Bertemu

1320 Words
Ting.. pesan singkat masuk dari Geng Kepompong. Satria: Nanti gue mau ke cafe Ricky ada yang mau ikut? Dinda: Nyusul Panji: Sama Kartika: Nyusul Dinda: Yang lain gimana? Panji: Masih pada kerja kali. Bagi yang free langsung ketemu di cafe ya. Hari ini Dinda berencana untuk pulang bersama Joshua. Namun sebelumnya mereka hendak makan malam dulu di restoran dekat kantor Dinda. Jam sudah hampir menunjukan pukul 5 sore. Tandanya jam kerja akan segera berakhir. Dinda gegas mencari ponselnya untuk memastikan Joshua akan menjemputnya pulang kantor nanti. Karna sudah beberapa hari ini Dinda lebih memilih pesan taxi online untuk berangkat kerja. Jo, jadi pulang bareng kan? Send! Pesan dikirim ke nomor ponsel Joshua. Tak perlu menuggu lama balasan pesan dari Vincent pun muncul. Joshua: Of course. But little bit late. Is it ok? Macet soalnya Dinda: It’s ok. Text me when you arrive. Hati-hati. Joshua: I will, Love. Dinda kembali meneruskan pekerjaannya karna Joshua akan sedikit telat sampainya. Memang jalanan ibu kota akan menjadi lebih padat saat jam-jam orang berangkat dan pulang kantor. Sementara itu di luar gendung kantor Dinda bekerja.. “Permisi pak mau tanya, karyawan yang namanya Dinda bagian Accounting udah pulang blm ya?” Tanya seseorang pada perugas security yang menjaga gedung tempat Dinda bekerja “Sepertinya belum pak. Sebentar saya telp ke ruangannya dulu ya” jawab security tersebut dengan sopan. Tak lama telp di meja kerja Dinda berdering. Kring.. Kring.. Kring.. “Sore pak” jawab dinda “.. .. .. ..” “Iya pak. Saya segera ke lobby. Minta tolong suruh tunggu sebentar saya mau rapihin meja dulu” kata Dinda sebelum mengakhiri panggilan telp dari security tempatnya bekerja. Setelah selesai membereskan meja kerja dan barang-barang pribadinya ia segera menuju lift. Tak berapa lama Dinda sudah sampai di Lobby utama Menara Merdeka tempatnya bekerja. Saat melihat ke arah parkiran gedung ia seperti mengenali salah satu kendaraan yang terparkir di sana. Sebuah city car berwarna hitam dengan nopol B 2121 KL. Seperti mobil Rama. Dan benar saja tak lama Rama keluar dari dalam mobil dan menghampiri Dinda yang berdiri di depan lobby. “Hai..” sapa Rama saat jarak mereka sudah dekat. “Hai.. kamu lagi ada urusan di sini?” Tanya Dinda heran “Aku mau jemput kamu. Kita pulang bareng ya” ajak Rama penuh harap. Dinda tidak tau harus bagaimana. Sedangkan ia sudah ada janji dengan Joshua untuk pulang bersama. Ia juga agak khawatir kalau nanti Rama dan Joshua akan bertemu. Semoga sebelum Joshua datang Rama sudah pulang. Doanya dalam hati. “Umm.. Maaf aku udah ada janji sama temen buat pulang bareng” kataku merasa bersalah “Oh gitu.. salah aku juga sih gak ngabarin kamu dulu. Aku temenin sampe temen km datang ya” katanya tulus menawarkan. “Eh..gak usah. Aku gak papa kok kalau kamu mau pulang” tolak Dinda merasa semakin tak enak dan khawatir kalau-kalau Rama tetap kekeh mau menemaninya menunggu hingga Joshua datang. Namun sepertinya doa Dinda kali ini tidak dikabulkan. Karna setelah 10 menit mereka menunggu Vincent pun sampai. Aduh.. Gimana ini deh.. Batin Dinda dalam hati tampak ketar ketir. Joshua yang melihat keberadaan Rama segera keluar menghampiri Dinda. Dan Rama yang melihat Joshua mendekat ke arah mereka memberi tatapan sinis pada Dinda. “Seriously? Dia??” Tanya Rama “Pantes gak mau aku temenin” Lanjutnya terdengar sinis. Duhh.. jadi serba salah kan. Semoga semuanya baik-baik aja. Jangan sampe ada baku hantam di parkiran kantor. Doa Dinda saat itu. “Yuk pulang” ajak Joshua sambil menggandeng tangan Dinda. “Oya thanks udah ditemenin” ucapnya lagi pada Rama yang masih diam di tempatnya berdiri. “Dinda..” panggil Rama. Dinda menoleh. “Hati-hati” lanjutnya. “Iya. Kamu juga hati-hati pulangnya. Aku duluan ya” Kataku. Ada rasa bersalah di hati Dinda pada Rama. “Dia ngapain?” Tanya Joshua dengan nada kurang suka. “Mau jemput tadinya. Tapi kan gue udah janjian sama lo” jawab Dinda yg tanpa sengaja melihat Rama lewat spion mobil. Ternyata Rama masih menatap ke arah mobil Joshua. Ada rasa sedih melihatnya seperti itu. “Sama dia aku kamuan. Sama gue lo-gue” kata Joshua sedikit ketus Dinda tertawa “terus maunya gimana? Aku kamuan juga? Nanti baper lagi” kata Dinda disela tawanya “Hmm.. kalau mama-papa aja gimana?” Usul Joshua sambil menaik naikan alisnya “Iyyuwh..” saut Dinda dengan mimik wajah jijik. Ini yang Dinda suka dari Joshua, dia selalu bisa mencairkan suasana. Apapun keadaannya. “Langsung ke tempat Ricky aja ya. Yang lain udah pada di sana. Kita makan di sana aja ya. Pliisss..” bujuk Dinda. “Yahh.. padahal gue udah ngebayangin makan iga bakar deket kantor lo” kata Joshua sedikit kecewa “Yahh.. ayo dong. Makan di tempat Ricky aja ya..ya..” bujuk Dinda lagi “Ya udah. Tapi ada syaratnya” kata Joshua dengan wajah jail. Dan Dinda sudah mulai was-was takut ia meminta syarat yang aneh-aneh “Ya udah apa?” Kata Dinda akhirnya “Tiap kali kita jalan lo harus gandeng tangan gue, terus tiap weekend kita dinner bareng. Sama satu lagi..” namun sebelum Joshua menyelesaikan syarat-syaratnya Dinda sudah memotongnya “Idih banyak banget. Minta dinner segala. Tiap weekend pula” protes Dinda “Gue di Jakarta cuman 3bulan. Tinggal 2 bulan lagi di sini. Abis itu gue ke Manado 1 tahun di sana. Kan bakalan lama lagi gak ketemunya” jelas Joshua. “Ya udah satu lagi apa? Jangan melas gitu mukanya” akhirnya Dinda mengalah “Kalau nanti gue mau berangkat ke Manado lo harus anterin gue ke airport” kata Joshua menyelesaikan syaratnya. “Iya nanti gue gandeng terus tiap weekend kita dinner tapi lo yang bayar. Sama nanti gue anter ke airport” kata Dinda menyetujui syarat dari Joshua. “Gitu dong. Yuk turun” ajaknya saat mereka sampai di cafe milik Ricky. “Heh! Baru juga deal udah lupa aje. Dinda!” Panggil Joshua saat Dinda melupakan janjinya. Dinda pun balik lagi dan menggandeng Joshua sambil menggerutu “manja banget lo ah” katanya. Sedangkan Joshua bertingkah sebaliknya. Tersenyum lebar. “Lama beneeerrrr” kata Anto saat aku dan Vincent menghampiri mereka. Ada Silvy, Panji, Satria, Anto, Ricky dan Febri. “Dia nih lama bawa mobilnya kaya keong” saut Dinda sambil menunjuk Joshua “Si Dinda gak bisa jalan sendiri apa,Jo? Ampe lo gandeng gitu” Tanya Ricky. Dan semua langsung melihat ke arah tangan Dinda dan Joshua. “Balikan lo berdua?” Tanya Silvy “Kagak” jawab Dinda. Sementara jawaban sebaliknya diberikan Joshua Dan mereka yang mendengar dua jawaban berbeda dari Dinda dan Joshuaterlihat bingung. Para sahabat Dinda memang sudah mengenal Joshua. Dan Joshua pun terlihat cukup akrab dengan sahabat-sahabat Dinda meskipun telah lama tak bertemu dengan mereka lagi. “Ky minggu kosong gak? Temenin gue ke bengkel temen lo yg kemaren itu ya. Mau cek mobil” pinta Dinda “Kenapa emg?” Tanya Joshua penasaran. “Kemasukan air kayanya mesinnya” jawab Dinda. “Lagian udah tau banjir. Maen trabas aja dia. Dikira mobilnya Jeep Wrangler Rubicon kali ya” Timpal Panji yang disambut tawa oleh yang lain. “Kalau mobil gak bisa selesai hari itu juga lo kerjanya gimana?” Tanya Ricky “Bareng gue aja. Searah kan kita” Jawab Febri yang membuat semuanya menatapnya. Terlebih Joshua. “Sama gue aja. Sekalian senin gue ada meeting sm orang kantornya buat design ulang satu lantai kantornya” jawab Joshua. “Ohh jadi yang besok mau nge design ulang itu dari kantor lo?” Tanya Dinda sedikit kaget dengan kebetulan yang terjadi Malam itu mereka membahas banyak hal. Mulai dari pekerjaan, mobil, next destination yang akan mereka kunjungi hingga saling meledek satu sama lain. Sedangkan Febri terlihat lebih banyak diam dan sedikit menimpali obrolan mereka. Ia kembali menerka-nerka seperti apa sebenarnya hubungan Joshua dengan Dinda. ———————————————————
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD