Sepasang kaki panjang terbalut celana bahan berwarna hitam muncul dari balik pintu mobil. Tampak pria dengan tampilan perlente berdiri congkak. Menurunkan kacamata hitam, dan seketika menatap sinis tepat ke arah Nando.
“Kasihan sekali kau, Mei. Bukannya menikmati bulan madu yang indah dengan berlibur. Justru diajak jalan kaki pagi-pagi begini,” sindir pria tersebut.
Nando masih tak tahu, siapa sosok di kini berdiri di hadapannya. Namun yang pasti, pria ini sangat sombong. Dari gerak-geriknya, cara pandang, serta nada bicara.
Mei sendiri hanya memutar kedua mata. Dia sudah berusaha menghiraukan para tetangga. Malah sekarang harus berhadapan dengan yang lebih parah.
“Maumu apa Benu?” tanya Mei.
Benu, benar, pria yang sejak dulu sangat menginginkan Mei untuk dijadikan istri. Kini berdiri pongkah, berusaha memperlihatkan semua yang dia punya.
“Sebaiknya kau mempertimbangkan tawaranku. Daripada harus menghabiskan hidup dengan pria kere seperti dia.” Sekali lagi, tatapan menghina ditunjukkan Benu untuk Nando.
Nando sendiri tak ambil pusing. Sekarang dia mengerti, pria di depannya ini, pasti menyukai Mei.
“Sayang, perempuan secantik dan sepintar kamu, dapat suami kayak dia,” lanjut Benu.
“Tidak ada hubungannya denganmu!” Balas Mei ketus. Melihat wajah Benu pagi-pagi begini, membuat Mei ingin muntah.
Benu lagi-lagi tersenyum. Memamerkan satu gigi emas di antara bibir. Bukan terkesan, Mei malah tambah mual. Bagaimana bisa seseorang dengan percaya diri mengenakan gigi emas begitu, pikirnya.
“Kamu masih bisa memilih. Bercerai, lalu jadi istriku.”
“Sampai mati aku tak sudi!” Mei sengaja meludah. Menunjukkan kepada Benu jika dia tidak minat sama sekali dengan tawaran apa pun. “Ayo, Bang. Kita lanjut jalan!” Dengan santai, dia raih lengan kekar yang berurat milik Nando. Berusaha menunjukkan bahwa Nando lebih dari segalanya.
Benu mengepalkan kedua tangan hingga buku-buku jari memutih. Tindakan yang baru saja diperlihatkan oleh Mei sungguh melukai egonya. Di desa ini, siapa yang tidak mau menjadi istrinya. Mei sungguh menjatuhkan harga diri seorang Benu.
“Sialan!”
Brak...!
“Abang...!” lengan Nando yang terlilit oleh kedua tangan Mei terlepas paksa. Bersamaan dengan tubuh tegap yang tersungkur di tanah. “Abang! Nggak papa?” Mei gegas mendekat, berjongkok dan berusaha memapah tubuh sang suami yang masih tertelungkup.
“Woi orang gila!” Mei menatap nyalang. “Kenapa main kasar begini?!”
“Diam kau Mei!” Jari telunjuk Nando teracung lurus. Hanya berjarak sekitar 5 sentimeter dari wajah Mei. “Jangan sok kau! Kalo aku mau, bisa kubeli tubuhmu yang tidak seberapa itu.”
Nando yang awalnya diam, seketika tersentil. Kata-kata yang dilontarkan oleh Benu layaknya bara api yang menyentuh dadanya. Menjalarkan hawa panas hingga ke telinga. Melelehkan saraf-saraf di otak.
Bug!
Satu tinju menyapa pipi kanan Benu. Mendarat dengan perhitungan yang tidak meleset sedikit pun. Cukup untuk membuat tubuh pria congkak itu terhuyung ke belakang.
“Pria sejati tidak akan menghina derajat perempuan. Kecuali dia yang hanya mampu bertarung di atas ranjang tidak lebih dari 2 menit.”
Belum sempat Benu membalas. Nando sudah kembali bergerak. Lengan kekarnya menjepit leher Benu, hingga pria itu menjerit, seperti lolongan anjing.
“Ampun..., k-ku..., mohon, le-lepas-kan....” Suara Benu tersendat. Napas terputus-putus, mirip orang yang tengah bertemu malaikat maut.
Mei meringis. Agak ngeri melihat aksi Nando kali ini. Belum lagi wajah tampan yang sudah berubah. Mata menyipit, mirip seekor singa yang tengah membidik mangsa. Bibir terkatup lurus, menyamarkan dua lesung pipi yang biasanya menjadi daya tarik. Urat-urat di lengan bermunculan layaknya akar pohon, mengencang seperti akan pecah.
“Sudah, Bang. Nanti dia kehabisan napas.” Mei segera mendekat, menyentuh biseps yang lebih mirip batu karang. “Jangan ladeni orang tidak waras seperti dia. Tangan Abang terlalu bersih untuk menyentuh tubuh busuk ini.”
Suara Mei yang lembut dan sejuk bagai embun di pagi hari, berhasil memadamkan kobaran api yang membakar d**a Nando. Otot yang sudah meremukkan batang leher Benu, perlahan mengendur dan akhirnya terlepas.
Sebelum benar terlepas, satu kaki Nando sudah terlebih dulu menendang b****g Benu. Membuat pria itu berguling seperti trenggiling. Setelan rapi kehilangan kesan mewah, terbalur sempurna oleh debu jalan.
“Ayo!” Nando segera menarik Mei, menjauh dari jangkauan Benu.
Sepanjang jalan, hening menyelimuti mereka. Hanya derap langkah kaki yang sesekali menyapa. Namun, tangan mereka masih terpaut. Nando seolah memberikan perlindungan lewat genggam tangan yang hangat.
“Assalamualaikum.” Suara Nando dan Mei serempak mengucap salam.
“Waalaikumsalam.” Pintu kayu berwarna cokelat tua perlahan bergeser. Menampilkan seorang pria paruh baya yang berdiri di atas sana. “Eh. Nando, Mei. Mari naik!”
“Bibi mana, Paman?” Tanya Nando setelah mereka duduk di atas kursi kayu jati.
“Ada, lagi di belakang,” jawab Toni. “Ngomong-ngomong, ada apa bertandang pagi-pagi begini?”
“Mau lanjut bahas pasal kemarin, Paman,” ujar Nando langsung ke intinya.
Toni mengangguk, paham apa yang dimaksud. “Sebentar, Paman ambil dulu berkasnya.” Setelahnya, lelaki itu gegas berdiri meninggalkan ruang tamu.
Udara segar menerpa kulit Nando dan Mei. Menghadirkan sensasi sejuk seperti siraman es. Kicau burung di atas atap rumah beberapa kali tertangkap telinga. Menambah kesan asri pedesaan.
“Minum dulu, Nan, Mei!” Istri Toni datang, meletakkan sebuah nampan berisi tiga gelas teh hangat dan sepiring bolu pandan. “Maaf, Bibi tidak bisa ikut duduk. Di belakang masih banyak cucian.”
“Tidak masalah, Bi,” kata Mei sambil tersenyum tipis.
Bersamaan dengan kepergian istrinya, Toni muncul dengan beberapa lembar kertas di tangan. “Ini, coba dibaca dulu!”
Jari Nando meraih tumpukan kertas di atas meja. Membuka map pertama, dan menelaah satu per satu kata yang tertera. Mei curi-curi pandang lewat sudut mata. Mencari tahu apa yang tengah dibaca suaminya.
“Loh, ada lagi Paman?” Nando sedikit kaget, ketika tahu jika daftar warisan yang dia akan dapatkan lebih dari perkiraan.
“Ya kan lembar belakang memang belum kamu baca, keburu komplain di poin pernikahan,” balas Toni.
“Ini sih lebih dari cukup buat modal,” gumam Nando. Masih sibuk membalik lembar demi lembar di atas meja.
“Bahkan rumah yang di samping juga punya kamu.”
Nando mengikuti ke mana mata pamannya. Rumah tua di samping? Itu juga akan jadi miliknya?
Meski tua, tapi rumah itu masih kokoh. Tiang penyangga, lantai dan dinding, semua terbuat dari kayu ulin. Jika dibangun di zaman sekarang, lebih murah menggunakan batu bata, semen, dan keramik.
“Kamu bisa pakai rumah itu sementara. Sebelum memutuskan balik ke kota,” ujar Toni sambil menyeruput teh yang tersaji. “Setelah menikah, lebih baik tinggal terpisah dari orang tua atau mertua. Biar mandiri.”
Baik Nando dan Mei, tak sengaja mengangguk bersamaan. Bukan karena menyetujui apa yang baru saja dikatakan Toni. Namun, lebih ke pemikiran keduanya yang tampak sejalan.
Tinggal terpisah dengan keluarga Mei. Membuat keduanya lebih gampang menjalani hubungan ini. Bisa tidur terpisah, dan tidak terlalu intens berinteraksi. Tragedi seperti pagi tadi pun, akan mustahil terjadi.
“Rumah, perkebunan kopi seluas 2 hektar, perkebunan kelapa 2 hektar, perkebunan teh 5 hektar, tabungan emas murni 2000 gram, sawah 25 petak masing-masing seluas 100 meter persegi.” Nando sibuk mendikte satu demi satu daftar harta yang menjadi bagiannya.
Mei bagaimana? Perempuan itu tak mampu mengatup mulutnya. Jika benar yang disebut Nando barusan adalah harta yang akan diberikan. Tentu Nando jauh lebih kaya daripada Benu.
“Oh, ada lagi Nan. Tanah seluas 1 hektar yang berlokasi di jalan raya pusat kabupaten juga sempat dihibahkan untuk Papamu,” balas Toni lalu kembali masuk ke dalam kamar.
Mata Mei semakin melebar.
“Dia ternyata sultan!”