Seharian Nigi mencari pemuda yang membuat tidurnya tidak nyenyak dan harinya tidak nyaman, tapi seperti halnya kemarin-kemarin, pemuda itu tidak juga menampakan batang hidungnya hingga jam sekolah hampir berakhir. Nigi dibuat gusar bukan main, bukan hanya karena pemuda itu tidak menampakan diri, tapi juga karena pemuda itu tidak mengabarinya sekalipun. Ponselnya terlalu senyap, terlalu sepi tanpa gangguan pemuda yang bernama Saba, pemuda yang berhasil merubah siklus hidupnya akhir-akhir ini. Bel pulang sekolah akhirnya berbunyi, tapi yang ditunggu tidak kunjung datang. Sementara ego masih menguasai Nigi yang tetap enggan bertanya tentang keberadaan Saba melalui pesan singkat atau bahkan menelepon orang itu, pada akhirnya malah membuatnya resah sendiri. Apa ini rasanya mengkhawatirkan oran

