"Bukti apa sih?" Ardha melangkah masuk kembali ke dalam kamar setelah sebelumnya ia sempat menjawab panggilan sejenak sebelum menutup dan menghapus jejak panggilan itu.
"Bukti perselingkuhan, kamu bisa bilang tidak, Dha. Tapi kenyataan berkata lain," tegas Ellena berkeras.
"Ah sudahlah, aku capek. Kalau begini terus lebih baik aku pergi saja!"
Ellena tertawa sinis. "Alasan saja, padahal sebenarnya kamu memang ingin keluar menemuinya bukan?"
"Menemui siapa?" bentak Ardha tidak suka.
"Siapa lagi kalau bukan Jenny. Atau kamu masih punya koleksi lagi selain dia?" sinis Ellena.
Ardha yang sudah kepalang basah ketahuan Ellena, hanya bisa menutupi kesalahannya dengan melempar semua benda di dekatnya sekenanya sembari mengumpat kesal.
"Kamu memang sengaja memancing emosiku," desis Ardha gusar. Nyaris ia menarik tubuh Ellena ketika tiba-tiba sang bayi menangis dengan keras, membuatnya semakin gusar. "Ibu dan anak sama saja, cih!" Ia pun lantas menyambar jaketnya dan berlalu pergi dengan motornya.
Ellena menatap pintu kamar yang terbuka lalu segera menutupnya rapat, takut jika suara tangis anaknya mengganggu mertua dan saudaranya yang sedang beristirahat di dalam. Ia tidak mempedulikan kepergian Ardha. Yang ia pikirkan saat ini adalah putrinya yang masih bayi, yang baru seminggu lalu ia lahirkan dengan susah payah dan bertaruh nyawa.
Ia pun lantas bergegas meraih putri semata wayangnya dan merengkuhnya dalam pelukan hangat. "Sayang, maafin mama yang sudah mengusik tidurmu. Bobo lagi ya, anak cantik," bisik Ellena di telinga putrinya yang seketika diam. Air mata Ellena berderai memikirkan kelakuan buruk sang suami. Ia yakin saat ini suaminya malah tertawa di luar, entah bertemu atau berbicara dengan Jenny melalui ponselnya.
Setahu Ellena, Jenny adalah atasan Ardha di PT. Aman Ekspedisi. Di awal masa kerja Ardha, Jenny lah yang selalu membimbing dan mengawasi Ardha secara langsung. Selain itu kadang mereka terlibat pekerjaan hingga malam hari ketika banyak sekali laporan yang harus mereka selesaikan hari itu juga.
Awalnya Ellena tidak curiga sama sekali, justru ia berpikir Jenny adalah atasan yang baik karena seringkali membawakan oleh-oleh untuk Ellena melalui Ardha. Dan awalnya memang semuanya terlihat baik-baik saja, tidak ada sesuatu yang mencurigakan, karena Ardha selalu pulang tepat waktu jika tidak lembur.
Pada pertengahan masa kerja Ardha, Ellena mencium gelagat yang mencurigakan. Ardha sering meminta uang padanya dengan alasan untuk keperluan di rumah. Entah itu untuk membayar listrik bulanan, wifi ataupun sembako. Mau tidak mau Ardha harus melaporkan atau meminta ijin pada Ellena untuk setiap penggunaan uang mereka, karena Ellena selalu mentransfer gajinya ke rekening Ardha tiap bulannya.
Bukan berarti Ellena yang membiayai hidup Ardha, mereka memang sengaja menjadikan satu penghasilan mereka dalam satu rekening. Keduanya selalu mencatat setiap pengeluaran, agar tidak terjadi kesalahpahaman.
Untuk masalah keuangan selama ini aman-aman saja. Tidak ada masalah yang berarti. Tapi akhir-akhir ini Ellena menemukan catatan pengeluaran yang terkesan mengada-ada. Betapa tidak, ia selalu mengambil uang untuk beberapa keperluan dan memberikan pada Ardha sejumlah yang cukup untuk keperluannya termasuk untuk membeli bensin, tapi sekarang itu masih kurang untuk Ardha. Semula Ellena hanya diam dan menyimpannya dalam hati.
Beberapa hari yang lalu, tanpa sengaja ia menemukan pesan-pesan yang menjurus ke hal-hal intim antara Ardha dan Jenny. Semula ia hanya iseng melihat ponsel suaminya itu tapi malah keterusan dengan membuka aplikasi pesan dan berujung dengan chat mesra itu.
"Jenny di Surabaya, kami tidak lagi satu kantor, kamu jangan berpikir yang tidak-tidak tentangnya!" begitulah alasan yang di buat oleh Ardha saat ia menanyakannya. Dan waktu itu ia kembali harus menelan mentah-mentah semua rasa sakit hatinya karena bukti yang masih belum cukup. Kini Ellena hanya bisa berpasrah, mengingat kondisi fisiknya yang masih belum sepenuhnya pulih.
***
"Kamu pintar Ardha, mencari gara-gara dulu biar bisa keluar rumah."
Ardha tersenyum manis di depan gadis yang kini sedang duduk bersamanya di sebuah warung tenda. "Kau tahu, dia memang sangat menyebalkan," gerutunya kesal. "Jadi aku tidak perlu susah-susah lagi untuk mencari alasan."
Gadis itu tertawa lebar. "Kenapa nggak di ceraikan saja wanita itu?"
Ardha menggeleng kesal. "Tidak semudah itu. Keluargaku masih membutuhkannya. Setidaknya dia bisa membantu meringankan beban keluarga, bukan?"
Gadis itu kembali tertawa. "Kalian memanfaatkan dia ternyata, wah, aku jadi sangsi untuk mendaftar jadi calon menantu di keluargamu."
Ardha mendecak kesal. "Apa maksudmu? Kami begitu karena Ellena juga sangat menyebalkan. Dia seenaknya saja makan dan tidur setelah pulang kerja," sanggah Ardha. "Kalau buat kamu beda aturannya."
"Masa sih? Aku 'kan nggak bisa masak? Istrimu itu pasti pintar."
"Soal masak itu bisa di atur, kan bisa beli online, jaman sekarang mah gampang."
Gadis itu tertawa renyah di hadapan Ardha. "Sepertinya bisa dimanfaatkan, dia bakal kasi aku apa aja selama aku bisa membuatnya senang," batin gadis itu berkecamuk.
Setelah mereka selesai makan Ardha segera berkemas dan membayar pesanan mereka lalu mengajak teman gadisnya untuk pergi ke suatu tempat.
"Kemana? Ini sudah malam lho."
"Kayak yang biasanya pulang sore aja kamu ini, yuk buruan naik." Ardha menunjuk tempat kosong di belakangnya lalu mengedipkan sebelah matanya genit.
Gadis itu hanya terkekeh lalu segera naik ke boncengan Ardha. Setelah memastikan semuanya sudah siap, Ardha melajukan motornya dengan kencang sembari sesekali bercanda dengan gadis itu tanpa memikirkan perasaan sang istri yang kini sedang menangis, meratapi tingkah laku suaminya.
***
Tepat pukul tiga dini hari Ardha pulang. Ia memberhentikan motornya dari tempat yang agak jauh lalu mematikan mesin dan menuntunnya hingga sampai ke halaman rumahnya. Ia mengintip dari kaca ruang tamu, rumah masih gelap, ia pun lalu mencoba membuka pintu kamar yang ternyata di kunci dari dalam oleh Ellena.
Ardha mendecak kesal. Ia mengetuk pintu kamar dengan pelan karena takut membangunkan orang tua dan saudaranya. Sesekali ia memanggil Ellena.
Hanya terdengar suara rengekan bayi yang sudah di pastikan itu putrinya. Ardha gusar karena merasa sudah menunggu lama tapi Ellena masih belum juga membuka pintu untuknya. Ia pun lantas menarik bangku kayu di sudut halaman dan meletakkannya di dekat pintu kamar lalu duduk dengan enggan.
Sekali lagi ia mencoba mengetuk pintu dan memanggil Ellena tapi masih tetap saja tidak ada sahutan dari dalam. Ardha putus asa. Ia menghubungi nomor ponsel Ellena tapi ternyata tidak aktif. Mungkin Ellena mematikannya karena takut mengganggu tidur sang bayi.
Ardha mengusap wajahnya kasar. Namun sedetik kemudian, iseng ia mengetikkan pesan ke salah satu nama dari kontaknya. Ardha tersenyum saat tanda centang dalam pesannya sudah berwarna biru. Ia menunggu dengan hati berdebar ketika sang penerima pesan terlihat sedang mengetik pesan balasan untuknya.
"Aku sendirian, gak bisa tidur, kenapa?"
Ardha menyeringai. "Aku juga sendirian nih, mau temenin nggak?"
"Boleh ...."
Merasa mendapat respon yang bagus, Ardha semakin tertantang.
"Boleh video call?"
"Boleh, langsung aja, say."
Wajah Ardha memerah dan hatinya berbunga-bunga saat mendapat panggilan sayang dari sang penerima pesan. Ia bergegas mengambil headset bluetooth dari tas pinggangnya lalu menghubungkan dengan ponselnya setelah video call tersambung.
"Hai Lia," bisik Ardha. Ia memasang senyum termanis. "Apa kabar, lama kita nggak ketemuan."
Terlihat senyum yang menawan dari gadis yang di panggil Lia itu. "Hai juga, sedang merindukanku?" balasnya mesra.
"Sudah pasti," jawab Ardha masih tetap berbisik.
"Kenapa berbisik? Takut bangunin seseorang nih?" goda Lia sembari mengedipkan matanya.
"Begitulah, papa, mama dan yang lain masih pada tidur."
"Oh, kasihan yang lagi melek sendirian," goda Lia sembari mulai berbaring dengan posisi menantang.
"Wah, bisa agak nunduk nggak tuh, say?" celetuk Ardha balas menggoda.
"Apa, menunduk? Begini aja kali ya?" Lia terkekeh sembari merubah posisinya menjadi tengkurap, membuat Ardha seketika menelan ludahnya.
Tanpa mereka sadari Ellena sudah berdiri dan bersandar di kusen pintu. Matanya menyorot tajam penuh selidik saat melihat Lia yang sengaja menyuguhkan pemandangan indah di hadapan Ardha, sembari membuka tiga kancing bajunya di bagian atas yang seketika menampakkan pemandangan garis yang indah untuk Ardha yang saat itu sedang menatapnya penuh hasrat.
"Ehm, jadi ini kah koleksi mu yang lain?"