LC 21

873 Words
Suasana ruang kerja Barat dan Reya sedang membahas jadwal kerja. Terdengar suara laptop yang sesekali menimbulkan bunyi ketikan. Reya duduk di sisi kanan meja, tangannya memegang buku agenda kerja yang dibuka separuh, mencocokkan jadwal meeting dengan kalender digital milik Barat. "Kamis jam sembilan, Bapak kosong, ya? Saya masukin jadwal review keuangan divisi marketing." Suara Reya terdengar datar. Barat mengangguk pelan. "Oke. Jumat sore kosong juga?" "Iya. Saya memang sengaja kosongin buat meeting vendor." Reya baru akan menambahkan catatan kecil ketika pintu ruangan terbuka. Seorang perempuan bergaun krem dengan sepatu hak tinggi masuk dengan percaya diri. Wajahnya bersih, make-up-nya tipis tapi elegan. Rambut panjangnya dikuncir rendah. "Tania?" ucap Barat, segera berdiri dan menyambut perempuan itu dengan senyum lebar. "Kamu udah sampai?" Tania tertawa pelan, lalu mencium pipi Barat dengan cepat. "Kangen," bisiknya. Reya langsung menunduk, pura-pura sibuk dengan agenda di tangannya. "Kenalin," kata Barat, menoleh ke arah Reya. "Ini Reya. Dia ini asisten pribadi aku. Selain Satrio." Reya berdiri, memaksa senyum. "Halo, saya Reya." Tania mengangguk singkat. "Hai." Tatapannya dingin, menelusuri Reya dari ujung rambut sampai ujung kaki. Lalu ia tersenyum tipis. "Kamu yang suka bantu di ruangan ini, ya?" Reya merasa dadanya mencelos. "Iya, betul Bu." Barat cepat-cepat memotong pembicaraan, "Aku kasih waktu kalian ngobrol nanti, ya. Sekarang aku selesaikan yang ini dulu." Reya merasa tak dibutuhkan. "Saya pamit ke pantry dulu, Pak," katanya pelan lalu tersenyum, sebelum akhirnya keluar dari ruangan tanpa menoleh lagi. Di dalam, Tania duduk manja di sofa. "Sayang, kamu nggak takut aku cemburu?" Barat tertawa kecil, duduk di sebelahnya. "Enggak, karena kamu nggak cemburu, kan?" Tania mencibir. "Ya enggak laj. Ngapain cemburu sama cewek gendut kayak gitu?" Ia memutar matanya. "Aku jauh lebih punya value dari dia. Cantik iya, pinter juga iya. Kalau bukan karena kamu kasihan, kayaknya dia nggak akan ada di posisi itu." Barat hanya diam, menahan napas. Kalau Tania tahu kenyataannya, mungkin dia tak akan semudah itu tersenyum. Reya berdiri di dapur, membuat kopi untuk tamu yang akan datang. Tangannya bergetar sedikit saat menuang air panas ke dalam cangkir. Ia tahu sejak tadi mata beberapa staf wanita lain mengarah padanya, dengan bisik-bisik yang tak bisa sepenuhnya ia abaikan. "Katanya dia itu bukan cuma sekretaris. Simpanan, loh. Masuk cepat, naik jabatan cepat, sekarang sering banget di ruangan Pak Barat." "Ada yang lihat lehernya tadi pagi? Ada bekas merah, loh. Duh, ngeri." Reya pura-pura tak dengar, tapi suara itu menyayat lebih tajam dari pisau. Ia tahu apa yang mereka katakan. Dan meski tidak semuanya benar, tidak juga sepenuhnya salah. Bekas di lehernya itu nyata. Jejak dari tangan dan bibir Barat tadi pagi, ketika Reya bahkan belum sepenuhnya sadar dari tidur. Bodohnya, ia membiarkan dirinya hanyut lagi. Lagi dan lagi. Tiba-tiba, mual itu datang. Menghantam perutnya begitu kuat hingga ia harus menahan meja dapur agar tidak jatuh. Napasnya tersengal. "Jangan-jangan—" Dia belum datang bulan. Dia terlalu sibuk menghitung waktu, dan tubuhnya terlalu lelah untuk sadar. Tapi rasa mual ini, seperti sebuah kesalahan. Ada firasat buruk yang merambat perlahan. Reya memutuskan untuk mengeceknya nanti malam. Diam-diam. Kalau benar, entah apa yang akan ia lakukan. *** Sementara Reya menahan mual di pantry dan mencoba menenangkan gejolak pikirannya sendiri, suasana justru begitu hangat di restoran hotel tempat Barat dan Tania makan malam. Angin malam berembus lembut dari sisi balkon, mengusap lembut rambut Tania yang tergerai rapi. Meja bundar mereka didekorasi simpel, hanya ada satu lilin yang menyala redup dan seikat bunga mawar putih dalam vas kecil. Pemandangan kota dari ketinggian terlihat seperti lautan lampu, gemerlap dan megah. "Tempat ini masih sama kayak dulu," gumam Tania sambil mengaduk perlahan wine-nya. "Udah lama ya gak ke sini?" Barat mengangguk pelan, senyumnya datar tapi sopan. "Ingat. Terkahir waktu kamu pulang dari Shanghai, pulang habis urus kerjaan papa kamu." Tania tertawa kecil. "Iya. Dan aku yang tiba-tiba ajak aku ke sini, terus bilang kamu kiss aku di sini, sekarang aku gak nyangka hubungan kita bisa terus berjalan seserius ini." Barat diam. Hatinya berkecamuk. Dulu ia sungguh ingin serius. Tapi sekarang? Ada hal terasa lain. Bukan karena perasaannya hilang, tapi karena hati dan pikirannya terpecah. Tania menatapnya, menyadari keheningan itu. "Sayang, kamu bahagia nggak, kita bisa ketemu berdua kayak gini?" Barat mengangguk, meski dalam hatinya ia bingung dengan jawabannya sendiri. "Sure, happy banget." Tania menggenggam tangan Barat yang diam di atas meja. "Aku tahu kita sibuk. Tapi aku selalu percaya, kamu pasti tetap sayang sama aku." Ia menatap dalam. "Kamu nggak selingkuh akan aneh-aneh kan?" Pertanyaan itu membuat napas Barat tertahan sesaat. Tapi ia cepat tersenyum, menarik tangannya perlahan dan menggengg6 jemari Tania. "Enggak akan aneh-aneh. Aku tetap sama kamu." Tania tertawa pelan. "Ya. Aku juga nggak mungkin kalah saing, kan? Sama sekretaris Kamu itu. Kamu lihat sendiri tuh tadi, perempuan gendut kayak gitu. Mau cemburu juga nggak tega." Barat menunduk. Tawa Tania yang biasanya menyenangkan, malam ini terdengar seperti pisau yang menggores kulitnya. "Lagipula," lanjut Tania, memainkan gelas wine-nya. "Kalau aku di posisi kamu, aku juga pasti kasihan. Mungkin. Makanya kamu bantu dia. Tapi jangan sampai kasihan berubah jadi kebiasaan ya, nanti susah lepasnya." Ia tertawa lagi, kali ini sambil memandang wajah Barat lekat-lekat. Barat tersenyum kaku. "Dia cuma kerja buat aku, Tan. Profesional aja." "Kamu pasti tahu, dia kelihatan naksir kamu, kan?" Tania mencondongkan tubuhnya. "Itu kelihatan banget. Dia nggak jaga jarak."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD