deh kak." balas Clara malas, dan mulai berjalan menuju pojok baca itu. Disana memang sangat menarik, dekorasinya yang indah, buku-buku yang tersusun rapi di rak buku, terdapat berbagai macam novel, buku cerita, pengetahuan, fiksi dan masi banyak lagi. Setelah Clara selesai memilih novel yang akan dia baca, dia mengambil salah satu novel yang menarik perhatiannya dan tanpa sengaja saat tangan Clara terulur untuk mengambil novel itu, ada tangan lain pula yang ingin mengambil novel itu, tangan mereka pun tanpa sengaja bersentuhan. Clara terkejut dan menoleh siapa orang itu dan ternyata dia adalah Nathan. "Clara." panggil Nathan dengan nada terkejut. "Kalau lo mau baca bukunya terlebih dahulu, gak papa dek." lanjut Nathan agak terkejut akan kehadiran Clara. "Eh enggak perlu kak, biar gue baca yang lain aja." balas Clara dengan sedikit gugup dan mulai mencari novel lainnya. "Kok lo bisa lupa sih Clar, disini kan kelasnya Nathan. Duh, b**o banget gue." batin Clara menggerutu. "Iya deh, nanti aja gue bacanya, ngomong-ngomong ngapain lo disini?" tanya Nathan dengan nada penasaran. "Itu nganterin temen buat mendata kesehatan." balas Clara sambil menunjuk ke arah Tania dan Sari yang sedang sibuk mencatat. "Oh, boleh gak gue minta waktu lo sebentar aja buat ngomongin hal penting?" tanya Nathan dengan hati-hati takut jika Clara menolak ajakannya. "Emm, iya deh boleh." balas Clara. "Okey, kita duduk disana yuk." ajak Nathan sambil menunjuk bangku yang disediakan untuk membaca buku-buku itu. "Iya." ucap Clara. Setelah mereka duduk, Clara merasakan kecanggungan menyelimuti mereka dan akhirnya Nathan pun angkat bicara. "Jadi gini, gue mau jelasin tentang kejadian dulu waktu kita SMP." ucap Nathan. "Kejadian yang mana?" tanya Clara pura-pura tidak mengetahui hal itu. "Kejadian yang waktu itu, gue tiba-tiba berubah dan menjauh dari lo Clara." balas Nathan. "Oh itu, gue udah lupain kok." ucap Clara sambil tersenyum terpaksa, jujur saja bagi Clara, itu kejadian yang sangat melukai hatinya. "Bukan gitu Clar, gue mau jelasin aja kalo disaat itu gue bener-bener gak tahu kenapa gue bisa berubah serta menjauh dari lo, dan bisa-bisanya gue menerima Putri sebagai pacar gue." balas Nathan penuh sesal. "Oh itu, gue juga gak tahu kalau soal itu, jujur gue udah maafin lo kok kak, bukan lo yang salah waktu itu tetapi waktu lah yang salah menempatin gue saat itu." ucap Clara. Flashback on.. Dulu waktu Clara masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama, Nathan menjadi kakak kelas Clara. Dulu Clara adalah anak yang sangat perduli terhadap sekitar. Dia tak menyangka jika teman nya sendiri akan menusuknya dari belakang. Dulu ada teman Clara yang bernama Putri dia sering bercerita tentang lelaki yang membuat Putri jatuh hati. Dulu Clara dan Putri sering sekali bertukar cerita tentang laki-laki yang mereka cintai dan tanpa mereka ketahui mereka mencintai laki laki yang sama. "Eh Clar, besok gue kenalin deh sama cowok yang gue suka." ucap Putri. "Iya siap, harus dikenalin ke gue pokoknya." balas Clara sambil tersenyum. Hingga suatu ketika mereka merencanakan suatu pertemuan antara Clara, Putri dan pacar Putri. Saat pertemuan itu Clara tiba terlambat dan saat itu pula seakan akan dunia Clara runtuh seketika. Disuatu cafe, Clara dan Putri akan bertemu, Putri akan mengenalkan pacarnya kepada Clara. "Hai Clara, sini-sini." sapa Putri sambil melambai lambaikan tangan kepada Clara. Clara pun merasa dirinya dipanggil dia menoleh dan tersenyum tipis pada Putri, setibanya di meja pesanan Putri, Clara langsung saja duduk dan clara belum mengetahui siapa pacar Putri karena Putri mengatakan jika pacarnya sedang izin ke toilet. "Eh Put, mana pacar lo? katanya dia mau dateng." tanya Clara penasaran. "Iya, sebentar deh Clar, dia lagi di toilet tuh, sabar kali." balas Putri sambil meminum jus pesanan nya tadi. "Eh, lo tadi udah gue pesenin jus jambu kesukaan lo." ucap Putri. "Iya, thanks ya." balas Clara. Setelah itu mereka berbincang bincang sedikit dan tiba-tiba saja ada seorang laki-laki yang datang ke arah mereka. "Maaf ya lama, soalnya tadi toiletnya antri." ucap pacar Putri. Putri dan Clara yang sedang asik berbincang pun akhirnya menoleh bersamaan. Dan seketika saat Clara menoleh dia terkejut siapa yang datang dan dianggap pacar oleh Putri, dia adalah Nathan. Nathan yang ia cintai pula dan ternyata kini Clara mengetahui apa penyebab Nathan tiba-tiba saja berubah dan menghilang, Nathan dan Clara sudah bersahabat tetapi tidak ada yang mengetahui satupun kecuali mereka sendiri dan Tuhan. Nathan tak pernah menceritakan tentang satu perempuan pun dan itu membuat Clara yakin jika Nathan juga punya perasaan yang sama dengannya. "Iya enggak papa, eh iya kenalin ini temen aku yang aku mau kenalin ke kamu." ucap Putri. Clara masi terdiam dan berusaha mencerna kata-kata Putri dan berusaha meyakinkan kalau itu hanyalah mimpi buruknya. "Kak Nathan?" ucap Clara pelan. "Eh Clara ya?" balas Nathan seperti orang yang tidak mengenal Clara sama sekali. "Iya." ucap Clara tersenyum miris. Setelah beberapa menit berbincang-bincang Clara yang sudah tidak kuat menahan air matanya dia memilih pamit untuk pulang kepada Putri. "Eh Put, gue pamit dulu ya, gue masih ada urusan sama nyokap soalnya." pamit Clara berbohong. "Yahh, padahal gue masih mau ngobrol sama lo dan kak Nathan juga kan, ya kan kak?" tanya Putri. "Eh...iya." jawab Nathan canggung. "Next time aja ya." balas Clara sambil tersenyum terpaksa. "Oke deh, hati-hati ya Clar." ucap Putri. Sementara itu Clara hanya mengangguk dan memaksakan senyumnya. Andai aku tau dari awal jika kamu tidak pernah mencintaiku dan menganggapku ada aku tak akan jatuh cinta sedalam ini. Bodoh memang aku selama ini terlalu percaya padamu,dan kamu dengan seenaknya meninggalkan ku setelah semua harapan yang kamu berikan. - Clara - Flashback off.. Setelah Clara termenung beberapa saat setelah mengingat kejadian itu. Tania dan Sari pun menghampiri Clara. "Eh Clar balik yuk, udah selesai nih gue." ucap Tania sambil membereskan kertas-kertas data-data itu. "Eh ada kak Nathan, apa lo mau gue tinggal dulu Clar kalau urusan lo sama kak Nathan belom selesai mungkin?" tanya Sari. "Emm, tunggu diluar sebentar ya." pinta Clara kepada kedua sahabatnya. "Okey." balas Tania dan Sari secara bersamaan. "Clar gue benar-benar minta maaf ya, waktu itu gue pura-pura gak kenal sama lo, karena gue takut kalau Putri cemburu. Jujur gue merasa bodoh banget saat itu, bisa-bisanya gue bersikap seolah-olah gue gak kenal sama lo." ucap Nathan menyesal. "Iya enggak papa kak, gue juga udah maafin kok, meskipun luka itu masi ada jelas dihati gue." balas Clara sambil tersenyum terpaksa. "Maaf Clar." ucap Nathan sekali lagi. "Iyaa gak papa, gue balik ke kelas dulu ya." pamit Clara sambil beranjak pergi dari kelas Nathan. Nathan pun hanya menatap sendu kepergian Clara, dia merasa sangat menyesal sekarang ini. Maafkan aku belum pernah bisa membuatmu bahagia, maaf sudah pernah menggoreskan luka yang begitu amat dalam. Aku harap kamu mau memberikanku satu kesempatan lagi untuk memperbaiki semua yang telah terjadi. - Nathan -
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD