"E-Ellena," desis Ardha gugup. Sementara Lia memanggil nama Ardha berkali-kali saat tampilan layarnya menjadi gelap karena Ardha langsung memasukkan ponselnya ke dalam saku celana.
"Jadi begitu kelakuanmu saat di luar?"
"Kelakuan apa sih? Sudah, aku capek, aku mau tidur." Ardha melangkah masuk begitu saja tanpa peduli bahu kirinya menabrak sisi tubuh Ellena hingga istrinya itu nyaris terjatuh.
Ellena menggelengkan kepalanya kesal. Bukan kesal karena sudah melihat sendiri kelakuan genit suaminya, tapi ia kesal karena perlakuan kasar Ardha padanya. "Kalau memang tidak cinta, kenapa kau dulu menikahi ku, Dha?" batinnya nelangsa.
Ellena tidak mau memperpanjang masalah lagi. Ia menutup pintu dan menguncinya saat mendengar langkah kaki dari dalam rumah. Ia yakin ibu mertuanya sempat mendengar sedikit keributan kecil mereka.
Ardha merebahkan tubuhnya begitu saja di samping putrinya. Tidak butuh waktu yang lama ia pun terlelap, wajahnya terlihat begitu letih. Ellena menghela napas panjang seraya mengusap sudut matanya yang basah.
"Ada apa sih Ma, pagi-pagi bengong di situ?"
Ellena mendengar suara dari luar kamarnya.
"Mama lagi heran, masih gelap gini kok sudah ribut," jawab ibu mertuanya. Suaranya terdengar lebih dekat. Ellena yakin ibu mertuanya sedang berdiri di depan pintu kamarnya.
"Ck! Ya udah Ma, ngapain sih sampai kepo, udah biasa juga mereka ribut."
"Iya juga sih, mama cuma pengen tau aja apa sih sebenarnya yang dibikin ribut, orang sudah hidup enak tinggal numpang doang," sahut ibu mertuanya dengan suara sedikit keras, seperti sengaja agar didengar oleh sang penghuni kamar itu. Tak lama terdengar langkahnya menjauh, Ellena menghela napas lega.
"Enak saja tinggal numpang, biaya hidup kalian kami yang tanggung, kalian yang tinggal enaknya," geram Ellena dalam hati. Ia mengerang kesal saat melihat jam dinding sudah menunjukkan pukul empat pagi, itu berarti ia harus bersiap untuk memasak nasi dan lauk, juga pekerjaan dapur lainnya, sedangkan semalam ia tidak bisa tidur.
Ellena bangun dengan malas. Dilihatnya Stefany, putrinya yang masih bayi itu terlihat begitu lelap. Ia memandang sayu wajah cantik putrinya, memikirkan masa depannya ketika tahu jika ayahnya seorang playboy. Ellena menggelengkan kepalanya, mengusir segala bayangan buruk, ia tidak mau semua itu terjadi.
Baru saja Ellena membuka pintu rumah yang sudah tidak terkunci, terdengar keributan kecil di dapur. Ellena mendesah pelan, ia harus siap dengan segala drama yang setiap pagi selalu menghiasi hari-harinya.
"Belum masak nasi, dianya belum bangun sih."
"Mama aja yang masak nasi, dikit doang kan cepet, Ma." Ellena mencebik saat mendengar suara rengekan adik iparnya itu.
"Beli aja, berasnya tinggal dikit, ntar dia tahu kalau diambil."
"Ck, Mily lagi gak punya duit, Ma, mana hari ini harus traktir teman-teman di kampus."
"Minta sana sama kakakmu, biar bagaimanapun juga kamu itu adiknya, yang masih harus di tanggung keperluannya."
Ellena mendengarkan semuanya sembari mengelus d**a dan menghela napas panjang. Ia tidak habis pikir, masalah traktir teman saja Mily harus merepotkan kakaknya, kalau tidak punya uang ya sudah toh, gak usah pakai acara traktir mentraktir.
Ellena terkejut saat Mily, adik iparnya yang paling bontot melangkah keluar dari dapur. Mily juga terperanjat namun dengan cepat ia tersenyum lalu menanyakan tentang keberadaan Ardha.
"Masih tidur, ada apa, Mil?"
"Ada deh, aku ke kamar aja bangunin kak Ardha." Mily langsung melesat masuk ke kamar Ellena dan Ardha. Ellena hanya mampu menggelengkan kepala sembari mengelus d**a.
"El, kebetulan kamu sudah bangun. Buruan masak nasi gih, adikmu sudah kelaparan," titah sang ibu mertua saat berpapasan dengan Ellena.
"Iya, Ma,"
"Oh iya, berasnya mau habis, trus minyak gorengnya juga tinggal sedikit, kapan kamu belanja? Biasanya awal bulan sudah rempong ke supermarket?"
Ellena menelan ludahnya kasar. Bulan ini memang mereka masih belum sempat belanja karena kondisinya yang masih lemah. Ardha tidak mau berangkat sendiri dengan alasan tidak paham keperluan dapur.
"Iya, Ma, nanti El bicara dulu sama Ardha, kapan bisanya antar belanja," jawab Ellena lemah.
"Kalau jadi belanja mama nitip roti Pak Kumis ya, yang bantal isi keju coklat," pesan ibu mertua Ellena sembari tersenyum lalu masuk ke dalam kamarnya. Ellena hanya mampu mengangguk dan menghitung perkiraan uang belanja yang harus ia keluarkan, karena roti Pak Kumis tergolong mahal harganya, sedangkan keuangan mereka sudah menipis karena di pakai untuk biaya melahirkan secara caesar.
Kedua mata Ellena melebar saat melihat piring-piring kotor yang menumpuk di atas meja dapur. Dengan cepat ia pun membuka kulkas dan memeriksa isinya. Sedetik kemudian ia terduduk lemas di lantai saat tidak melihat hati ampela ayam yang sudah ia goreng kemarin sore untuk di masak pagi ini. Ellena hampir menangis karena tidak sanggup lagi memikirkan lauk untuk hari ini, padahal dalam benaknya saat itu ia hanya akan menambah bumbu untuk mengolah hati ampela ayam yang satu baskom penuh itu.
Ia sungguh tidak habis pikir, kenapa orang di rumah itu begitu tega dan rakus menghabiskan semuanya, satu baskom itu tidak sedikit, sedangkan yang tinggal di dalam rumah itu hanya empat orang. Apa mereka tidak memikirkan siapa yang sudah menyimpannya dengan baik dan apa tujuannya menyimpan.
Kedua mata Ellena merah dan basah. Kini ia harus berpikir cepat untuk membeli sesuatu yang bisa untuk lauk. Wanita itu dengan cepat memasak nasi, mencuci piring dan membersihkan dapur. Setelah itu ia melangkah ke kamar untuk mengambil uang, tapi ternyata Stefany terbangun dan bayi itu langsung menangis saat melihat ibunya masuk ke dalam kamar.
Ardha mendecak kesal. "Pagi-pagi sudah bikin pusing! Cepat gendong anak mu!" bentak Ardha.
Ellena hanya diam dan menghela napas panjang lalu menggendong bayinya, ia bermaksud untuk mengajaknya belanja pagi ini. Tidak ada waktu lagi untuk bertengkar.
"El, mau kemana?" tanya ibu mertuanya saat tahu Ellena menggendong bayinya keluar.
"Belanja, Ma," jawab Ellena sedikit berteriak karena ia sudah melangkah agak jauh.
"Bayimu itu masih merah, masa mau kamu ajak keluar? Biar di rumah dulu, tinggal aja, 'kan Ardha masih di kamar."
Ellena terdiam bingung, yang ia tahu Ardha begitu marah karena terganggu Stefany, bagaimana mungkin ia bisa menitipkan anaknya?
"Gak papa, Ma, cuma sebentar kok," sahut Ellena yang lalu melangkah cepat ke warung di ujung perumahan.
"Dasar tukang bantah!" geram Mama Rita, mertua Ellena.
Ellena membeli telur di warung dan juga sayuran untuk di masak sop pagi ini. Tak lupa ia pun membeli bumbu yang sudah jadi. Ia tidak mempunyai uang yang cukup untuk membeli ayam atau hati ampela, meskipun Ardha sangat menginginkannya.
Tak lama Ellena pun masuk kembali ke rumahnya, ia menidurkan Stefany di atas kasur, di samping Ardha tapi urung, karena Stefany langsung menjerit dan menangis keras seolah tidak mau di turunkan. Maka dengan sangat terpaksa Ellena menggendongnya lagi dan mengajaknya ke dapur untuk menyiapkan masakan.
"Eh, eh, sembrono, bayi di ajak ke dapur," tegur Mama Rita yang saat itu sedang di dapur mencari sesuatu.
"Fany lagi rewel, Ma, gak mau di tidurkan sama Papanya," jawab Ellena sembari menyiangi sayuran untuk sop dan memasak air. Semuanya ia lakukan dengan cepat karena sedang memburu waktu, Mily harus berangkat satu jam lagi sedangkan makanan masih belum siap.
"Sini, sama oma." Mama Rita mengulurkan kedua tangannya meminta Stefany dari gendongan Ellena. Bukan tanpa maksud, Mama Rita juga ingin supaya Ellena segera menyelesaikan masakannya demi Mily.
Stefany menangis tapi Mama Rita segera mengajaknya berjalan-jalan keluar rumah hingga tangis anak itu mereda. Ellena tersenyum tipis karen sudah hapal dengan maksud ibu mertuanya itu.
Setengah jam makanan sudah siap, Ellena menatanya dengan rapi di atas meja makan lalu membersihkan dapur dan mandi kilat karena ia sudah harus meminta Stefany untuk memandikannya.
"Dha, bangun, sarapan sudah siap, tehmu di tempat biasa," ujar Ellena sembari menggoyang tubuh Ardha yang masih terlelap tidur.
Mereka dikejutkan suara dering ponsel Ardha yang terdengar nyaring. Ellena melihat nama yang tertera pada layarnya lalu memberikan ponsel itu ke tangan Ardha.
"Herman, Dha, teman kantormu?"
"Ck! Jawab saja, El, pakai loud speakernya biar aku bisa dengar." Ardha menggerutu pelan dalam tidurnya.
Ellena mengaktifkan loud speaker ponsel Ardha lalu menggeser tombol hijau.
"Sayang, sudah sarapan belum? Kalau mau sarapan, di rumah aku aja ya, berangkatlah lebih pagi." Suara merdu seorang perempuan menyapa Ardha yang langsung membuat pria itu terbangun dan duduk dengan wajah menegang.
"Sayang?"