Pagi Pertama

1267 Words
“Sudah dong, Mei. Pagi-pagi bukannya melayani suami, malah nangis-nangis tidak jelas.” Pagi buta keluarga Nasrudin sudah dibuat geger dengan suara jerit histeris disertai tangisan Mei. Nasrudin dan Rosmah sampai dibuat pening. Belum lagi tetangga kiri kanan yang mulai kepo. “Malam pertama emang sesakit itu ya? Sampai Kak Mei nangis kejer kayak gitu,” ujar Mela, wajah polosnya mengandung rasa ingin tahu. “Sakit sih, tapi nggak sampai nangis deh. Malah bentar doang, habis itu enak,” sambung Mita. “Tutup mulut kotor kalian ya!” Jawab Mei dengan mata melotot. Malam pertama apanya. Baru dipeluk saja nyawa sudah mau melayang. Apalagi sampai masuk. Mei bahkan bergidik. Dia mengingat tingkah gilanya semalam. Berani sekali dirinya menggoda Nando, sekarang malah sawan. Untung waktu itu Nando tidak langsung melahapnya. “Terus, Kak Mei kenapa?” Mela kembali bertanya. Rosmah mengangguk. Dari tadi Mei tidak membalas satu pertanyaan pun. Cuma tangisan yang dia perlihatkan. “Bang Nando mau memperkosa Mei, Bu,” ujar Mei. Makin deras air mata dari pelupuk mata. “Hah?!” Semua orang terkesiap. Serempak membuka mulut lebar. “Kamu ini sinting atau bagaimana? Mana ada suami mau perkosa istri,” balas Rosmah. “Ada, Bu. Buktinya bangun-bangun, Bang Nando sudah b***l sambil peluk Mei.” Mata Mei menghunus tajam ke arah pria yang kini berdiri kikuk di ambang pintu kamar. Bahkan tubuhnya dia biar terbuka, hanya ada sehelai handuk yang entah dari mana didapat. “Percuma kuliah sampai S2 kalo otakmu masih bloon!” sindir Rosmah. “Kok Ibu jadi ngatain, Mei. Jelas di sini putrimu jadi korban,” ujar Mei tak terima. “Heh, sini telinga kamu.” Rosmah menarik daun telinga kiri Mei. “Jangankan peluk-peluk, kamu dibantai sampai terkoyak-koyak pun, suamimu tidak salah!” Mei merinding sembari menjauhkan tubuhnya dari sang ibu. Enteng sekali ibunya berbicara demikian. Apanya yang terkoyak? Seram! “Suda, sana masuk! Istri itu harus melayani suami, kalo nolak berdosa.” “Ta-tapi...,” “Sudah, jangan ngeyel. Ibu sama Bapak nggak mau loh ya di akhirat nanti diminta pertanggungjawaban karena salah satu anaknya durhaka sama suami,” kata Rosmah. “Yang lain bubar juga!” Titah Pak Nasrudin kepada anak menantunya. Selepas kepergian adik-adik dan iparnya. Mei masih mematung. Masuk ke dalam kamar, sama saja menyerahkan diri ke dalam kandang singa. Begitulah pikirnya. “Maaf ya, Nak. Lagi-lagi kamu harus melihat kegaduhan ini,” ujar Rosmah sungkan. Menatap mantu baru dengan ekspresi tak enak hati. Sudut bibir Nando terangkat. Dua lesung pipi tercetak jelas. “Tidak masalah, Bu. Mungkin Mei belum siap dengan kehadiran saya.” “Tapi seharusnya Mei tidak boleh berlebihan. Biar bagaimanapun, kalian sudah sah sebagai pasangan.” Mei Cuma bisa mendelik. Lagi-lagi ibunya lebih condong ke Nando daripada dia yang notabene adalah anak sendiri. Posisi dirinya sebagai anak kandung mungkin akan bergeser dalam waktu dekat. “Tunggu apalagi? Sana masuk!” Rosmah memerintah lewat tatapan tajamnya. “Tukang c***l,” tuding Mei tatkala keduanya kembali masuk ke kamar. “Jangan asal tuduh! Semua yang kamu pikirkan tentang saya itu salah.” “Lantas? Apa namanya kalo bukan c***l? Memeluk perempuan yang tengah tertidur, lepas baju pula,” balas Mei tak mau kalah. Baginya, dia korban dalam insiden ini. Satu alis Nando terangkat. “Bukannya kamu juga melakukan hal yang sama? Malah lebih erat, sampai saya susah bernapas.” “Jangan ngasal ya!” Mei langsung mengacungkan jari telunjuk. Tepat di depan hidung suaminya. “Sudah salah, malah playing victim.” “Terserah kamu. Saya pusing. Yang jelas, alasannya saya melepaskan pakaian karena merasa panas.” Nando berbalik arah, berjalan menuju sisi kasur. “Lagi pula kita sama-sama tidur, jadi tidak ada yang tahu kejadian aslinya.” Dengan santai, lelaki 190 cm itu memungut pakaian yang berceceran. Memakai dengan santai. Mei menahan napas. Selain karena emosi. Tubuhnya kaku saat mata tak sengaja menyorot tubuh seksi di depan. Bahu lebar, perut rata dengan tonjolan mirip roti. Belum lagi d**a bidang yang tampaknya nyaman dijadikan sandaran. “Awas, liurmu hampir jatuh.” “Eh!” Mei mengerjapkan mata, sadar karena sudah berpikir liar. “Mana ada.” Tidak ada basah di punggung tangan yang digunakan untuk mengelap bibir. Jelas Mei dibohongi. “Selain tukang c***l, ternyata pembohong juga.” “Sudah, kepala saya pusing.” Nando memijat kedua pelipisnya. “Bukannya berjanji untuk membuatkan saya minuman jahe,” kata Nando menagih janji. Mei mengangguk pelan. “Ayo, minumnya di teras saja!” Semilir angin sejuk menerpa wajah tampan Nando. Meski tubuhnya masih meriang, tapi angin yang datang tak membuatnya merasa buruk. Beberapa daun talas menadah air dan embun. Zaman sudah maju, banyak daerah ikut bertransformasi. Namun, sepertinya desa ini pengecualian. Rekaman masa lalu hadir, seperti kaset rusak. Memenuhi ruang memori di kepala Nando. Tiap keping ingatan tersusun rapi, seperti baru saja berlalu. “Lagi mikirin apa?” Sosok Mei sudah berdiri di samping Nando. Satu tangan memegang nampan yang berisi sebuah gelas kaca. Terisi air berwarna cokelat keemasan. “Itu air jahenya?” Nando tidak menjawab pertanyaan tadi, dia justru balik bertanya. “Iya, ini bisa membantu tubuh terasa lebih enak.” Mei meletakkan nampan di meja depan, sembari duduk di samping Nando. “Coba minum!” Tanpa banyak bertanya. Nando mengikuti perintah. Hangat jahe dengan sedikit manis dari gula merah membasahi kerongkongan. “Bagaimana? Enak?” “Lumayan.” Nando mengangguk setuju. “Hangat, manis, terus ada rasa segar dari lemon.” “Sengaja saya campur lemon sedikit.” Mei tanpa sengaja memamerkan senyum lebar. Deretan gigi putih tertata membentuk sebuah barisan yang presisi. “Habis melamun apa? Modal usaha?” Tampak Mei masih penasaran. Nando menggeleng. “Bukan, cuma ingat masa kecil, dulu sering ke sini bareng Mama dan Papa.” “Oh iya, Bang Nando ini cucunya almarhum Haji Saiful ya?” Kelihatannya, Mei telah melupakan tragedi saat mereka bangun tidur. Buktinya sekarang dia sangat bersemangat mengajak Nando bicara. Cepat sekali suasana hatinya berubah. “Iya, saya anak Pak Hartono.” “Pak Hartono? Kenapa terdengar asing?” “Hahaha....” Nando tak sengaja melepas tawa. Lagi-lagi dua lesung pipi muncul tanpa malu. “Wajar kamu tidak kenal. Papa saya sudah merantau sejak kuliah dan jarang pulang ke sini,” ungkap Nando. Mei mengangguk setuju. “Kalau boleh tahu..., berapa banyak warisan yang Bang Nando dapat?” “Penting sekali ya?” “Tidak juga.” Mei lekas menggeleng. “Cuma penasaran saja.” “Ya sudah, karena ingat. Ayo ke rumah Paman Toni, saya memang harus melanjutkan pembahasan yang tertunda.” Tubuh Nando sudah tegap, bersiap untuk memakai sandal. “Habiskan dulu!” Mei menodong gelas kaca di depan muka Nando. “Sayang.” “Saya tidak terbiasa dipanggil sayang,” ucap Nando. “Eh!” Mei berdiri keki. “Bukan itu maksudnya. Air jahenya sayang kalo tidak dihabiskan.” Bahu Nando agak terangkat. “Saya kira,” katanya. Mei sendiri memilih tidak menggubris, meski bola mata berputar, jengah. Keduanya berjalan beriringan. Menelusuri jalan aspal yang masih lembap. Beberapa pasang mata mengamati, menyorot penuh minat, mirip CCTV jalan. “Mereka kenapa?” tanya Nando, sedikit berbisik. “Saya risi dipelototi seperti ini.” Mei agak meringis. Apa yang Nando bilang tidak salah. Mata para tetangga, terutama ibu-ibu di sekitar rumahnya memang luar biasa. “Abaikan saja, Bang. Sudah kebiasaan mereka, harap maklum saja.” Nando setuju. Dia tiba-tiba meraih tangan Mei, menggenggam tangan mungil dengan tangannya yang lebar. Hangat langsung menjalar di tubuh Mei. Seperti ada aliran listrik yang tersambung. Tak lama, bunyi klakson mobil memaksa mereka berhenti. Mei dan Nando refleks menoleh ke belakang, di mana sumber suara berasal. Nando serius memerhatikan mobil tersebut. Namun, Mei sebaliknya. “Gawat!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD