Mulai Berdebat

1254 Words
Mei menyorot satu per satu gerombolan ibu-ibu kampung. Bola mata seakan melompat dari rongga. Panas sekali telinga mendengar diskusi serius mereka. “Hati-hati, sering gibahin orang, matinya sulit terus diaduk dalam tungku neraka,” ujar Mei asal. “Heh Mei, ucapan itu dijaga, kayak nggak sekolah aja tuh mulut.” Bu Zainab berdiri, berkacak pinggang sambil mengerahkan jari telunjuk. “Kamu nyumpahin kami semua?!” d**a Bu Zainab naik turun, mirip orang selesai maraton. “Saya nggak nyumpahin loh, Bu Zainab. Kok ibu merasa demikian,” jawab Mei santai. Niat hati ingin membeli minuman dingin di warung. Mei justru dibikin tambah panas dengar obrolan tetangga. Ringan sekali mulut mereka. “Saya tuh nggak habis fikri. Kemarin-kemarin diomongin karena belum nikah-nikah. Giliran udah nikah, malah dituduh yang bukan-bukan.” “Siapa yang nuduh, orang kita cuma menerka-nerka,” sangkal Bu Titin. “Ya kalo kamu tidak merasa, harusnya santai aja dong.” “Halah, tahun lalu Bu Titin juga ngereog kayak orang gila, waktu anaknya dibilang hamil duluan.” Mei menampilkan wajah tengil. “Padahal fakta, lah gimana dengan saya? Yang fakta aja bisa marah, apalagi yang hoax.” “Jaga ya congor mu itu!” Giliran Bu Titin yang angkat p****t. Lengan baju disingsing, siap adu mekanik dengan Mei. “Anak saya tidak hamil duluan!” “Tidak hamil duluan, tapi nikah bulan Februari, melahirkan bulan Juli.” Mei bersedekap d**a, kelihatan menantang Bu Titin untuk adu jotos. “Manusia mana yang mengandung cuma 4 bulanan. Itu manusia apa kucing.” “Hei, kurang ajar kamu ya! Sini kamu, lawan saya! Biar saya bejek-bejek itu mulutmu!” Bu Titin berteriak kesetanan. Urat lehernya timbul sebesar tali tambang. Mei sendiri memilih menyudahi. Tak ada guna meladeni orang-orang seperti mereka lebih lama. Hanya menghabiskan energi saja. Melangkah anggun sambil mengibaskan rambut panjang bergelombang. “Dasar tetangga nyebelin, suka sekali mengurus masalah orang lain,” dumel Mei. “Kamu kenapa, Mei?” Rosmah heran melihat anaknya pulang sambil menggerutu. “Tuh, ibu-ibu, mulutnya kayak septic tank, busuk!” “Astaghfirullah..., kalo bicara itu yang bagus dong, Mei!” “Ya Ibu bayangkan aja. Masak aku dibilang hamil duluan.” Mei menghembus napas berat. “Dikira aku kayak anaknya Bu Titin apa, hamidun,” cibirnya. “Hush...., jangan bicara sembarang!” Rosmah meletakkan jari telunjuk di bibir. “Fakta Bu. Bu Titin aja nggak terima, apalagi aku. Tanpa bukti, sukanya berspekulasi.” “Sudah, nggak usah ditanggapi.” “Ibu lihat tuh. Katanya kalo aku nikah, Mereka bakalan berhenti bergosip. Nyatanya nggak tuh, justru tambah parah.” Mei tampaknya masih kesal, mukanya merah padam. “Kalo kebiasaan suka gosip, mau gimanapun juga bakal begitu.” Suara Mei menggema. Nando di kamar pun ikut mendengar. Jengkel juga mengetahui ada yang bergosip seperti itu. “Mending kamu masuk, suami kok ditinggal-tinggal. Digondol kucing baru tahu rasa.” “Dikira Kembung peda,” cicit Mei. “Kembung Peda? Maksudnya apa?” Nando bermonolog. Pintu kamar bergeser, menciptakan suara gesekan lantai dengan kayu. Visual pertama yang tertangkap oleh retina Nando adalah Mei, istrinya. Wajah wanita itu tidak baik-baik saja, merah padam dengan bibir seperti bebek. Nando melipat bibir, sekuat tenaga menahan tawa. Entah kenapa, Mei lucu juga jika dilihat-lihat. “Aku ini memang cantik, tetapi nggak gitu juga ngeliatinnya,” celetuk Mei. “Eh....!” Nando segera sadar, gegas menggeleng cepat. Bisa-bisanya dia berpikir bahwa Mei lucu. “Nih.” Mei menyodok kantong plastik bening berisi minuman dingin. Nando memerhatikan benda di tangan Mei. “Saya tidak minum minuman kemasan,” ujarnya. “Dih, mentang-mentang orang kaya,” cibir Mei. Matanya menatap sinis. “Itu tidak sehat, mengandung pemanis buatan yang banyak.” Meski suara Nando terdengar santai. Entah kenapa jantung Mei merespons lebih. d**a terasa hangat, kalimat yang baru saja terdengar lebih mirip seperti bentuk perhatian. “Kamu kenapa?” Giliran Nando yang heran melihat Mei melamun. “Mikir jorok lagi?” “Eh..., mana ada!” sangkal Mei. Enak aja dia dibilang lagi mikir jorok. Memangnya dia perempuan apaan. “Ya sudah kalo nggak mau.” Mei membawa minuman tersebut menuju meja rias. “Ngomong-ngomong, kenapa mau menerima pernikahan ini?” Alis kanan Nando terangkat. Menerka arah pembicaraan kali ini. “Saya butuh uang tambahan,” jawabnya. “Uang tambahan?” Mata Mei melebar. “Jadi Ibu bayar Abang untuk nikah sama saya?” Mei mulai heboh. “Eh, bukan!” sanggah Nando. Jika tidak dicegah, Mei bakalan menjadi-jadi. “Bukan seperti itu maksud saya.” “Terus?” “Tujuan saya datang ke sini buat ambil harta warisan dari mendiang Kakek,” jawab Nando. “Sayang, belakang saya baru tahu kalo warisan itu baru bisa diambil jika saya sudah menikah.” “Tidak masuk akal.” Nando mengamini. “Betul, saya juga tidak habis pikir.” Pria itu menatap lurus, tepat ke arah pintu. “Yang lebih parah, Paman Toni keluar rumah, saya kira mau ke mana, ternyata bicara yang tidak-tidak dengan Ibumu.” “Terus kenapa setuju? Kan bisa ditolak.” “Kan saya bilang terpaksa, saya butuh uang, bisnis saya nyaris bangkrut. Satu-satunya yang bisa digunakan ya uang warisan itu.” Mei masih belum puas. Bola mata bergerak liar, seolah tengah memikirkan sesuatu. “Masak tidak ada dana darurat.” “Ludes, tidak bersisa,” balas Nando. “Saya hampir jadi gembel.” “Kalau begitu, mending bisnis tersebut dilepas saja,” kata Mei dengan enteng. Sesekali bibirnya menyentuh sedotan. “Tidak bisa, itu bisnis pertama yang saya bangun dengan usaha sendiri. Sayang jika dilepas begitu saja.” “Berarti kamu sekarang miskin dong? Pak Toni bohong ke Ibu.” Nando mendengus. “Memangnya kenapa jika miskin? Kamu merasa rugi?” bertanya dengan nada sinis. “Rugi sih tidak, cuma...,” “Cuma apa? Ekspektasimu runtuh? Gagal jadi istri orang kaya?” “Heh! Mulutnya dijaga ya. Aku bukan perempuan matre,” kata Mei tidak terima. Nando tidak lagi menanggapi. Dalam benaknya, berpikir jika Mei mau menikah karena harta. Pikir saja, wanita mana yang mau secara sukarela menikah dengan orang tidak dikenal. Apalagi motivasinya kalau bukan materi? “Kamu tenang saja, saya tidak tertarik dengan tubuhmu.” “Saya juga tidak mau keperawanan ini diambil sama kamu,” balas Mei. Sekali lagi, sebelah alis Nando terangkat. “Memangnya masih perawan?” ada nada mengejek di sana. Mei langsung terbakar. Kali ini lebih panas dibanding tadi, saat mendengar gosip dari ibu-ibu. Wanita itu berdiri, melangkah pasti, sambil mengangkat tinju. “Jangan sembarangan kalo ngomong. Mau bukti? Ayo!” Sudut bibir Nando terangkat. “Perawan mana yang berani menantang seorang pria?” Mei terdiam. Perlahan menurunkan tangan. Gemuruh di d**a sangat terasa. “Saya tidak menyangka, seorang Nando Alamsyah punya pikiran picik.” “Saya tidak merasa demikian, tidak menuduh, hanya bertanya.” “Kamu....” Mei kehilangan kata-kata. Otak berpikir keras untuk membalas tudingan Nando. “Saya juga tidak yakin jika Anda masih perjaka.” “Saya juga tidak peduli kamu mau berpikir seperti apa. Jika saya memang sudah tidak perjaka, memangnya kenapa?” Nando masih duduk di atas kasur. Menjawab setiap kata dari bibir Mei dengan santai. Mei semakin panas. Entah kenapa dia merasa jika Nando benar sudah tidak perjaka. Pemikiran tersebut buat hatinya berdenyut, nyeri. Mei tidak mengerti, mengapa tubuhnya berlebihan seperti sekarang. Pada akhirnya, dia memilih keluar. Mencoba menenangkan diri. Mei benci dengan pikiran dan perasaan kali ini. Di sisi lain, Nando juga sama, selepas mengutarakan kalimat terakhir. Perasaan menjadi tidak enak. Apa yang akan dipikirkan Mei terhadap dirinya. Apa dia akan terlihat buruk? Tapi, dalam benaknya, mengapa sesibuk itu untuk memikirkan tanggapan wanita tersebut.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD