Malam ini Reya duduk bersandar di kursi, menyelesaikan lembar terakhir dari tugas akhirnya. Mata lelahnya membaca kalimat demi kalimat, mencoba fokus meski pikirannya jauh melayang. Pertunangan Barat dan Tania. Sesuatu yang seharusnya tidak perlu menganggu dirinya.
Reya sendirian. Lagi-lagi. Seperti saat ayahnya pergi, seperti malam-malam penuh kesedihan itu. Reya merasa sudah terbiasa melewati itu. Tiba-tiba, suara bel berkali-kali menggema di pintu. Sebelum akhirnya berhenti dan pintu terbuka. Reya menoleh, ragu. Apakah Barat?
Tak lama seseorang masuk, benar itu Barat. Pria itu berdiri di ambang pintu, lalu berjalan masuk. jasnya masih rapi, tapi wajahnya terlihat kusut. Matanya merah, entah karena lelah atau alkohol atau perasaan yang dia sendiri tak bisa pahami.
"Pak Barat?" Ada rasa cemas dalam hati Reya. Ia berdiri dan membantu barat berjalan lalu duduk di sofa.
"Saya butuh kamu," katanya pelan, nyaris seperti gumaman tapi jelas ia serius.
Reya terkejut bagaimana bisa Barat menginginkannya setelah pesta pertunangan nya dengan Tania yang bahkan belum sehari. "Bapak baru aja tunangan."
"Saya tahu," jawabnya. "Tapi saya, enggak bisa tenang. Saya enggak bisa berhenti mikirin kamu." Barat bergerak mendekat mencoba mencium bibir Reya.
Reya mundur . "Pak Barat, jangan begini."
"Rey, saya cuma butuh kamu malam ini," suaranya terdengar kacau, tatapannya tajam menatap Reya penuh hasrat, tapi di balik itu semua, Reya kalau Barat benar-benar kacau.
Barat mendekat, lalu tiba-tiba memeluk reya dari samping. Reya berusaha menolah tapi Barat menahan dengan memeluk erat. "Jangan kemana-mana."
Apa yang dikatakan Barat buat Reya bingung dan kesal. Bagaimana bisa pria itu seegois ini?
Barat mencium pucuk kepala Reya, lama. Lalu berbisik, "Maafin aku, aku tahu aku egois."
Reya menutup matanya, suara barat membuat ia tak keruan, bagaimana pun, Reya mencintai pria itu. "Kenapa bapak kayak gini sih?"
Barat menggenggam tangannya, membawanya ke sofa. Dia menatap Reya lama, seakan ingin bicara banyak hal, tapi tak satu kata pun keluar. Barat juga tak mengerti apa yang dia rasakan.
Reya akhirnya duduk, tubuhnya lelah, jiwanya lebih lelah. Dia memalingkan wajah ketika Barat mencoba mencium pipinya. "Saya gak bisa Pak, saya lagi masa subur."
Barat terdiam. Reya tahu dia mengerti. Tapi nafsu dan rasa bersalah selalu jadi racikan paling berbahaya dalam hubungan mereka. "Kalau memang harus, kita pakai pengaman, ya?" ucap Barat jelas seperti sebuah permohonan yang memaksa.
Sesaat Barat tak diam, dia menatap reya dengan perasaan Campur aduk. "Saya jaga kamu malam ini, Reya. Kita pakai pengaman ya?"
"Pak, bapak habis umumkan pertunangan. Apa enggak merasa—" Reya belum selesai dengan kata-katanya sebelum barat membungkam bibir Reya dengan bibirnya. Mencium dengan memaksa bahkan Reya tak bisa bergerak leluasa.
Barat dan alkohol jadi perpaduan yang tepat sehingga ia tak punya energi barang sedikit untuk melawan. Reya tetap berusaha memberontak, Barat menekan tangan reya ke atas. Menatap dengan tatapan tak suka, tak suka karena telah ditolak.
"Kamu punya perjanjian itu Rey, kita dalam perjanjian dan kamu enggak berhak menolak." Barat menekankan.
Reya hanya diam, Barat bangkit memastikan Reya tak akan pergi. Ia berjalan ke kamar, pengambil pengaman. Setelahnya ia kembalikan ke ruang tengah. Membuka pakaian Reya yang telah pasrah. Reya bahkan tak bergerak membiarkan Barat bergerak sesukanya. Membuka pakaian dan menciumi seluruh tubuh Reya.
"Rey, panggil nama saya.* Barat mengerang frustrasi. Dia buruh Reya sebut namanya, desah, dan lenguhnya yang membuat Barat semakin menggila.
Reya masih diam, Barat menatap Reya, air mata reya menetes. Ia berharap malam ini Barat berhenti. Apa yang Barat lakukan membuat ia merasa menjadi wanita yang merebut Barat dari tunangannya.
"Kenapa kamu nangis? Hmm?" Barat bertanya bukan iba, tapi karena kesal. Reya membuat hasratnya tiba-tiba saja hilang. "Kenapa kamu nangis?!"
Barat mencium Reya, seluruh bagian tubuh tanpa jeda, tanpa celah. Bahkan bibirnya mengulum menggoda tiap sisi yang ia harapkan bisa buat Reya desahkan namanya. Reya hanya diam, hatinya menolak keras. Meski ia tetap merasakan sensasi dari apa yang Barat lakukan.
Pria itu tak puas lalu menghentak dalam satu pergerakan. Tanpa memastikan reya siap.
"Akh pak!" Reya memekik akibat rasa ngilu yang ia rasakan.
Tapi itu membuat Barat semakin menggebu, dadanya bagai genderang bertalu talu, bergerak ikuti detak jantung dan hasratnya yang tak bisa lagi dikendalikan.
"Hmmph," lirih Reya. Merasa ngilu dan sakit. "Pak, sak—sakit."
"Oh Rey! s**t!" Barat memejam sambil bergerak dengan kepala yang terangkat. Rasanya begitu luar biasa. Ia tak bisa menahan pergerakannya yang tergesa-gesa. Barat ingin lebih lagi, membuat posisi mereka berubah meski sedikit memaksa Reya.
Ruang tengah dan lembar skripsi itu jadi saksi betapa Barat menggila malam itu. Malam setelah pertunangan. Barat gila, tak tau diri, dia katakan begitu mencintai Tania, tapi pikirannya dipenuhi oleh gadis yang selama ini hanya menjadi pemuas, menurutnya.
Ruangan itu kini penuh desah, reya juga sudah tak merasakan sakit. Namun tetap berusaha tak bersuara. Sementara barat semakin kuat bergerak, menarik rambut hitam panjang itu, menjadikan pegangan untuk ia tetap bergerak.
"s**t! Oh Rey! You fuvkin so good!" Barat merasa senang dan lega. Sampai tubuhnya bergerak cepat ikuti akhir permainan yang dia buat.
"Panggil nama saya Rey, please," desah Barat.
"Pak, Barat." Reya ucapkan lirih.
"Good, suara kamu bikin saya gila Rey! Damn! Arrgh!" Barat mengerang tak kuasa lagi menshan. Ia kemudian rebah di sofa, duduk sambil bersandar di samping Reya yang rebahkan tubuh di sana.
Dan malam itu, meski tubuh mereka bersentuhan, hati Reya tetap terasa bersalah. Dalam keheningan setelahnya, Reya menangis pelan di punggung barat yang membelakanginya. Sementara Barat duduk terdiam, menatap langit-langit, dihantui rasa bersalah yang menumpuk yang datang tiba-tiba. namun tak pernah cukup kuat untuk menghentikannya melakukan hal ini.