“Apa? Nggak pernah lihat orang nangis?!” bentak Nigi galak.
Pemuda berjaket biru itu tertegun saat mendapati wajah Nigi yang dirasa familiar olehnya. Hingga ingatan itu kembali pada peristiwa kurang lebih dua minggu lalu, saat kepalanya diserang tiba-tiba oleh seorang gadis di sekolahnya.
Gadis pemain kendo! Yap, pemuda berjaket biru dengan topi yang dikenakannya itu jelas-jelas adalah Saba, Saba yang sepertinya tidak dikenali oleh pelaku pemukulan tempo hari.
Saba melirik seragam yang dikenakan Nigi. Perlahan mengerti kenapa dia tidak pernah menjumpai Nigi lagi di sekolahnya sejak kejadian itu. Alasannya sederhana, karena rupanya gadis di hadapannya ini ternyata bukan berasal dari sekolah yang sama dengan Saba, bukan berasal dari SMA Atlanta, melainkan dari sekolah tetangga yang tidak lain SMA Nusantara.
Nigi berdecak, lantas berdiri untuk menatap lebih dekat pemuda yang tetap diam meski jelas-jelas Nigi sudah mengisyaratkan pemuda itu untuk pergi dan berhenti mengganggu drama patah hatinya.
“Kenapa sih lo? Nggak suka gue nangis di jalan? Gue ngalangin jalan lo, gitu? Atau lo memang belum pernah lihat orang patah hati dan nangis, hah?!”
Untuk pertanyaan pertama dan kedua Saba menggeleng, lantas mengangguk untuk pertanyaan ketiga. Sayangnya Nigi tidak cukup mengerti dengan cara komunikasi nonverbal macam itu, terlebih ekspresi datar Saba yang tidak mendukung, membuat Nigi menatap balik pemuda di depannya dengan tatapan aneh. Bahkan Nigi tidak sadar air matanya sudah berhenti mengalir, teralihkan oleh sikap ajaib Saba yang baru pertama kali dia temui. Hanya kekacauan yang terlihat dari sisa-sisa tangis pada wajah gadis itu, yang mau tidak mau membuat Saba menatap prihatin meski tetap dengan ekspresi datarnya.
“Oke, gue pergi kalau memang gue ngalangin jalan lo!”
Keduanya bertatapan dengan jenis sorot yang jauh berbeda. Nigi yang diliputi kesal, dan Saba yang dingin-dingin saja.
“Dan ini!” Nigi menyerahkan payung berwarna kuning di tangannya kasar hingga membentur d**a bidang Saba.
“Mungkin lo lebih butuhin ini dari gue,” gumam Nigi lantas beranjak menerobos hujan, langkah Nigi sempat tertahan karena Saba menahan pergelangan tangan gadis itu dan menyerahkan kembali payung yang kini ada di tangannya. Tapi Nigi segera menepis tangan Saba, menyerahkan payung itu kembali.
“Yang lebih gue butuhin sekarang ini hujan. Jadi payung ini buat lo aja,” tolak Nigi kemudian lari tanpa dapat dicegah lagi.
Saba tergugu, mengamati punggung Nigi yang perlahan menjauh lantas menghilang dari pandangan. Tatapan pemuda itu kemudian jatuh pada tangkai payung yang dia genggam, menghela napas sejenak sebelum bersuara samar. “Dia nggak inget gue?” bisik Saba pada dirinya sendiri.
Saba beranjak setelah beberapa detik termenung sambil memandangi payung dalam genggamannya. Langkahnya terarah pada mobil hitam yang sejak tadi mengikuti setiap langkah yang dia ayunkan. Tanpa basa-basi pemuda itu membuka pintu di samping kemudi, masuk dan duduk di sana dengan tenang.
“Gue udah bilang gue lagi pengen sendiri.”
“Eh? Anu—hehe.” Rei mengusap tekuk, bingung harus mengatakan apa setelah aksi mata-matanya tertangkap basah.
Tidak ada yang buka suara setelah cicitan salah tingkah Rei barusan. Saba hanya diam di tempatnya, sementara Rei sendiri jadi bingung harus melakukan apa.
“Udah gitu doang?”
“Apanya?”
“Ya gue kira lo mau ngamuk atau apa gitu?”
“Lain kali kalo gue bilang lagi pengen sendiri jangan sok ngebuntutin.”
Rei tertawa hambar.
“Hei, gue cuma khawatir lo nyasar kayak beberapa hari lalu!” Rei berusaha membela diri, tapi pemuda di sampingnya justru diam saja tanpa berniat menanggapi ucapan sepupunya. Akhirnya selalu Rei yang menyerah dan mengaku kalah. “Ya, ya, ya... terserah lo deh. Balik nih kita?”
“Jangan, gue nggak mau ngerusak suasana rumah.”
“Terus mau ke mana?”
“Apartemen.”
Pandangan Rei yang semula lurus ke depan kini menghadap sepupunya antusias. “Apartemen? Sejak kapan lo punya apartemen?”
“Apartemen lo.”
Rei mendesah malas.
“Kalau kayak gini aja lo manfaatin gue.”
“Masih ada, kan?”
“Apanya?” Rei mengeram gemas, sepupunya ini paling bisa mengabaikan kata-kata orang lain membuat semua kalimat yang dia keluarkan terasa percuma.
“Apartemennya.”
“Ada lah, mana berani gue ngutak-atik pemberian Oma.”
“Ya udah.”
“Apanya yang ‘ya udah’?” Rasanya Rei sudah tidak tahan lagi dengan pembicaraan yang melelahkan ini.
“Ke apartemen.”
“Fine! Hahhh.. lo bener-bener sukses bikin gue nyesel udah ngikutin lo!”
Saba tidak peduli dengan ucapan Rei, perhatiannya malah lebih terfokus pada payung kuning yang masih dalam genggamannya.
***
“Argh... Nigi dodol, dodol, dodol! Ngapain sih pake acara nangis segala! Jadi ancur gini kan muka gue, hueee… Apa-apaan nih! Bahkan ujan-ujanan nggak nutupin bekas-bekas nangis gue! Dasar sinetron tukang ngibul! Katanya 'menangis di bawah hujan bisa menyamarkan air matamu' Pret! Buktinya mana? Jelas banget gue kelihatan abis nangis gini! Gimana nih? Kalau Papi sama Mami sampe tahu, apa lagi si rese Noel, bisa abis diintrogasi gue! Yang ada mewek lagi kan...” gerutu Nigi panjang—dalam hati, yang terlihat hanya ekspresinya yang mengerut menyesali tindakannya sendiri. Gadis itu bersembunyi di balik tiang listrik yang berada tepat di depan rumahnya.
Dia baru saja menggunakan kaca spion mobil yang terparkir di sana untuk memastikan keadaannya, seluruh tubuh yang basah dan wajah yang sembab sehabis menangis benar-benar membuatnya terlihat menyedihkan.
“Ngapain lo ngendap-ngendap di sini?”
Suara itu membuat Nigi melonjak kaget, berbalik mendapati kembarannya yang sudah menatap Nigi dengan sorot menyelidik. Gadis itu terkekeh sambil berusaha menutupi bekas-bekas tangis dengan rambut panjangnya yang terurai.
“Eh, Kak El. Dari mana, Kak?” Nigi melirik kantong plastik yang menggantung di tangan kanan Noel. Sepertinya pemuda itu baru saja belanja sesuatu di warung ujung kompleks sana.
Noel tidak menjawab pertanyaan Nigi, membuat gadis itu semakin salah tingkah karena tatapan menyelidik Noel terus tertuju padanya.
“Eng... Papi sama Mami ada di dalam nggak, Kak?” tanya Nigi takut-takut.
Sebelah alis Noel terangkat, menatap Nigi penuh curiga, matanya memicing mengamati gadis di hadapannya lebih detail. “Tumben lo manggil gue ‘Kakak’, biasanya seenak jidat lo. Nah, kalau udah kayak gini pasti karena lo ngelakuin sesuatu yang janggal dan—”
“Gue nggak ngapa-ngapain kok! Ya udah sih kalo nggak mau dipanggil Kakak!” sungut Nigi tidak terima dituding yang tidak-tidak.
Dan saat itulah Nigi melupakan hal yang seharusnya ia sembunyikan pada wajahnya yang kini kacau balau. Tanpa pikir panjang dia mendongak menantang Noel, tapi itu berarti juga Nigi baru saja menunjukan wajah menyedihkan hasil habis menangis miliknya. Nigi meringis menyadari tatapan curiga Noel yang kini menghujamnya tajam. Gadis itu perlahan berbalik hendak kabur, tentu saja tidak semudah itu, karena dengan santainya Noel sudah menggapai tali ransel Nigi yang membuat gadis itu tidak bisa ke mana-mana.
“Gue bakal selametin lo dari interogasi Papi-Mami, tapi nggak dari gue,” tekan Noel lalu menyeret adiknya itu hingga harus berjalan mundur.
Nigi hanya menunduk pasrah sebagai tanda dia tidak bisa kabur lagi dari Noel. Karena dia tahu, selama ini saudaranya itu terlalu peka dengan perasaannya. Berkali-kali Noel mengatakan bahwa dia tahu apa yang Nigi rasakan, meski tidak pernah menjelaskannya secara detail maksud dari ucapannya itu, yang kemudian membuat Nigi mengira itu hanya bualan kembarannya semata. Tapi sepertinya saat ini, apa yang Nigi rasakan tidak bisa disembunyikan lagi dari Noel.