LC 21B

780 Words
Barat tidak menjawab. Dadanya sesak. Ia ingin membela Reya. Ingin bilang bahwa semua ini bukan salah Reya. Bahwa dialah yang merusak semuanya. Tapi kata-kata itu tidak akan pernah keluar. Karena Tania, wanita ia janjikan bersama di masa depan bersamanya, kini sedang tersenyum di depannya dengan penuh kepercayaan. Tania kemudian berdiri dan beralih duduk ke sebelah Barat. Ia menyenderkan kepalanya di bahu pria itu. "Aku sayang kamu." Barat menatap Tania yang tersenyum dengan cantik di depannya. Tangannya terangkat pelan, membelai rambut Tania. "Aku tahu, aku juga sayang kamu." Lalu Tania mengangkat wajahnya, dan mereka berciuman. Ciuman yang hangat, penuh kasih sayang, tapi tak lagi membawa gejolak yang sama. Bagi Barat, itu hanyalah bentuk pertahanan dari kehidupan yang mulai retak di belakang layar. Barat tak sadar, tak mau menyadari bahwa sebenarnya semua sudah berubah. Ketika ciuman itu berakhir, Tania tersenyum puas. "Ayo pulang, gimna kalau kami nginap di rumah aku malam ini, ya?" Barat diam sesaat, Tapi akhirnya ia mengangguk. "Okay. Boleh aku nginep di sana." *** Reya duduk di tepi tempat tidur, matanya kosong menatap dua garis merah muda pada tespek yang ia genggam erat. Positif. Tak ada suara. Hanya hening, seperti dunia di sekitarnya tiba-tiba berhenti. Ada ketegangan, rasa takut yang ia rasakan di d**a, terlalu menekan perasaannya, namun Reya tetap tak bisa menangis. Hanya perasaan kosong yang mengisi ruang hatinya. Dengan tangan yang gemetar, ia membuka ponsel dan memotret hasil tespek itu, lalu mengirimkannya kepada satu nama di ponselnya, Barat. Tak ada kata-kata yang ia ketik. Hanya gambar itu. Beberapa detik kemudian, centang biru muncul. Barat: Aku usahain pulang cepat. Lagi sama Tania. Reya menatap layar ponsel, mulutnya kering. Ia tahu apa artinya ini. Semua yang ia coba hindari, kini datang juga. Perasaan yang ia pendam dalam-dalam selama ini, kini memuncak dalam bentuk ini. Setelah beberapa saat, Barat datang ke apartemen Reya. Pintu diketuk pelan, dan saat dibuka, Reya berdiri di sana dengan wajah kosong, sedikit pucat, matanya lelah. "Aku cuma mau pastikan," kata Barat ketika masuk ke dalam, suaranya agak tergesa. "Kamu udah minum obatnya? Obatnya di tempat bi—" Reya mengangguk, memotong ucapan Barat tanpa menatapnya. "Udah. Tapi —belum ada reaksi." Barat duduk di kursi dekat tempat tidur, mencoba membaca ekspresi Reya yang seolah menutup diri. "Kalau gitu kamu istirahat, ya. Nanti juga ada reaksinya." Reya tak menjawab. Tangannya memeluk lututnya, tubuhnya sedikit menggigil. "Obatnya belum bereaksi apa-apa, Pak. Dulu, reaksinya cepat banget. Saya takut ...." Barat menatap Reya, perasaan bersalah mulai menyelusup. Tapi ia tak ingin menunjukkan itu, sambil sedikit menyangkal rasa bersalahnya. "Tenang aja, semua aman. Saya udah pastikan itu obat terbaik," jawabnya dengan suara sedikit lebih pelan. Reya mengangkat wajahnya, matanya merah, tak ada kebahagiaan di sana. "Pak, apa bapak nggak pernah merasa bersalah? Semua ini, semua keputusan kamu." Barat mengerutkan kening, bibirnya sedikit gemetar menahan kata-kata yang seharusnya keluar. "Ini demi aku dan kamu, demi masa depan kamu." "Apa memang seperti itu?" tanya Reya dengan suara serak. "Apa demi masa depan saya, Bapak rela bunuh darah daging bapak sendiri?" Barat merasa ada sesuatu yang menusuk hatinya, tapi ia berusaha menenangkan dirinya sendiri. "Reya, ini bukan seperti yang kamu kira... Aku nggak mau semuanya hancur. Kamu tau kan perjanjian itu." Reya menunduk. Wajahnya lelah, matanya sayu. "Kalau saya tetap hamil, gimana?" tanyanya, suaranya pelan menahan perasaannya sendiri. Barat terdiam beberapa detik, lalu menjawab dengan tegas, "Nggak boleh." Reya merasakan hatinya hancur. Kata-kata itu menyesakkan d**a, dan dia bisa merasakan tubuhnya semakin lemah. Namun, ia tetap diam. Apa yang bisa dia katakan lagi? Semua yang terjadi, sudah tak bisa lagi dihentikan. Mereka hanya berdua, terjebak dalam perjanjian yang tak bisa mereka hindari. "Tolong, jangan pergi dulu ," Reya tiba-tiba berkata dengan suara pelan, tubuhnya mulai merasakan reaksi. Barat mendekat, namun Reya dengan cepat menghindar, merasakan sakit yang lebih dalam dari apapun yang pernah ia rasakan. Fisik dan perasaan yang semakin berantakan. "saya cuma butuh waktu. Untuk tidur. Untuk istirahat." Barat mengangguk lalu berdiri. "Oke, saya temenin kamu. Nggak akan kemana-mana." Barat duduk di samping tempat tidur, diam-diam menatap Reya yang terbaring. Ia bisa melihat bagaimana tubuh Reya bergetar sedikit, mungkin karena rasa sakit yang datang lebih kuat. Reya merintih pelan, seolah setiap bagian tubuhnya dipenuhi rasa perih yang tak tertahankan. "Saya di sini," kata Barat dengan suara pelan, berusaha meyakinkan diri sendiri. Ia meraih tangan Reya yang tergeletak lemah di samping tempat tidur, menggenggamnya erat, berharap sedikit kekuatan bisa ia berikan. Namun, semakin lama, semakin terlihat jelas betapa Reya menderita. Dia menggigil, tubuhnya terkulai lemas, dan matanya tak bisa lagi menahan air mata yang akhirnya jatuh begitu saja. "Reya maaf…" Barat berbisik, suaranya penuh penyesalan. Ia merasa benar-benar tak berdaya, tapi ia tahu ia tidak bisa lagi mengubah apapun. Semua sudah terlalu jauh.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD