Kadang Kepo, Kadang Rempong!

1190 Words
Ting.. Ricky: mobil udah beres. Mau dianter apa diambil sendiri? Dinda: Bosok aja gue ambil. Tp temenin ya.. Ricky: Iyee.. Siangan gak papa? Dinda: Gak papa Ricky: kenapa gak minta temenin Febri aja? Dinda: Gak ah. Enakan minta tlg sm lo. We’re friends right? Ricky: Iyaaa.. besok lo yang ke sini apa gimana? Dinda: Gue aja yg ke sana. Nanti ke bengkelnya naik taxi aja. Ricky: Lo atur dah. Dinda: Maacih qaqa ricky Ricky: Iyee “Assalamualaikum.. Dinda..” terdengar suara Anto dari luar “Wa’alaikumsalam.. Tau aja lo gue mau ke tempat Ricky. Anterin ya” kata Dinda saat pintu rumahnya terbuka. “Dih, mau ngapain? Gue naik sepedah keles ke sininya” Tanya Anto “Yahh.. Mau ke bengkel. Mobil udh beres. Lo mau ngapain ke sini?” Tanya Dinda balik “Mau curhat” jawab Anto sambil duduk di teras depan. “Ihh.. udh ikut aja. Anterin gue sekalian curhat. Kl nungguin lo curhat dulu lama” kata Dinda memberi seakan solusi. “Ah males gue kl curhat ada Ricky. Lemes dia” jawab Anto dengan nada malas “Lah.. kaya lo gak lemes aja kalau ada yang curhat” jawab Dinda disertai tawa “Udh ayok jalan” ajak Dinda. Dengan agak malas Anto menurut. Mereka menuju cafe milik Ricky saat taxi online yang sudan dipesannya sampai. Setelah sampai di cafe milik Ricky.. “Lah ikut jg, To?” Tanya Ricky agak heran karna sebelumnya ia hanya janjian dengan Dinda. “Iyee” jawab Anto singkat “Mau curhat doi” kata ku “Sembari ajalan aja. Mau naik mobil gue apa gimana?” Tawar Ricky “Taxi aja. Biar baliknya bereng” usul Dinda “Dih.. masa gue curhat di taxi?” Protes Anto “Emang kenapa?” Tanya ku “Gak enak lah. Malu gue sm drivernya” jawab Anto. “Ya elah.. kan lo gak kenal sm driver taxi nya. Ngapain malu?” Kata Ricky heran Tau lo ah. Suka ngadi-ngadi. Udh ayok nanti macet” ajakku. Dan lagi-lagi Anto mau tak mau menurut. Bengkel.. “Bang..” sapa Ricky pada temanya yg juga pemilik bengkel “Oi ly.. sehat?” Sapa Bang Oki. “Kenalin Bang, ini Dinda yang punya mobil, ini Anto temen gue” kata Ricky meperkenalkan kami pada Bang Oki sang empunya bengkel. “Knalpotnya kemasukan air mba. Makanya jadi susah distarter. Kalau gak buru-buru dicek takut kosleting mobilnya. Tp sekarang udah ok kok. Mau di test dulu gak?” Terang Bang Oki. “Boleh Bang” jawabku setuju. Sambil menerima kunci mobil dari Bang Oki. Dan benar saja, mobilku sudah tak susah saat mesin dinyalakan dan enak dipakainya lagi. Setelah basa basi sebentar dan melakukan pembayaran kami pun pamit pada Bang Oki. Tak lupa Ricky mengajaknya untuk ikut mampir ke cafenya. Namun dikarnakan pelanggan bengkel sedang banyak Bang Oki tidak bisa ikut. Jarak dari bengkel ke cafe milik Ricky sebenarnya tidak begitu jauh, sekitar 40 menit. Namun dikarnakan jalanan yang lumayan ramai, waktu yang mereka tempuh menjadi 1 jam 15 menit. Maklum saat itu waktu telah menunjukan pukul 4:20 sore. Dan kebetulan lagi hari itu adapah hari Minggu. Saat merak sudah sampai di cafe, di sana sudah ada anggota Geng Kepompong lainnya. Yaitu Kartika, Okta, Silvy, Panji, dan Satria sedang berbincang. “Nih dia! Pada abis dari mana sih?” Tanya Panji. “Ngambil mobil” Jawabku saat sudah dekat. “Sama Anto juga?” Tanya Kartika “Iya. Kenapa emang?” Jawab Anto disertai pertanyaan lagi “Kalau Dinda yang punya mobil. Ricky yang nyaranin si Dinda ke bengkel temennya. Lah elo ngapain,To?” Tanya Satria heran “Dipaksa Dinda suruh ikut” jawab Anto cuek “Dih apaan? Si Anto tau-tau datang ke rumah gue. Mau curhat. Lo tau sendiri kan kalau dia currhat lama banget. Apalagi yang dicurhatin soal wanita. Bisa ampe subuh” terang Dinda “Lebai lo” saut Anto tak terima. Sedangkan teman-teman yang lain tampak menyetujui ucapan Dinda. “Lo kenapa gak minta anter si Febri aja? Kayanya dia ada rasa sm lo deh” kata Okta “Nah justru itu. Takut dikiranya gimana-gimana nanti sama dia” terangku “Iya juga sih. Emang lo gak ada rasa sama dia?” Tanya Satria “Kepo ah” ujarku malas menanggapi. “Lah kan Geng Kepompong. Kadang kepo, kadang rempong. Wajar lah si Satria kepo dan nih cewek-cewek pada rempong” jelas Ricky disertai anggukan dan tawa teman-temannya yang lain. “Jadi lo ada rasa sama dia gak, Beb?” Tanya Kartika padaku “Gak tau. Gue juga kan baru beberapa bulan putus sama Rama. Almost 5 years and it’s not easy to forget it. Need some space more” jelasku. “Terus si Jojo gimana?” Selidik Panji “Nah itu juga, Nji. I need to make sure about it. I’m enjoy the treat, ‘cause he treat me well. Perhatiannya juga. Tapi kan lo tau gue sama dia beda. Sooo different. It’s little bit hard for us” jelasku sambil mengaduk-aduk minuman “Nah! Both of you realize about it. So don’t push too hard” saran Panji “Bunda pernah bilang sama gue, dia ok ok aja kalau lo deket sm Jojo. Tp kalau untuk ke yang lebih serius dia minta lo pikir-pikir lagi” akhirnya Anto angkat bicara “Jangan sampe kaya si Silvy lo udh kecebur di hubungan kaya gitu. Jadi buat lepasnya mikirnya setengah mati. Bilang mau putus ampe sekarang kagak putus-putus” Ricky menambahkan “Lah kenapa jadi bawa-bawa gue?!” Saut Silvy seakan tidak terima. “Tapi emang iya, Beb. Mumpung belom terlalu jauh. Kalau udah cinta dan kelamaan mah ribet” lanjutnya diiringin tawa. Mungkin menertawakan hubungannya sendiri. “Sekedar saran aja ini mah. Coba lo pikir-pikir lagi lah. Bukan gue mau ikut. It’s your own life. You deside it. Just think about it. Ok?” Sambung Okta. Dan diangguki oleh yang lain. “Care banget sih lo pada sama gue. Jadi makin cinta dah” jawabku senang karna mereka sangat perhatian. “Perasaan tadi gue yang mau curhat. Kenapa jadi si Dinda?’ Kata Anto seakan tidak terima sesi curhatnya diambil alih olehku. “Ah curhatan lo palingan juga sama kaya minggu-minggu yang lalu, To” timpal Silvy lalu disambut tawa yang lain. “Balik lah gue” jawab Anto kesal “Gih balik. Tapi jalan kaki ya. Lo kan ke sini tadi bareng gue. Sepedah lo tinggal di rumah gue” sautku mengingatkan Anto kalau mereka tadi berangkat bersama menggunakan taxi online. “Iya juga ya. Ayok balik lah kalau gitu. Gue ngantuk” saut Anto “Gak jadi cerita?” Tanya Okta “Kagak” saut Anto sembari berjalan menuju arah keluar cafe diiringi tawa temanku yang lain “Balik yak. Juragan ngambek. Ky! Thanks ya” kataku pamit lalu menyusul Anto. “Hati-hati” jawab teman ku yang lain. Lalu kujawab dengan mengacungkan jempol tinggi-tinggi. ——————————————————— Kamu sangat berarti Istimewa di hati Selamanya rada ini Jika tua nanti Kita telah hidup masing-masing Ingalah hari ini *** Project Pop - Ingatlah Hari Ini
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD