“Kamu apakan Nando?! Kok dia bisa kelihatan gelisah seperti itu?!” Rosmah menusuk putri sulungnya lewat tatapan.
“Nggak diapa-apain kok, Bu. Mei juga nggak ngerti kenapa dia sampe segitunya, padahal tadi dia loh yang maksa buat mblaem mbalem sama Mei.” Tanpa rasa malu, Mei berbicara di depan semua anggota keluarga yang lagi kebingungan.
“Mei sudah bilang tadi, kalo mau entar malam aja, eh dianya gragas. Pas Mei mau nurutin keinginan dia, dianya malah kek gitu,” lanjutnya.
“Bohong!” Nando segera menyanggah. Apa-apaan! Semua yang terlontar dari mulut Mei omong kosong. “Saya tidak begitu,” kata Nando sedikit gelisah. Bukan karena merasa terciduk, tetapi karena tatapan orang saat ini mulai agak aneh. “Saya bersumpah, itu tidak benar!”
“Sudahlah, Bang. Mei bilang juga apa, nanti malam saja. Kalo sekarang masih ramai keluarga dan tetangga,” kata Mei.
Sungguh Nando ingin sekali menguncir mulut Mei. Dalam benaknya, entah dosa apa yang pernah dilakukan hingga harus bertemu bahkan mengingat janji suci dengan wanita seperti ini. Belum ada 24 jam, tapi Nando merasa tekanan darah mulai naik.
“Sudah-sudah, sebaiknya kalian kembali masuk ke dalam.” Nasrudin ikut bersuara, meminta anak mantunya kembali ke kamar.
“Saya ingin cari angin di luar,” kata Nando. Daripada kembali masuk ke kamar dan menghadapi tingkah gila Mei, dia lebih memilih untuk keluar rumah.
“Tapi di luar masih terik, kalo mau keliling kampung, mending nanti sore saja, Nak,” ujar Rosmah. Mendengar ibunya yang kini bersuara dengan lembut kepada Nando, seketika bibir Mei maju beberapa milimeter.
Giliran dengan dia, Ibunya seperti ingin menerkam. Giliran dengan Nando, seperti Ibu Peri, pikir Mei.
Nando sesekali melirik Mei. Bulu kuduknya meremang. Bukan karena takut, tapi lebih ke jijik melihat ekspresi yang ditampilkan oleh wanita berstatus istrinya. Mata melotot lebar, bibir mengerucut seperti bebek, belum lagi dua lubang hidung yang bertambah besar.
Mei sama sekali tidak masuk dalam daftar wanita idaman bagi Nando. Bahkan mungkin bagi semua pria di dunia ini, benak pria itu. Bagaimana bisa ada wanita yang santai saja memamerkan ekspresi wajah seburuk itu.
“Tidak masalah, saya sudah terbiasa dengan cuaca terik seperti ini,” jawab Nando.
“Tapi kamu nanti bisa demam. Ibu khawatir kamu sakit, mending nanti sore saja,” balas Rosmah.
“Hah!” Sekali lagi, Mei tidak habis pikir, sejak kapan ibunya bisa bertutur selembut ini?
“Kamu kenapa?!” Mata Rosmah menyorot tajam. “Kok reaksinya seperti itu,” katanya sinis.
Nah, lihatlah pemirsa. Baru saja Mei terheran-heran, sekarang ibunya balik menjadi sumala lagi. Apakah ibunya pengidap bipolar disorder? Entahlah.
“Ayo, Bang, kita balik ke kamar lagi.”
Nando masih enggan, dia benar-benar khawatir Mei kembali berbuat gila. Bukan Nando takut, tidak sama sekali. Kalo dia ingin, dirinya bisa membuat wanita seperti Mei menangis sepanjang malam. Hanya saja, sedikit pun tidak ada nafsu yang muncul, malahan rasa geli dan jijik.
Sebaliknya, Mei akan terus berusaha membuat Nando tidak betah dengannya. Kalo bisa, tidak lebih dari seminggu dia sudah menjadi janda. Tidak masalah, jika dirinya harus dipandang sebagai aib lagi oleh keluarga. Bagi Mei, janjinya kepada sang Ibu sudah lunas. Dia sudah menikah.
“Hah...!” Napas berat lolos dari bibir Nando yang tebal dan seksi. “Ya sudah, ayo!” Sadar atau tidak, Nando lekas menarik pergelangan tangan Mei.
Setelah mereka masuk kembali ke kamar, Nando langsung menghempas lengan Mei. “Mau kamu apa?” Dengan nada datar, Nando memandang serius wajah di hadapannya. “Saya tidak takut dengan kamu, kalo saya mau, saya bisa buat kamu hamil bulan depan. Jadi, selagi saya tidak berminat, sudahi tingkah konyolmu itu!”
Mei terpaku, nyali yang berkobar sebelumnya langsung runtuh seketika. Dia tak menyangka ini akan terjadi, Nando balik mengancam dirinya. Namun, kenapa dia bisa gentar? Padahal sudah banyak rencana tersusun di kepala.
Mei memandang bahu lebar yang kini tengah berbaring di kasurnya. Nando susah ditebak, bodohnya Mei tidak berpikir panjang. Kata-kata yang baru saja terlontar, terdengar mengandung keseriusan, bukan sebatas gertakan belaka.
“Kok jadi merinding,” gumam Mei, sembari mengelus lembut leher bagian belakang. “Apa katanya barusan? Hamil? Hiiihh....”
Meski pelan, nyatanya gendang telinga Nando masih bisa menangkap sinyal suara milik Mei. Lelaki itu tersenyum smirk, melawan seorang Mei bukan perkara sulit. Sebelumnya, puluhan wanita sudah dia hadapi.
“Dasar gadis kampung,” kata Nando pelan.
“Apa?” Mei merasa Nando tengah berbicara.
Namun, tidak ada sahutan dari arah kasur. Mei yang masih gelisah, memilih untuk mengabaikan dan siap-siap untuk mandi.
Di ruang yang berbeda. Nasrudin menatap istrinya penuh heran.
“Bapak kenapa liat ibu seperti itu?”
“Tidak, hanya saja...,”
“Hanya apa?” Rosmah menggeser kepala ke samping, tepatnya di arah suaminya berada. “Ayo katakan!”
“Tidak ada apa-apa,” balas Nasrudin. Kembali sibuk dengan secangkir kopi hitam di tangan.
Bukan Rosmah namanya, jika belum mendapat apa yang dimau. “Cepat bilang! Kalo nggak, malam ini tanpa kue apem!”
Hampir saja kopi di mulut tersembur, secepat kilat Nasrudin menatap istrinya. “Ibu kok sukanya ngancem, sih,” keluhnya.
“Ya makanya bilang cepat!”
“Iya-iya....” Nasrudin memilih mengalah, daripada tidak ada apem malam ini. Dia sudah merencanakan sejak kemarin, malam ini harus main sama apem kesukaan. “Bapak cuma heran, Ibu kok beda sekali jika berbicara dengan mantu baru kita?”
“Kenapa mesem-mesem begitu?” Nasrudin bertanya curiga. Bukannya mendapat jawaban, sang istri justru senyum-senyum sendiri.
“Ibu itu senang pake banget , Pak.” Rosmah meraih tangan kanan suaminya, digenggam erat. “Akhirnya Mei menikah sebelum Mela. Ibu takut sekali dia dilangkahi lagi, malu banget rasanya,” resah Rosmah.
“Sekalinya dapat, orangnya Nando.” Senyum Rosmah lagi-lagi terbit saat mengucap nama mantu baru. “Udah ganteng, kaya, tampangnya juga macam anak baik-baik.”
“Ibu benar,” kata Nasrudin mengamini.
“Ibu nggak mau Nando tidak nyaman tinggal di sini. Makanya dia harus kita perlakukan dengan baik,” lanjut Rosmah. “Yakin seratus persen, Mei pasti usil dengan Nando.”
“Bapak pun mikir gitu, mustahil anak sulung kita itu terima begitu saja pernikahan ini.”
“Betul.” Rosmah mengangguk setuju. “Kita harus jaga mantu potensi kita!”
Di luar rumah, beberapa tetangga sibuk berbicara tentang keluarga Nasrudin.
“Ibu-ibu percaya? Kalo saya sih enggak.” Seorang wanita usia 50 tahunan mencibir, bibir bawahnya maju sekian milimeter.
“Katanya sih tanpa ada niatan, masak iya zaman sekarang ada orang nikah tanpa kenal dulu.” Ibu lain ikut menambahkan.
“Makanya, saya sih yakin kalo Mei itu hamidun, alias hamil duluan.”
“Tapi masak sih,” kata yang lain sanksi. “Mei kan jarang bepergian sejak balik lagi ke sini.”
“Eh, Bu Tati. Jangan salah, bisa jadi mereka ketemu di kota kabupaten. Mei kan sering ke sana, alasannya belanja bulanan.”
“Iya juga sih,” ujar Bu Tati, agak ragu dengan dugaan sebelumnya.
“Bahaya banget tuh, Meimanah. Udah suka memengaruhi gadis-gadis kampung sini untuk tidak menikah. Eh, sekarang malah hamil duluan.”
“Bener itu Bu Zainab, itulah akibatnya kalau sekolah jauh-jauh. Mana kita tahu kalo dia terjebak pergaulan bebas selama merantau.”
“Yang Bu Titin bilang betul sekali. Saya sering liat di tipi-tipi kalo banyak mahasiswa yang kerja sampingan jadi simpanan om-om tua. Iihh..., amit-amit,” tutur Bu Zainab.
“Cie..., ibu-ibu mau join grup istrinya Abu Lahan ya?”