“Lo nggak marah sama gue, kan? Karena Saba jadi gini...” Kedua orang itu baru saja menyelesaikan urusan mereka di apotek tidak jauh dari rumah Nigi ketika Nigi memutuskan keheningan di antara keduanya yang sejak tadi rasanya begitu mencekik. Dengan membawa obat yang dipesan Papi, mereka berdua pulang berjalan kaki, sama seperti yang mereka lakukan saat pergi tadi. Sebenarnya Rei sudah menawari Nigi untuk menaiki mobil yang dia bawa, tapi Nigi menolak dengan alasan bahwa apotek itu tidak terlalu jauh dari rumahnya. “Kenapa gue harus marah sama lo? Justru gue makasih banget, makasih banget karena lo akhirnya mau ketemu Saba.” Nigi menghela napas, menaikan pandangannya pada Rei yang berjalan di sampingnya. Gadis itu melihat senyum tulus di wajah Rei, hanya saja melihat itu membuat Nigi se

