46. Empat Puluh Enam

1145 Words

Rei mengakhiri panggilan telepon internasional yang beberapa menit lalu dia terima. Pemuda itu menghela napas berat, tidak beranjak dari tempatnya hingga suara Saba membuyarkan lamunan atau entah apa yang dipikirkan sepupunya itu. “Kenapa?” Tubuh Rei menegang saat mendengar suara Saba dari balik tubuhnya. Mengambil napas panjang, pemuda itu kemudian berbalik menghadap sepupunya. Meletakan kembali ponsel ke dalam saku celana. Rei membalas tatapan Saba dengan sorot yang sudah bisa Saba tebak—sorot yang selalu membawa kabar kurang menyenangkan baginya. “Orang itu mau balik?” tanya Saba setelah Rei tidak juga bicara meski mereka sudah bertatap sejak beberapa menit lalu. Rei menelan ludah lantas mengangguk kaku. “Ya udah mau gimana. Kita gue nggak bisa cegah dia untuk datang dan pergi, kan

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD