Malam tiba, sepanjang pengantin baru yang terlibat perdebatan beberapa jam lalu, kini berada dalam situasi canggung. Mei duduk di meja rias, sedangkan Nando di kasur.
Mengapa jadi Nando yang enak-enakan di kasur? Pikir Mei. Ini kan kamarnya, jelas dia yang lebih layak berada di situ.
“Saya mau tidur,” ujar Mei.
Nando diam, tak ada niat menjawab. Mata dengan iris hitam pekat menerawang. Sejak berdebat dengan Mei, lelaki itu jadi sering diam.
“Helo, saya bilang, saya mau tidur.” Mei mengangkat kedua tangan, menggerakkan ke kanan dan ke kiri. “Huh..., kemasukan jin apa bagaimana?”
Dengan enggan, dia berdiri, melangkah pelan menuju kasur. “Bang, saya mau tidur,” kata Mei untuk ke sekian kali.
“Ha? Apa?”
Sepertinya kesadaran sudah menguasai diri Nando. Dia lantas berdiri, saling berhadapan dengan istrinya. “Kamu bilang apa tadi?”
“Saya mau tidur, minggir sana!”
“Loh, terus, saya tidur di mana?” Mata Nando berputar ke segala penjuru ruangan. Mencari-cari tempat yang bisa dipakai untuk merebahkan tubuh.
Sayang, tidak ada satu pun yang bisa diharapkan. Kamar Mei hanya terdiri dari satu kasur ukuran queen, sebuah lemari dengan dua pintu, dan meja rias.
“Mana saya tahu, intinya saya mau tidur.” Mei sudah merebahkan tubuh, kedua tangan menarik selimut hingga leher. Mata telah terpejam.
“Mei, bangun dulu!” Nando menyentuh pundak yang terbungkus kain tebal. Mengguncang pelan hingga empunya resah.
“Kenapa sih, Bang. Saya capek seharian ini, loh.”
“Kamu kira saya tidak capek? Saya tidur di mana? Tidak ada sofa di sini.” Sekali lagi, kepala Nando bergerak ke kiri dan ke kanan. Seolah memastikan pandangan tidak salah. “Masak saya tidur di sofa ruang tamu, yang ada besok saya pastikan kamu diamuk ibumu.”
“Tidak ada yang suruh Abang tidur di luar.” Mei duduk, memandang santai sambil menggulung rambut. “Tuh, tidur saja di lantai,” katanya sembari bibir bergerak ke bawah.
Nando menghela napas, pasrah. Dia benar-benar kehabisan energi untuk berdebat kembali. “Baiklah, tapi..., saya pinjam bantal dan guling.” Tidak menunggu respons Mei, Nando segera mengadakan satu buah bantal dan guling.
Mei terdiam, matanya tak berkedip, mengawasi gerak-gerik Nando menata bantal dan guling di atas ubin yang sejuk. Badannya merinding, malam hari begini, pastilah keramik rumah tak layak untuk disentuh. Namun, Mei memilih abai, dia segera menutup tubuhnya dengan selimut.
Malam makin pekat, jarum jam terus bergeser. Udara luar menembus masuk melalui ventilasi. Mei kian mengencangkan selimut. Hembus angin menyapa tanpa permisi, menusuk hingga sumsum tulang.
“S-sst-tt....”
Suara menggigil, diiringi gemeletuk gigi mengusik ketenangan Mei. Meski berat, Mei perlahan membuka mata, mencari sumber suara yang mengganggu. Tak butuh waktu lama, perhatiannya langsung tertuju pada sosok dengan bahu lebar di bawah.
Punggung lebar bergetar, tubuh meringkuk. Mei lantas menatap jam yang melekat pada dinding. Pukul 2 dini hari! Pantas saja Nando mengigil seperti sekarang.
“Kasihan juga, suruh naik aja kali ya?” Mei ragu dengan ide yang terlintas. Tidur satu kasur? Apakah dia siap?
“Tapi nggak tega juga lihat dia gemetaran kayak gitu,” gumamnya. Mata Mei memandang Nando dan jam dinding bergantian. Kedua bibir mengatup rapat, berusaha mencari solusi terbaik.
“Kalo besok dia sakit, bisa diomelin Ibu lagi pasti,” keluhnya. Sekelebat, bayangan Rosmah mampir di kepala Mei. Mata elangnya yang tajam, langsung membuat nyali ciut. Baru membayangkan saja Mei sudah ngeri.
“Ya sudahlah, daripada harus berdebat sama Ibu besok pagi.” Tangan Mei sigap menjauhkan selimut dari tubuhnya. “Huu....” Telapak kaki langsung diterpa hawa dingin yang menusuk. “Pantas saja dia sampai gemetaran kayak lagi joget ngebor.”
“Bang, ayo naik ke atas kasur!” Mei memosisikan bibirnya tepat di belakang daun telinga Nando.
“Hmm....” Nando semakin menekuk lutut, masuk dalam ke arah perutnya.
“Aduh, nggak bangun lagi,” ujar Mei gemas. Tangannya perlahan menyentuh bahu sang suami. Keras dan berotot, itu sinyal pertama yang diterima otaknya. Namun tak kalah penting, tubuh Nando terasa hangat.
“Dia demam?” ujar Mei bertanya kepada diri sendiri. Netra melebar, untuk kedua kali, menyentuh Nando di bagian pipi. Benar, tidak salah lagi, Nando demam, badannya panas bagai bara api.
“Bang, ayo naik ke kasur!” Dua tangan Mei langsung mengguncang tubuh Nando. “Hei, pindah sekarang juga!”
Nando akhirnya membuka mata. Kepala terasa berat, seperti ada batu besar menindih. Kelopak mata panas, bibir dan kerongkongan kering.
“Kenapa?” Samar, Nando melihat sesosok wanita sedang berjongkok di hadapannya. “Saya tidak pulang, saya maunya kamu.”
“Hah?!”
Mei tidak mengerti sama sekali apa yang diucapkan Nando barusan. Perasaan Mei tidak mengusirnya, terus apalagi tadi? Mau kamu?
“Tolong jangan pergi lagi Cantika.” Nando kembali berceloteh. “Kenapa kamu tidak pernah lagi membalas pesanku? Apa kamu lupa dengan janjimu? Janji untuk menikah denganku? Lalu memiliki banyak anak?”
Napas Mei memburu, dua lubang hidungnya membesar tanpa perintah. “Bisa-bisanya dia mengigau, mana sebut perempuan lain lagi.” Kali ini gigi Mei yang menggeletuk, bukan karena hawa sejuk, melainkan rasa panas yang datang tiba-tiba di d**a.
Pedas telinga Mei mendengar Nando yang ingin punya anak dengan perempuan lain. Tunggu, siapa itu Cantika? Apakah pacarnya? Pikir Mei.
“Bang, bangun!” Mei langsung meraih tubuh Nando, membuat suaminya langsung duduk dengan mata terbuka lebar. “Pindah ke kasur!”
Nando terkesiap. Dia bertanya dalam hati, kenapa Mei ada di hadapannya? Lalu? Mana Cantika? Perempuan yang sudah lama ia rindukan?
“Ayo, naik sekarang!”
Mata Nando membidik Mei yang kini tengah duduk bersandar di atas kasur. “Naik ke mana?”
“Hah...!” Mei tampak jengah. “Naik ke kasur, tidur di sini.” Mei menepuk bagian kasur yang kosong. “Jangan salah paham dulu, situ nggak merasa kalo itu kulit panasnya bukan main. Saya tidak mau jika besok Ibu ngomel lagi.”
Alis Nando masih saling bertaut. Mata tetap fokus menatap Mei dengan penuh. “Kenapa saya harus tidur di situ? Bukannya kamu yang tidak mau kita satu ranjang?”
“Iya, tapi kamu demam. Dari tadi meringis dan mengigil, mungkin kedinginan karena tidur di atas ubin.” Mei turun lagi, kali ini langsung meraih guling yang sempat berada di tangan Nando. “Cepat! Saya ngantuk.”
Tanpa banyak protes. Nando ikut berjalan ke arah kasur. Keduanya mulai merebahkan tubuh, memilih untuk berlawanan arah hadap. Baik Mei maupun Nando, kini tak bisa tidur. Masing-masing berperang dengan pikiran di kepala.
Mei masih penasaran soal Cantika, sekaligus khawatir dengan kondisi Nando. Sebaliknya, Nando canggung berada satu tempat dengan Mei. Meski mereka sudah sah, tetap saja dia tidak nyaman. Terlebih mengingat bagaimana gilanya seorang Mei siang tadi. Nando takut diperkosa.
“Bang.”
“Apa?”
“Cantika Siapa?”
“Hah? Siapa?”
“Ya mana saya tahu, makanya saya tanya!”
Sepanjang pengantin baru terlibat obrolan dengan posisi saling membelakangi. Mei menggigit bibir, dia merutuk dalam hati. Mengapa mulutnya bisa dengan santai bertanya tentang perempuan bernama Cantika. Sedangkan di sebelah sana, Nando kelihatan bingung dengan pertanyaan Mei yang tiba-tiba.
“Lupakan saja,” ujar Mei. “Mending lanjut tidur, besok pagi saya buatkan air jahe untuk Abang.”
Nando tidak lagi membalas. Dalam gelap, pupil melebar, berusaha menangkap berkas cahaya. Cantika? Sebab pertanyaan tadi, dia jadi teringat satu nama. Nama yang sama dengan yang dilontarkan oleh Mei barusan. Nama yang sampai kini masih mengusik ketenangannya.
Malam pergi dengan cepat, berganti peran dengan pagi. Hangat mentari pagi mengusik ketenangan dua insan. Dua pasang mata perlahan tapi pasti terbuka. Retina mulai bekerja. Pelan-pelan, bayangan mulai tertangkap nyata.
“Hah!”
Keduanya saling berteriak. Tubuh seketika mundur, melepas tautan erat yang tadinya saling melilit tubuh mereka masing-masing.
“Abang!”
“Kamu!”
Mei dan Nando saling tunjuk. Namun, sepersekian detik mata Mei langsung tertutup rapat. “Abang ngapain b***l? Terus kenapa peluk-peluk saya?!” pekik Mei.
“Sa-saya...,”
“Dasar c***l!”