“Assalamu’alaikum..” Joshua memberi salam saat ia sudah sampai di rumah Dinda.
“Wa’alaikumsalam..” jawab Bunda dari dalam rumah. “Eh.. Aduh.. siapa namanya ya? Bunda lupa” Lanjut bunda sembari tertawa
“Ayo coba tebak siapa bun” Tanya Joshua pada bunda yang juga ikut tertawa
Bunda tampak berpikir sejenak. “Jojo ya?” Tanya bunda memastikan
“Betuulll..” Joshua menunjukan kedua jempolnya pada bunda. Dan mereka pun tertawa bersama
“Kemana aja udah gak pernah main?” Tanya bunda lagi
“Kerja bun. Kemaren sempat ke Manado 1,5 tahun. Ada project di sana” terang Joshua
“Pantes gak pernah main lagi. Ayok masuk dulu. Tunggu di dalam. Bunda panggil Dinda dulu ya” Joshua pun mengikuti Bunda ikut masuk ke dalam rumah. Ia menunggu Dinda di ruang tamu.
Tak berselang lama Dinda datang. Diikuti bunda di belakangnya.
“Berangkat dulu ya bun” pamit Dinda lalu mencium tangan bundanya. Joshua pun melakukan hal yang sama sebagai tanda hormat.
“Assalamualaikum..” salam Dinda
“Wa’alaikumsalam.. hati-hati ya Joshua. Gak boleh ngebut-ngebut bawanya” pesan bunda
“Siap bun. Tenang aja” jawab Joshua. Lalu ia dan Dinda melambaikan tangan pada bunda sebelum mobil berjalan meninggalkan rumah Dinda.
Di perjalanan menuju Menara Merdeka, tempat kerja Dinda..
“Gue kayanya baru liat temen lo yang namanya Febri-Febri itu” kata Joshua memulai percakapan “anak baru?” Lanjutnya.
“Baru 3 bulanan ikut gabung. Dia temen SMP nya temen-temen gue” jawab Dinda
“Kayaknya dia suka deh sama lo” kata Joshua sambil matanya tetap fokus ke depan.
“Kata siapa?” Tanya Dinda
“Yee.. Kata siapa.. Kata feeling gue” jawab Joshua agak kesal
“Sok tau lo ah. Lo aja baru ketemu sekali sm dia” jawab Dinda tak kalah sengit.
“Lo tuh ya.. Gue juga kan cowok. Jadi bisa liat kalau dia tuh lagi usaha buat deket sama lo. Dari cara dia ngeliat & ngomong sama lo aja udah beda. Masa lo gak ngerasa sih?” Jelas Joshua
“Masa sih? Perasaan biasa aja” jawab Dinda masih denial dengan kata-kata Joshua barusan.
“Dasar gak peka” kata Joshua akhirnya.
Sebenarnya Dinda mulai menyadari kalau Febri sedang berusaha dekat dengannya. Namun ia tidak mau terlalu ambil pusing dengan itu. Karna ia masih belum ingin menjalin hubungan dengan siapa pun dulu saat ini. Walaupun hubungannya dengan Rama sudah selesai sejak 3 bulan yang lalu lebih. Dinda ingin menikmati masa sendirinya dulu tanpa mau dipusingkan dengan drama-drama yang ada dalam hubungan percintaan.
Perjalanan dari rumah Dinda menuju ke kantornya memakan waktu 1 jam 45 menit. Beruntung jalanan pagi itu tidak begitu macet.
“Jo, meeting jam berapa nanti?” Tanya Dinda sebelum turun dari mobil Joshua.
“ jam 9:30. Lo ada mau titip apa gak? Gue mau nyari sarapan. Laper tadi gak sempet sarapan” tanya Joshua menawarkan.
“Kasian.. gak usah deh. Makasih ya udh jemput” ucap Dinda
“My pleasure. Nanti pas makan siang jangan janjian sama siapa-siapa. Temenin gue makan iga bakar di sana” kata Joshua sambil menunjuk arah resto yang tak jauh dari kantor Dinda. “Terus nanti pulangnya bareng gue lagi” lanjutnya
“Dih.. posesif banget lo” protes Dinda
“Udah sana masuk” usir Joshua
“Iya.. Iya..” kata Dinda sembil turun
“Dinda!” Panggil Joshua lagi. “Kerja yang bener. Biar cepet kaya” kata Joshua
“Iyeee.” Jawab Dinda sambil turun dari mobil Joshua. Tak lama mobil pun melaju meninggalkan tempat drop off.
Pukul 9:20 sebelum meeting dimulai, Joshua menyempatkan mampir sebentar ke meja Dinda setelah bertanya pada OB.
Saat Joshua sampai meja kerja Dinda, ia sedang diskusi dengan Sam tentang pekerjaan yg mereka kerjaan.
“Nih. Biar gak ngantuk” kata Joshua sambil meletakan minuman yang ia beli di sebuah coffee shop langganan Dinda setelah selesai sarapan tasi. Satu cup besar caramel macchiato telah berpindah tangan pada Dinda.
“Wuiiihhh.. Baik banget lo. Tumben. Thanks ya” ucap Dinda yang hanya diangguki Joshua.
Cemungut eaa..
Pesan yang tertulis di cup minuman itu bikin Dinda tersenyum. Alay dasar.
Lalu Joshua meneruskan langkahnya menuju ruang meeting untuk membahas design baru untuk perusahaan tempat Dinda bekerja.
“Who is he? New guy?” Tanya Sam yg saat Joshua datang sedang berdiskusi tentang pekerjaan dengan Dinda.
“Nop” jawab Dinda singkat
“New boyfriend?” Tanya Sam lagi
“Bukan. Old friend” jawab Dinda lagi
“You’re looks so close. And the way he look at you feels different” kata Sam sambil memeprhatikan kepergian Joshua.
“Masa sih? Oya yg ini tadi gimana jadinya?” Tanya Dinda mencoba mengalihkan pembicaraan tentang Joshua ke pekerjaan.
11:10 meeting Joshua di kantor Dinda selesai. Ia memutuskan untuk segera kembali ke kantornya karna ada beberapa pekerjaan yg tertunda lalu dilanjutkan meeting pada sore harinya. Ia hanya mengirimi pesan singkat ke Dinda kalau mereka tidak bisa makan siang bersama seperti yang tadi mereka rencanakan saat berangkat kerja.
Pukul 4:55 sore, mendekati jam pulang kantor
Ting..
Jojo: Hei.. I’m sorry I can’t pick you up. The meeting is not finish yet. Do you want me to order the cab?
Chat dari Joshua.
It’s ok. I’ll text Panji. Hope he can drive me home. Semangat meeting nya ya
Send!
Tak beberapa lama pesan balasanpun masuk.
Joshua: I’m so sorry. I’ll text you later. Take care.
Lalu aku segera mengetik pesan chat untuk Panji.
Dinda: Nji, nanti nebeng ya. Mobil gue masih belom beres.
Send!
Tak lama balasan dari Panji masuk.
Ting..
Panji: Ok
—————————————————