bc

Kesabaran Istri Yang Tersakiti

book_age18+
1.0K
FOLLOW
7.5K
READ
HE
pregnant
playboy
kickass heroine
stepfather
drama
bxg
loser
secrets
like
intro-logo
Blurb

Merasa letih dengan hubungan pernikahan yang terkesan hanya “status palsu” dan tanpa kejelasan yang pasti, Ellena berusaha dengan segala upaya membebaskan diri dari belenggu “pemanfaatan” dari sang suami, mertua dan juga saudara iparnya yang arogan, yang sering menganggapnya rendah. Ellena mempunyai bukti perselingkuhan dan tindak kekerasan dari suaminya, namun mampukah ia melepaskan diri dan terbebas dari belenggu pernikahan toxic itu, sementara ancaman dari dunia hitam juga sedang mengincarnya secara diam-diam?

chap-preview
Free preview
Ketahuan
"Kamu selingkuh!" "Jangan sembarangan, jaga ucapanmu!" "Kalau tidak selingkuh, ini apa namanya?" Sambil terisak pedih, wanita yang bernama Ellena itu menyodorkan ponsel suaminya dengan layar yang menyala. "Aku baru saja melahirkan, tapi kamu malah enak-enakan sama perempuan lain. Siapa yang tidak sakit hati diperlakukan seperti ini? Coba kamu pikir!" "Jangan sok tahu. Kamu itu bicara tanpa bukti!" sanggah sang lelaki dengan gusar. "Halah! Bukti, bukti saja dari tadi yang kau ungkit. Apa foto-foto dan chat mesramu itu masih belum cukup juga buat bukti?" "Cukup, Ellena! Itu semua tidak benar, aku hanya bercanda!" Ellena tertawa keras diantara isak tangisnya. Sementara sang bayi sedang terlelap di tengah tempat tidur yang memenuhi setengah dari kamar tempat mereka tinggal selama ini. "Bercandamu itu tidak lucu, Ardha! Ucapan cinta dan sayang, lalu ajakan untuk berkencan, itu semua kamu anggap bercanda? Kau gila!" desis Ellena geram. "Lalu maumu apa sekarang?" "Oh, jadi sekarang kau mengakuinya, huh?" "Diam, El! Dari tadi kamu terus mendesakku, lalu apa yang harus ku lakukan agar kamu percaya?" Ardha melotot tajam menatap Ellena. Wanita itu menggeleng sedih. "Aku mau pulang saja ke rumah Mama, aku capek sama kamu, Dha," ucap Ellena dengan suara yang bergetar. "Lalu kamu mau ceritakan semua sedihmu itu pada Mama? Kamu lupa kalau Mama ada sakit jantung? Kamu ingin membunuhnya, hah?" gertak Ardha. Tak urung ucapan Ardha membuat Ellena terdiam dan berpikir. Wanita itu kini terduduk dengan air mata yang masih bercucuran membasahi wajahnya. Satu-satunya kelemahan Ellena saat ini adalah ibunya dan Ardha sangat tahu hal itu. "Tidak masalah, yang penting aku jauh dari kamu! Kalau sampai ada apa-apa sama Mama, kamu juga ikut andil dalam hal ini, Dha, bukan salahku saja!" balas Ellena geram. "Lagipula nggak mungkin aku bilang begitu saja apa masalah kita, aku nggak sebodoh itu!" "Enak saja, semuanya salahmu!" bentak Ardha tak mau kalah. "Lagipula kamu tidak mungkin bisa pergi dari sini." "Oh ya?" cibir Ellena. "Kenapa kamu seyakin itu? Kalau mau, sekarang juga aku bisa pergi!" Ardha tersenyum sinis. "Kalau kamu pergi, kamu tidak akan bisa melihat Fany lagi," desisnya. "Kalau memang mau pergi, pergilah sendiri tanpa Fany!" "Tidak bisa begitu, Fany itu anakku, aku yang melahirkannya!" Ardha tertawa sumbang. "Kamu lupa kalau aku ayahnya? Aku juga berhak menahan Fany di sini." "Cih! Kamu bilang kamu ayahnya, tapi begitu Fany rewel, kamu sama sekali nggak peduli, malah asik main game, apa itu yang katamu seorang ayah?" Ellena berhenti sejenak untuk mengatur napasnya dan mulai menurunkan nada suara serta emosinya, karena Fany tiba-tiba terbangun dan merengek mencarinya. Ardha mendengus lalu membanting tubuhnya ke atas tempat tidur. Ellena mendecak kesal. "Aku akan pergi setelah Fany tidur," ucapnya. "Pergilah, kalau mau lihat aku bunuh diri," jawab Ardha, memberi ancaman yang sontak membuat Ellena melebarkan matanya. "Kamu gila!" desis Ellena. Ardha hanya mencebik lalu menunjuk pisau lipat di atas nakas, di dekatnya. "Benda itu yang akan membantuku pergi, untuk selamanya," desisnya. Ellena hanya mampu memejamkan mata menahan perih dalam hatinya. "Ya Tuhan, manusia macam apa yang ada bersamaku ini? Sampai kapan aku bertahan menjalani pernikahan seperti ini?" "Oke, aku tidak akan pulang dan mengadu sama Mama, tapi bukan berarti aku maafin kamu begitu saja dengan semua foto dan chat mesra dari wanita lain itu!" putus Ellena pada akhirnya. "Gitu dong, istriku tercinta," jawab Ardha setengah mengejek. "Cih!" cibir Ellena dengan perasaan muak. Ardha menyeringai saat ucapannya berhasil menahan keinginan istrinya itu. Setidaknya ia bisa menghindari satu masalah besar dari pihak keluarga Ellena, jika sampai mereka tahu tentang perselingkuhannya. Ia tidak ingin semuanya berubah hanya gara-gara chattingan genitnya ketahuan Ellena. Ardha tersenyum saat mengingat kemenangan demi kemenangan yang ia raih, tidak hanya menang taruhan tetapi juga ternyata ia mampu memenangkan hati para wanita yang di jadikan taruhan itu dan menjalin kasih hingga sekarang, meskipun tidak seintens saat awal dulu. Jika ia mau menghitung, mungkin sudah ada sekitar enam wanita yang ia jadikan sebagai penghibur dikala hasratnya tidak terpenuhi oleh sang istri. Ya, Ardha termasuk salah satu pria dengan gejolak libido yang tinggi dan ia akan merasa jengkel ataupun tidak puas jika Ellena tidak mampu memenuhi keinginannya. "Daripada senyum-senyum tak karuan begitu mending kamu gendong anakmu itu, aku mau ke kamar mandi sebentar," tegur Ellena sembari mengusap kasar wajahnya yang basah. Susah payah ia meredam kekesalan dan sakit hatinya, hanya untuk menghindari masalah baru akibat ancaman Ardha padanya. Mau tidak mau ia harus terus bertahan dengan semua kepahitan ini. "Aku capek, baru pulang kerja. Masa gitu aja kamu nggak mau gendong sebentar? Mana minumanku?" tolak Ardha dengan raut wajah yang membuat Ellena semakin kesal. Pria itu kini malah terlihat gusar karena minumannya masih belum tersedia di tempat biasanya. "Aku lagi kebelet, Dha! Titip anakmu sebentar, nanti sekalian aku buatkan minuman!" bentak Ellena yang lalu melangkah pergi, masuk kedalam rumah menuju ke arah kamar mandi yang berseberangan dengan dapur. Di iringi tatapan aneh dari sang ibu mertua yang sempat mendengar pertengkaran mereka. Ellena tidak memperhatikannya. Di rumah itu Ellena dan Ardha tinggal bersama kedua orang tua Ardha dan juga dua orang gadis, adik kandung Ardha. Mereka menempati kamar yang letaknya di luar, tepatnya di bagian depan, bersebelahan dengan halaman rumah, yang dulunya bekas toko. Ruangan berukuran sekitar 2,5 x 2,5 meter persegi itu ditutup rapat dan di jadikan kamar untuk Ardha dan Ellena sejak mereka menikah. Setiap Ellena dan Ardha ke dapur atau ke kamar mandi harus melewati pintu masuk yang kadang-kadang di kunci dari dalam apabila penghuninya sedang tidur. Salah satu hal yang membuat Ellena kesal, karena ia jadi tidak bebas keluar masuk, hanya untuk sekedar buang air atau memasak air, yang seringkali terjadi di malam hari. "Lama sekali bikin minuman begitu saja," gerutu Ardha saat Ellena kembali dengan membawa satu termos air panas dan satu gelas besar teh hangat untuknya. "Memangnya airnya tidak perlu di masak dulu? Katanya pinter, mikir gitu aja nggak bisa," olok Ellena yang begitu jengkel dengan Ardha, terlebih saat melihat Ardha membiarkan anaknya menangis tanpa berusaha menghiburnya, suaminya itu malah sibuk bermain game online dalam ponselnya dan tidak menghiraukan jawaban Ellena. Ellena menggelengkan kepalanya heran. "Meskipun aku ya capek lho, Dha. Seharian penuh ngurusi bayi, mana bekas operasi masih sakit, eh kamu malah enak-enakan main game. Aku juga pengen istirahat sebentar." Ardha bergeming di tempatnya. Pria itu malah sedang konsen berkomunikasi dengan teman-teman game onlinenya, sesekali tertawa saat mereka memenangkan game itu. "Ngomong sama tembok!" desis Ellena jengkel. Ia pun akhirnya merebahkan tubuh di samping putrinya yang masih bayi itu dan menyusuinya. Sesekali wajahnya memercing menahan sakit karena baru pertama kali memberikan ASI. "El, aku lapar," celetuk Ardha di sela-sela tawanya yang sedang bermain game. "El," panggilnya sekali lagi tanpa menoleh, karena merasa tidak ada sahutan dari Ellena. "Ellena!" Ardha mendecak kesal lalu memutar tubuhnya melihat ke arah Ellena yang tertidur sembari memberikan ASI. Wajah wanita itu terlihat pucat dan kelelahan. Ardha membanting ponselnya di kasur lalu mengacak kasar rambutnya. "Malah tidur bukannya nyiapin makan buat suami, ck!" umpatnya geram. Ia pun lantas bergegas masuk ke dalam rumah mencari sesuatu untuk dimakan. Ellena terjaga dari tidurnya ketika ponsel Ardha berdering. Seseorang sedang menghubunginya. Ellena mencari sosok suaminya di kamar itu namun tidak melihatnya. Dengan terpaksa ia pun bangun perlahan lalu meraih ponsel itu dengan malas. Kedua matanya melebar saat melihat satu nama yang tertera pada layar ponsel itu. "Jenny?" jantung Ellena berdegup kencang saat melihat pesan pop up dari Jenny yang mengatakan rindu pada Ardha. "Mana ponselku!" Ellena terkejut saat Ardha tiba-tiba datang dan merebut ponselnya dengan kasar. "Lancang!" umpatnya yang lalu melangkah keluar dari kamar. "Apa itu bukan bukti?"

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
193.4K
bc

TERNODA

read
201.4K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
236.0K
bc

Bukan SEX-retaris Simpanan

read
2.0K
bc

Kali kedua

read
221.5K
bc

Istri Lemah, Pengacara Kejam

read
1K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
22.4K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook