32. Tiga Puluh Dua

1113 Words

Entah sudah berapa lama Nigi mondar-mandir di depan pintu kamar tamu rumahnya. Sebenernya sih baru saja, tapi entah mengapa gadis itu merasa ini sudah terlalu lama. Nigi tidak henti menggigiti ujung jari telunjuknya, dengan ekspresi penuh kecemasan dia menunggu Papi keluar dari kamar itu dan segera memberitahukan keadaan Saba padanya. Lima menit. Sepuluh menit. Lima belas menit. Waktu terasa begitu lama kali ini, dan itu benar-benar membuat Nigi frustrasi. Dirinya tidak tahu harus melakukan apa untuk mengurangi rasa cemasnya, meski Noel sudah berkali-kali mengatakan atau membisikan bahwa Saba berada di tangan yang tepat dan akan baik-baik saja. Sayangnya, kalimat itu tidak berdampak kali ini. Sama sekali tidak berdampak sedikitpun. Pasca pingsan dalam pelukan Nigi, Saba memang langsun

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD