Asrama Putra

941 Words
Dua minggu berlalu setelah Geng Kepompong menghabiskan akhir pekan di villa. Dinda, Okta, Silvy dan Satria tengah berkumpul di cafe milik Ricky. Temu Cafe. Biasanya mereka tanpa janjian akan berkumpul di sana tiap Jumat sepulang kerja. Ting.. sebuah pesan masuk di hp Dinda. Pesan singkan dari Sam Lee. Manager Dinda dikantor. Orang Korea tulen. Tampangnya lumayan, postur tubuhnya tinggi, putih dan agak berisi. Sam menaruh hati pada Dinda. Sejak pertama kali Dinda masuk kerja, 1,5 tahun yang lalu. Namun karna saat itu Dinda masih bersama Rama, Sam tidak berani terang-terangan menunjukan perasaannya pada Dinda. Namun ia kerap kali memberi perhatian lebih pada Dinda. Meskipun karyawan lain tau bahwa Sam menyukai Dinda, Sam sebisa mungkin menjaga sikapnya untuk tetap bersikap profesional selama di kantor. Are already home? Isi pesan dari Sam. Dinda: Not yet. Still outside. Hanging out with friends. Why? Sam Lee: Just currious when I’m not see you arround. Diikuti sebuah emoticon senyum. Dinda: Are you still in there? Sam Lee: Yup! Balas Sam cepat. Dinda: Pack your stuff. It’s Friday night. Sam Lee: I wish I can. But I have to finish tons of paper this night. Dinda: Tidak bisa ditunda sampai senin? Sam: Tidak bisa. It should be finish this night. ‘Cause I don’t want to work on weekend. Dinda: Have fun with your paper then. Diikuti emoticon meledek. Sam Lee: Have fun with your friends. See ya on Monday. Dibalas dengan emoticon lambaian tangan oleh Dinda. Ting.. sebuah pesan singkat lagi masuk. Dari Joshua. Mantan pacar Dinda. Joshua: Hi gorgeous! How was your day? Dinda: Great. Kenapa, Jo? Joshua: I heard you broke up? Dinda: kata siapa? Joshua: Ada deh. Diikuti dengan emoticon meledek. Dinda: Are you happy with that news? Joshua: Little bit. Diikuti emoticon tertawa. Dinda: Screw you! Joshua: Ketemuan yok. Tomorrow. Free? Dinda: I’ll check my schedule first. Joshua: Gaya. Jomblo aja pake cek schedule segala. I’ll pick you up. 3 o’clock. Dinda: Emang lagi di Jakarta? Joshua: Yup! Udah semingguan di sini. Dinda: tumben baru ngabarin. mau kemana sih? Jashua: Wherever you want. We’ll go. Theater? Dinner? Dinda: Teraktir ya Joshua: Iyaaa.. Dinda. Dinda: Gitu dong. Joshua: Tuh kan mau Dinda: Kan gak boleh nolak rejeki Joshua: See you tomorrow Dinda: See ya Ting.. Ting.. Lagi. Pesan singakat masuk kali ini dari Rama Rama: Hai.. lagi apa? Dinda: Kumpul di cafe Ricky. Kenapa? Rama: I miss you Dinda bingung harus balas apa. Jadi dia memilih tidak membalas ungkapan rindu Rama. Tak kunjung dibalas Rama mengirimi Dinda pesan lagi. Ting.. Rama: Pulangnya jangan malem-malem. Dinda: Iya Rama: Kabarin aku kalau udah di rumah ya Dinda: iya Ting.. Lagi. Kali ini dari Febri. Seorang teman SMP para sahabatnya. Yg ia kenal saat ulang tahun Silvy. Febri: Hai Din.. Lagi apa? Dinda: Lagi kumpul di cafe Ricky. Wanna joint? Febri: Enggak. Gue udah di rumah. Maybe next time. Dinda: ok. Febri: Sering kumpul di sana? Dinda: Lumayan. Biasanya tiap Jumat pada ke sini. Pulang kerja. Febri: Typing.. “Din.. woii.. Dinda!!” Panggil Anto. Dia berjalan menghampiriku yang sedang asik bermain ponsel. Begitu sudah dekat, Anto merebut ponselku karna kesal sedari tadi ia memanggi-manggilku tapi aku tidak menjawab. “Dih apaan sih lo To? Balikin gak?!” Kataku kesal lantara ponselku direbut Anto. “Main hp mulu. Dipanggilin diem aja” kata Panji ikutan sewot. “Buset Dindaaa.. ponselnya udah kaya asrama putra. Isinya chat dari laki semua” ujar Anto terkesima saat ia tanpa sengaja melihat isi chat di applikasi hijau yang ada di ponselku “Sam Lee, Joshua, Rama sama Febri” menyebutkan satu per satu siapa saja pria yang sedang berkirim pesan denganku. “Eh, si Febri tau nomor lo dari mana?” Lanjut Anto sedikit heran karna aku baru kenal dengan Febri tapi sudah berkirim pesan. “Dari gue” Kartika mewakili menjawab pertanyaan Anto. “Ngapain si Febri chat lo?” Kali ini Ricky yang bertanya. “Basa basi. Nanya lagi apa gitu-gitu. Kenapa?” Tanya Dinda balik. “Jangan deket-deket sama dia lah kalau bisa” kata Ricky memperingatkan. “Ya elah Ky.. masih aja. Udah lama juga” timpal Panji. “Lo kenapa, Ky? Ada masalah ya sama dia sebelumnya? Ampe segitunya kayanya.” Tanya Dinda penasaran. Ricky yg ditanya memilih pergi meninggalkan teman-temannya, ketimbang membahas permasalahannya dulu dengan Febri. “Gebetannya Ricky dulu ditikung Febri. Keselnya kebawa ampe sekarang” jawab Panji sembari tertawa. Aku yg mendengarnya ikut tertawa “Ternyata seorang Ricky pernah ditikung juga. Kirain udh jadi player semenjak SMA” kataku tepat saat Ricky kembali membawa kopi pesanan Panji. “Itu lagi ilmunya si Ricky masih cetek. Sekarang mah udh pro. Kagak bakalan deh ketikung kaya dulu lagi. Ya gak Ky?” Kata Panji. “Yoi” jawab Ricky singkat. Diiringi tawa para sahabat yang lain. “Eh, PRJ yok. Besok” ajak Anto mengubah topik pembicaraan. “Mendadak banget kaya tahu bulat To” kataku. “Kalau direncanain biasanya sering gak jadi. Lo bisa ikut gak besok?” Tanya Silvy. “Ada. Makanya jangan besok ya” rayuku pada yang lain. “Mau kemana sih lo?” Selidik Ricky. “Kepo ih. Gue balik duluan ya. Bunda udah nanyain” kataku sembari pamit. “Ya elah masih aja rahasia-rahasiaan lo” kata Panji. “Mau ketemu Jojo” jawabku “Udah balik dia?” Tanya Anto. Aku hanya mengangguk tanda mengiyakan. “Besok ke rumah Anto beb. Pada kumpul di sana” kata Silvy. “Iyee.. balik duluan ya” kataku pamit sekali lagi. “Hati hati ya” jawab mereka hampir serempak. ———————————————————
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD