Egois kah diriku,jika memintamu kembali kepadaku seperti dahulu lagi? setelah semua yang aku lakukan telah membuatmu sakit.
- N A T H A N -
Dipagi yang cerah ini. Tepat pukul 04.30, Clara terbangun dari tidurnya. Dia segera mengambil wudhu untuk solat subuh. Setelah itu dia bersiap siap untuk pergi ke sekolah.
Sesampainya disekolah, ia segera pergi kekelasnya.Tetapi tepat setelah Clara duduk dibangkunya, ia mendapatkan chat dari teman alumni smpnya untuk mengambil ijazah di SMP nanti di jam istirahat 1.
Kringg...
Lonceng istirahat pertama sudah dibunyikan, dengan cepat Clara segera berkumpul di gazebo didepan dengan para teman alumni SMP seangkatan dengan Clara. Mereka segera pergi ke sekolah SMP mereka dahulu. Tetapi, tidak ada angin tidak ada hujan tiba-tiba saja Clara bisa bertemu Nathan saat Clara ingin izin ke guru BK untuk mengambil ijazah.
"Eh Clar itu ada kak Nathan, kakak kelas SMP kita itu lho." ucap Kayla.
"Iya gue udah tau kali." ucap Clara.
"Eh disapa dong kak Nathannya." titah Kayla kepada Clara.
"Iya ish bawel banget sih." cibir Clara kepada Kayla.
"Siang kak." sapa Clara pada Nathan.
"Siang juga dek." balas Nathan sambil tersenyum manis kepada Clara.
"Ciee disenyumin nih, bakalan ada yang pendekatan lagi nih." ucap Kayla.
"Apaan si enggaklah, gue udah berusaha ngelupain dia jadi jangan mulai plis gue gak mau ngungkit luka lama gue." ucap Clara dan tanpa sengaja didengar oleh Nathan.
"Maafin gue Clar, maaf udah nyakitin lo sekarang gue bakal tebus kesalahan gue ke lo dengan cara apapun gue bakal lakukan demi lo." batin Nathan.
Lalu mereka meneruskan perjalanan mereka menuju ruang BK untuk meminta izin untuk mengambil ijazah SMP mereka.
Nathan yang sendari tadi masih menatap kepergian Clara dkk. Akhirnya tersadar dari tatapannya karena angga baru saja menegurnya.
"Woi Nath, lama amat lo jalannya." ucap Angga dari tengah lapangan.
"Bacot lo." ucap Nathan lalu mendahului Angga.
"Etdah ini bocah kesambet apaan coba tiba-tiba dingin sama ngegas pula." ucap Angga heran.
"Ya elah Angga, lo kayak gak tahu aja sikapnya Nathan selama ini, dia emang dingin dari sananya kali." balas Irfan.
"Bener juga lo fan, tumben otak lo nyambung." ucap Angga sambil menyengir tak berdosa.
"Otak gue dari dulu nyambung kali." balas Irfan sambil menonyor kepala Angga.
"Anjir, kepala gue gak usah ditonyor juga bego." cerocos Angga.
"Terserah gue lah." ucap Irfan lalu meninggalkan angga ditengah jalan.
"Heh woi tungguin gue." teriak Angga sambil mengejar Irfan yang sudah meninggalkan dirinya.
"Cepet, lama banget sih lo." balas Irfan yang masih saja berjalan tidak memperdulikan Angga.
"k*****t lo fan." umpat Angga.
Skip..
Saat ini Nathan dan kawan-kawannya sedang berada dikantin. Mereka duduk di bangku paling ujung, untuk menghindari para fans fanatik Nathan yang terkadang suka sekali mencari perhatian Nathan.
"Mau pesen apa kakak-kakak ganteng kuh?" tanya Angga dengan nada lebay.
"Jijik gue sama lo Angga." ucap Irfan sambil bergidik ngeri.
"Ihh jangan gitu dong bang." balas Angga dengan nada genit.
"Najis, nyesel gue temenan sama lo." ucap Irfan dengan menatap sinis Angga.
"Najis." ucap Nathan singkat.
"Nah lo mampus lo, si raja kutub aja sependapat sama gue." ucap Irfan bangga.
"Bodo amat, mau pesen apaan lo berdua? buruan bilang, gue yang pesenin mumpung gue lagi baik, tapi tiap hari gue baik sih." ucap Angga.
"Bakso sama es teh." ucap Irfan.
"Oke, lo apa Nath?" tanya Angga kepada Nathan.
"Samain kayak punya si Irfan." ucap Nathan singkat.
"Oke siap, tunggu dulu ya kakak-kakak ganteng." balas Angga dengan mengedipkan sebelah matanya lalu beranjak ke arah penjual bakso di kantin itu.
"Najis." umpat Irfan sambil mengelus d**a.
Setelah beberapa menit kemudian akhirnya Angga kembali membawa pesanan mereka.
"Nih." ucap Angga sambil menyerahkan nampan yang berisi bakso dan es teh.
"Thanks bro." ucap Irfan sambil menepuk bahu Angga.
"Thanks." ucap Nathan singkat.
"Aelah santai aja kali, lo berdua mah gitu sok-sok kaku sama gue padahal biasanya juga laknatnya minta ampun." balas Angga dengan tatapan meremehkan.
Lalu mereka memakan makanan mereka dan disaat waktu makan angga bertanya kepada Nathan.
"Nath? itu tadi adek kelas yang nyapa kita bukannya adek kelas yang lo ceritain ke gue waktu itu?" tanya Angga kepada Nathan.
"Adek kelas kan banyak b**o, yang nyapa kita juga banyak. Kita kan kakak kelas jadi hukumnya wajib dong harus disapa." cerocos Irfan.
"Diem dulu lo, nanti juga lo tahu sendiri." balas Angga.
"Hmm." jawab Nathan dengan singkat.
"Hmm apaan sih b**o, lo kira lagunya Nisa Sabyan?" sewot Angga.
"Iya." jawab nathan.
"Ohh pantes lo lihatinnya sampai segitunya, masih ada sesuatu lo sama dia?" tanya Angga sambil dengan nada menggoda.
Nathan hanya menghela nafasnya lelah. Dia tidak tahu harus bagaimana menjelaskan hal itu kepada para sahabatnya.
"Gue masih belum lurusin masalah dulu, gue tau dia pasti udah berusaha keras melupakan kejadian itu, tetapi.." jawab Nathan menggantung.
"Tetapi apaan?" tanya Angga dengan wajah penasaran.
"Gue pengen dia balik ke gue seperti dulu." ucap Nathan lirih.
"Gini ya bro, inget kehidupan dia gak harus stay sama lo. Ada saatnya dia buat pergi dari lo, terlebih lagi lo udah pernah buat dia sakit hati. Emang sih gak ada salahnya lo buat berusaha jelasin dan bikin dia balik sahabatan sama lo, tetapi nih ya, lo juga gak bisa maksa dia buat kembali." ucap Angga sambil menepuk pundak nathan.
"Gue tau, yang pasti gue pengen dia balik ke gue seperti dulu. Gue mau dia jadi sahabat gue yang selalu tersenyum dan tertawa, tapi jika gue diberi kesempatan, gue mau dia jadi pacar gue, jujur gue masih ragu sih sama perasaan gue, tapi gue sejauh ini yakin kalau gue suka sama dia." balas Nathan sambil menatap kearah Angga serius.
"Menurut gue sih, mendingan lo yakinin aja diri lo soal perasaan lo itu, gue takut yang lo rasain itu bukan cinta tetapi hanya sekedar rasa rindu dan sayang sebagai sahabat aja." ucap Angga dengan nada seriusnya.
"Widihhh, tumbenan lo bener Angga. Biasanya juga lo gak pernah bener." ucap Irfan.
"Wahh parah lo fan, gue dari dulu emang bener sih. Gue sengaja aja bersikap gini biar temenan kita kagak garing-garing amat gitu." sewot Angga.
"Ya kan, kali aja lo gak bisa berfikir sampai segitunya, tapi lo bener juga sih, daripada masih ragu mending yakinin aja dulu deh, nanti kalau lo asal-asalan dikira lo mempermainkan hati perempuan lagi." balas Irfan.
"Nah kan bener apa yang gue bilang, udah deh ikutin saran kita-kita aja dulu, kita takutnya kalau lo terlalu gegabah Nath." ucap Angga dengan nada sedikit ngegas.
Karena Angga berbicara dengan nada yang cukup terdengar sangat keras, itu membuat seluruh orang yang berada di kantin menatap heran kearah mereka. Tetapi tidak dengan para fans Nathan, mereka justru menatap tajam kearah Angga dan Irfan seakan akan seperti singa yang sedang kelaparan.
"Fan, lo ngeri gak sih ditatap begitu sama para fansnya sih raja kutub ini?" tanya Angga sambil mengusap tenguk lehernya yang terasa merinding.
"Raja kutub siapa?" tanya Irfan dengan wajah cengonya.
"Ck, dasar ini bocah kenapa jadi lemot begini sih otaknya." gerutu Angga.
"Ya kan gue emang gak tau d***o, makannya gue tanya." balas Irfan.
"Itu yang gue maksud si Nathan, gue jadi serem deh karena bahas cewek sama si Nathan, berasa mau ditikam gue sama para fansnya dia." ucap Angga.
"Iya bener juga lo, gue juga ngeri nih. Mendingan kita bahas yang lain aja dah, ngeri gue lama-lama ditatap sinis gitu sama fans Nathan." balas Irfan sambil bergidik ngeri.
"Ck, gak usah lebay deh." ucap Nathan sambil memutar bola matanya jengah.
"Lo mah enak tinggal pasang wajah datar, lah gue berasa mau dikeroyok sama para fans lo itu." balas Angga sambil melahap makanannya.
"Udah diem, makan aja, nanti keburu bel masuk." ucap Irfan menengahi.
Kringgg...
Bel masuk telah berbunyi, seluruh siswa yang berada dikantin maupun diluar kelas segera masuk kedalam kelas mereka masing-masing.
"Eh masuk yuk, udah bel nanti kita kena hukuman lagi." ajak Irfan.
"Tenang aja sih, palingan juga hukumannya bersihin toilet kan?" tanya Angga.
"Tenang gimana, lo mau bersihin toilet? kalau gue sih males banget, mendingan juga lari keliling lapangan." balas Angga.
"Apaan lari keliling lapangan, justru lebih enak bersihin toilet aja. Apalagi kalau toilet perempuan." ucap Angga.
"Dasar m***m lo." ucap Nathan sambil menatap tajam Angga.
"Mampus lo kena semprot kan sama si Nathan." ucap Irfan.
"Ampun bang, dedek khilaf." balas Angga sambil menyengir tak berdosa kepada Nathan dan Irfan.
"Udah ayo balik ke kelas." ajak Nathan lalu berjalan mendahului Irfan dan Angga.
Lalu Irfan dan Angga segera menyusul Nathan untuk kembali ke kelas mereka dan melanjutkan aktivitas belajarnya.