Asrama Putra

1077 Words
Dua minggu berlalu setelah Dinda dan para sahabatnya menghabiskan waktu di Villa bersama. Kini mereka tengah berkumpul di Temu Cafe. Cafe milik Ricky. Kegiatan ini sudah menjadi kebiasaan mereka semenjak Ricky membuka usaha. Awalnya membantu Ricky untuk meramaikan cafenya, namun kini menjadi kebiasaan mereka untuk berkumpul di sana sepulang bekerja tiap hari Jum'at. Untuk sekedar melepas penat setelah bekerja atau sekedar berbagi cerita. Dan malam itu Dinda, Okta, Silvy dan Satri tengah berkumpul di sana. Ting.. Suara pesan masuk di ponsel Dinda. Sam Lee: already home? Ternyata pesan dari sang atasan. Pria berdarah campuran Jawa-Korea telah setahun ini naik jabatan menjadi manager Dinda. Hubungan pertemanan mereka cukup akrab karena jarak umur yang tidak terpaut jauh. Dinda: not yet. Why? Sam Lee: nothing. I'm just curious where did everyone go? Dinda: where r u anw? Sam Lee: office. Coz I'm a good employee. Dinda: no way. It's Friday. Pack up ur stuff and go somewhere. Sam Lee: I wish I can. Dinda: so, have fun with ur jobs then. Diikuti emoticon meledek. Sam Lee: thx for supporting me. Diikuti emoticon jari tengah. Setelah menyudahi obrolan pesannya dengan rekan kerjanya, Dinda kembali menyimak curhatan Okta sambil menunggu kedatangan member Geng Kepompong lainnya yang sedang dalam perjalanan menuju Temu Cafe. Ting... Ting... Ting.. Terdengar suara pesan masuk berturut-turut dari ponselku lagi. "Rame banget hape lo dari tadi bunyi mulu" ucap Silvy sambil memiringkan badannya ke arahku mencoba mengintip isi ponselku. "Kepo banget" ujarku berusaha menjauhkan ponsel dari jangkauan penglihatan Silvy sambil tertawa melihat tingginya rasa ingin tau sahabatku. Joshua: hi, how was ur day? Joshua: I heard u broke up. Is it true? Joshua: finally. Diikuti emoticon senyum bahagia. Dinda: kata siapa? Joshua: ada deh. Dinda: r u happy with that news? Joshua: of course I'm. Diikuti dengan emoticon senyum mengembang lebar. Dinda: screw you! Joshua: hahaha.. Let's meet up. Tomorrow? Dinda: Let me check my schedule first. Joshua: dih. Banyak gaya. Joshua: I'll pick u up at 4pm. Dinda: lagi di Jakarta? Joshua: yup. One week ago. Dinda: mau kemana emang? Joshua: terserah. Nonton or dinner? Dinda: traktir yaa.. diikuti emoticon nyengir Joshua: iyaa.. Dinda: ok. C u tomorrow then. Joshua: Cepet banget kalo soal traktiran. Can't wait 2 c u. "Dindaa.. Woii..." terdengar teriakan Anto memanggilku. Tak lama setelahnya sebuah pesawat kertas yang didalamnya tertulis bill pesanan Anto dan Panji mendarat tepat mengenai kepalaku. "Apaan sih, To? Teriak-teriak aja lo" jawabku sambil melempar balik pesawat kertas tadi. "Lo dipanggilib gak denger-denger" Jawabnya kesal. "Lagi balas chat gue. Kenapa?" Jelasku sambil bertanya. "Gak jadi" kata Anto lalu menyeruput minumannya. "Lo lagi chat sama siapa sih? Dari tadi sibuk banget" Tanya Silvy yang masih penasaran dari tadi. "Joshua" jawabku singkat. Silvy hanya mengangguk-anggukan kepalanya setelah mendapatkan jawaban dariku. Joshua atau biasa dipanggil Jojo adalah mantan kekasih Dinda. Mereka memiliki hubungan yang baik dan masih sererinf berkomunikasi hingga sekarang. "Gimana dia kabarnya sekarang?" Tanya Okta. "Baik. Lagi di sini sekarang dia" jawabku. "Ajak mampir Cafe lah" usul Ricky. "Besok juga ngajakin ketemuan dia. Kalau gak kemaleman gue ajakin mampir sekalian besok pas pulangnya " kataku menyetujui usul Ricky. "Gue tuh lebih seneng liat lo sama Jojo tau ketimbang sama Rama. Jojo tuh Act of Service banget dan yang paling penting dia gak kasar sama lo" kata Silvy diikuti anggukan kepala Anto yang sibuk ngemil. "Tapi sayang temboknya tinggi banget kalau lo sama Jojo" Okta ikut berkomentar tentang hubunganku dengan Jojo. "Tapi si Jojo jago futsalnya. Gue sama yang laun beberapa kali ngajak dia futsalan. Menang mulu" Kali ini giliran Satria ikut berkomentar dan disetujui oleh anggukan kepala Anto. "Lo ngangguk-ngangguk mulu, To" kata Panji pada Anto. "Setuju gue. Sama satu lagi si Jojo gak suka cemburuan gak jelas kaya si Rama. Gue pernah disamperin dia suruh jauhin lo. Lah siapa lo? Kata gue" kata Anti masih terlihat kesal saat menceritakannya. "Serius lo? Kok gak pernah cerita?" Tanyaku pada Anto. "Gak ke gue doang. Ke anak-anak yang lain juga. Cowok-cowok doang ya" Lanjutnya dan diikuti anggukan sahabatku yang lain. "Kenapa gak ada yang cerita ke gue?" Tanyaku lagi. Kaget karena sampai sejauh itu Rama bertindak untuk menjauhkanku dengan sahabat-sahabatku. "Bodo amat gue mah dia mau bilang apaan juga. Kita kan kenal lo duluan. Beneran kita mah sahabatan sama lo, Din" kali ini Satria ikut berkomentar juga. "Gak nyangka gue lo pada bisa sweet juga. Kirain cuman bisa ngeselin doang. Sayang banget lah gue sana kalian semua" kataku terharu setelah mengetahui kebenaran yang selama ini disimpan para sahabatku. Ting.. Suara pesan masuk di ponselku berbunyi lagi. Febri: hai, lagi sibuk gak? Dinda: enggak. Lagi kumpul di tempat Ricky. Kenapa? Febri: gap papa. Mau ngobrol sama lo aja. Febri: boleh kan? Dinda: santei. Main lah sini ke Cafe. Febri typing.. "Berisik banget hape lo dari tadi" seru Anto sambil mengambil ponselku tiba-tiba. Dan ponsel yang awalnya berada di tanganku kini telah berpindah tangan. Anto dan Panji iseng mengintip ke aplikasi pesanku untuk melihat dengan siapa saja aku berbalas chat. "Ada Sam Lee, Joshua, Febri, Yono, siapa nih?" Tanya Panji padaku ingin tau. "OB kantor gue. Nanyain mau nitip makan siang juga gak tadi. Sini balikin hape gue" Jawabku sambil mengambil kembali ponselku dari tangan Panji. "Si Dinda isi pesannya udah kaya asrama putra. Baris atas chat nya dari cowok semua" ucap Anto meledekku lalu diikuti tawa yang lainnya. Tak terkecuali aku. "Biarin. Sirik aje lo, To" kata Okta membelaku. Aku pun mengangguk tanda setuju. "Lo sering chatting sama Febri?" Tanya Ricky. "Baru kemarin dia chat gue" jawabku. "Ngapain dia chat lo?" Tanya Ricky lagi dengan nada tak suka. "Gak ngapa-ngapain. Chatting biasa aja. Kenapa sih, Ky?" Tanyaku akhirnya ingin tau. "Santai, Ky. Kejadiannya kan udah lama juga" ujar Panji mencoba menenangkan Ricky yang terlihat kesal. "Dinda, pokoknya kalau dekat sama dia hati-hati. Lo juga pada hati-hati. Jangan liat gantengnya doang" kata Ricky memperingatkan aku dan ketiga sahabat wanitaku lainnya Okta, Silvy dan Tika. "Iyaaa.. Ricky" jawabku, Okta, Silvy dan Tika hampir bersamaan. "Eh, gue balik duluan ya. Bunda udah chat. Ada yang mau bareng gak?" Tanyaku. "Bareng" Jawab Tika cepat. "Ayok!" Ajakku pada Tika. "Hati-hati ya kalian berdua" kata Silvy dan Okta. Sedangkan Anto, Panji dan Satria hanya melambaikan tangan padaku dan Tika. Lalu aku dan Tika menghampiri Ricky untuk berpamitan. Saat aku dan Tika berjalan menuju parkiran Cafe, dari jauh aku melihat sosok Rama sedang berdiri di samping mobilnya sedang melihat ke arah kami. Aku dan Tika saling bertukar pandangan. Group Chat Kepompong Tika: ada Rama di parkiran, ganks. Cepet pada keluar. ____________________________________________________________
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD