Ajeng bangun ketika matahari sudah meninggi. Ia sedikit heran mengapa setiap kali terbangun pakaiannya selalu saja berantakan seperti habis dibuka oleh seseorang. Siapa? Jelas Ajeng tidak tahu. Kalaupun Pangeran Satria bukankah tadi malam dia baru saja mengunjunginya. Wanita itu mencuci muka dan mengikat rambutnya tinggi-tinggi. Ia perhatikan Firman masih tertidur juga di ruang tamu. Seketika perut Ajeng keroncongan. Dengan kemampuannya, ia memasak nasi goreng cepat saji sebelum memulai hari. Terhitung sudah hampir dua minggu ia meninggalkan Candra sendirian bersama Dahlia. Wanita itu serius dengan tiruannya, takut bukan main dengan tatapan dingin Dahlia yang bisa saja membunuhnya sewaktu-waktu. “Beginilah nasib anak yang ditinggal mati kedua orang tuanya. Bahkan aku baru tahu kalau ib

