Arya memasuki rumah dengan seragam putih biru yang masih melekat di tubuhnya. Rumah yang sepi membawa Arya untuk langsung melangkah ke kamar. Tak peduli beberapa pekerja rumah tangga menyapa dan menawarinya ini-itu, yang Arya lakukan hanya melewati mereka tak acuh seperti biasa. Beberapa langkah sebelum genap menyentuh kenop pintu kamarnya, suara samar yang dia dengar dari ruangan kerja sang Ayah menarik rasa penasaran Arya. Orang tua tunggal yang kini dimilikinya itu biasanya tidak ada di rumah, Ayahnya lebih senang pergi keluar negeri mengurusi bisnisnya dibanding singgah di rumah dan menanyakan kabar anak-anaknya. Dan hari itu Arya mendengar suara sang Ayah, menarik rasa rindu Arya yang sudah beberapa bulan tidak berjumpa. "Saba membuat teman sekelasnya menangis lagi?" suara sang Ayah

