Waktu heningnya, Nigi manfaatkan mengamati wajah Saba yang penuh luka. Wajah yang menyimpan beribu bahkan berjuta rahasia mungkin. Wajah yang menyembunyikan kesakitannya di sana, wajah yang selalu memperlihatkan pada dunia bahwa dia baik-baik saja, wajah yang menyimpan ketampanannya di balik luka-luka itu. Hanya dengan melihat itu Nigi merasa sesuatu meremas hatinya, sakit, perih dan sesak menyatu di sana hingga dia harus menahan air matanya agar tidak jatuh, tidak jatuh di depan Saba lebih tepatnya. “Lo mungil banget sih? Badan gue jadi pegel karena posisi kayak gini,” ucap Saba masih dengan mata terpejam. Nigi berdecak, hilang sudah kemelut dibenaknya saat Saba kembali bersuara. “Ya udah, ngapain masih dilanjut? Bilang pegel padahal waktu itu sampe pules tidur di pundak gue!” dengus Ni

