41. Empat Puluh Satu

1079 Words

Papi sedang duduk bersama Mami di ruang keluarga sambil menonton televisi saat Noel menginjakan kakinya kembali di rumah. Pemuda itu menghampiri kedua orang tuanya setelah memberi salam, lalu mencium punggung tangan mereka. “Tumben udah pulang, El?” tanya Papi melirik putranya. Noel mengambil duduk di sofa terpisah lantas tersenyum kaku. “Nanti nggak dibolehin pergi lagi kalau anter pulangnya di atas jam delapan, Pi.” “Resiko itu, El... Aran kan masih SMP,” kekeh Mami menggoda. Lagi-lagi Noel hanya tersenyum canggung. Entah mengapa jika membahas masalah pribadinya Noel selalu enggan, meski dengan kedua orang tuanya sekalipun. “Nigi belum pulang, Pi?” Noel mengalihkan pembicaraan. “Belum, Saba bilang kan nganterin pulangnya jam sembilan.” Mendengar nama itu membawa Noel pada rasa pe

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD