“Sah...!”
Suara tamu yang memenuhi ruangan menggema serentak. Mengucap satu kata yang tidak pernah terbayang oleh Mei sebelumnya. Nando pun sama, kata yang baru saja digaungkan layaknya bom di telinga.
Kini, baik Mei dan Nando sudah sah menjadi sepasang suami istri secara agama. Ya, baru dimata Tuhan, tapi belum legal secara hukum. Hal penting seperti ini mana bisa diurus secepat kilat.
Jika ada yang bertanya kenapa mereka bisa menikah. Jawabannya ada pada Rosmah dan Toni. Dua hari sebelumnya, Toni yang datang ke rumah Mei dan mengutarakan maksud gilanya itu tentu disambut baik oleh ibunya. Awalnya jelas Mei menolak keras, tapi sore harinya Rosmah langsung drop hingga harus dilarikan ke rumah sakit terdekat.
Entah drama atau sungguhan, yang jelas Mei kasihan melihat ibunya. Meski umur masih 56 tahun, tapi Rosmah sudah kelihatan tua. Mungkin karena sering berjemur di ladang. Selama di rumah sakit, ibunya terus menangis dan memohon kepada Mei untuk menikah dengan Nando. Dalihnya tetap sama, konsisten karena malu dengan masyarakat kampung dan takut Mei terkena kutukan dan menjadi perawan tua seumur hidup.
“Ibu nggak butuh duit kamu, ibu nggak butuh kamu belikan emas, ibu nggak butuh kamu belikan kursi atau lemari baru. Ibu cuma mau kamu nikah!” Begitulah ucap Rosmah kepada Mei, saat berada di rumah sakit.
Puncaknya ketika Rosmah sempat kejang-kejang. Mei yakin jika saat itu juga ibunya tidak lagi bercanda. Meski suka berdebat, Mei tentunya menyayangi wanita yang telah melahirkan dirinya. Ketika itu pula Mei memohon kepada ibunya untuk sadar dan menuruti kemauan wanita paruh baya tersebut.
Nando sendiri bagaimana? Meski sempat marah sama pamannya yang mengada-ada pasal dirinya yang sedang mencari jodoh. Akhirnya mau tak mau menerima opsi menikah. Usaha frozen food itu tidak bisa dia lepas begitu saja. Lagi pula dia yakin tidak akan jatuh cinta pada Mei. Pertama bertemu malam kemarin saja dia sudah menilai bahwa Mei bukan tipenya. Dari ujung rambut hingga ujung kaki tidak ada satu pun hal menarik yang bisa dilihat dari wanita bernama Meimanah.
“Kalian sudah sah, silahkan kamu lafazkan doa yang tadi saya ajarkan tepat di ubun-ubun istrimu!”
Meski agak ragu, Nando menuruti perintah ustaz yang menikahkan mereka. Disusul Mei yang diminta untuk mencium tangan Nando yang berstatus sebagai suaminya. Baik Nando maupun Mei sama-sama merasakan sesuatu yang aneh. Gugup, berdebar, dan jantung berpacu cepat. Bahkan telapak tangan Nando sampai berkeringat.
“Santai aja, Nan. Malam masih lama, jangan keringatan dulu,” kelakar Toni usai prosesi doa berlangsung.
Semua orang tertawa, terlebih bapak-bapak desa yang menjadi tamu. Sedangkan Nando mendelik tajam ke arah sang paman. Apa maksudnya malam masih lama? Pikir Nando.
Tidak ada resepsi mewah, sengaja karena resepsi besar-besaran akan dilangsungkan ketika mereka sudah menikah secara hukum negara. Mungkin bulan depan, setelah semua berkas beres.
Hanya ada dekorasi sederhana dan beberapa tenda di halaman rumah. Sound sistem milik tetangga sebelah rumah digunakan keluarga Pak Nasrudin sebagai penghibur para tamu undangan.
Hari ini mereka mengenakan baju pengantin adat Melayu berwarna putih. Nando terlihat tampan dan gagah dengan songkok hitam di kepala dan kain songket berwarna emas melilit pinggang.
Mei juga terlihat cantik, gaun putih menjuntai hingga pinggang dilengkapi kain songket warna emas sebagai bawahan. Rambut hitam mengkilap, disanggul rapi serta mahkota di kepala, disertai kain penutup kepala menjuntai di belakang. Kesan anggun bak putri kerajaan menguar, menarik perhatian seisi ruangan.
Semua orang pangling, terutama para gadis di desa yang terpikat oleh sosok Nando. d**a bidang, wajah putih bersih, alis tebal, bibir merah tebal, serta bulu mata panjang. Belum lagi tingginya yang jarang dimiliki pemuda desa setempat, 190 cm.
Para pemuda desa juga takjub dengan penampilan pengantin wanita. Mei yang jarang menggunakan make-up dan gaun tampak seperti orang yang beda. Meski riasan di wajah natural, Mei tetap berhasil menjadi ratu di hari ini.
Ada yang senang dan tulus berdoa untuk keduanya, ada juga yang datang dengan amarah di d**a. Salah satunya Benu, pria yang sudah menanda Mei untuk dijadikan istri ketiganya datang membawa dengki. Satu per satu rencana licik mulai dia susun seperti lego di kepala.
Acara yang berlangsung setengah hari itu usai. Kini keduanya sudah berada di kamar milik Mei. Canggung? Jelas iya. Mei duduk di meja rias, sibuk membersihkan wajah. Nando sendiri berkelut dengan pikirannya sendiri.
“Kenapa diam aja, Bang? Malam masih lama loh,” ujar Mei dengan lidah memelet.
Nando mendelik. “Jangan ngaco, kamu. Saya tidak tertarik untuk melakukan hal yang aneh-aneh!”
Mei cekikikan, dia memang sengaja usil agar Nando merasa tak nyaman. Sejak awal, wanita itu tahu jika pria yang sekarang menjadi suaminya ini tak tertarik padanya. Mei jelas memanfaatkan kesempatan tersebut, dia akan berbuat jahil hingga Nando menyerah dan menceraikan dirinya.
“Atau mau sekarang? Tapi cuaca masih panas, beberapa keluarga juga masih ada. Takutnya mereka dengar suara ikeh-ikeh kimochi kita.” Mata Mei jelalatan, jelas sekali jika pandangan itu mengarah ke tubuh Nando.
“Hei...! Tutup mulut kotormu itu dan berhenti berbicara yang tidak-tidak!”
Bukannya takut, Mei semakin dibuat semangat untuk menjahili Nando. Dia bangkit dari tempat duduk, berjalan ke arah kasur sambil melepas satu per satu kancing bajunya. Nando agak bergetar melihat gerakan Mei yang tiba-tiba.
“Mau apa kamu?!” Matanya tajam, seolah mampu menyayat tubuh wanita di hadapannya.
Mei tak hirau, langkahnya semakin bertambah, mengikis jarak antar keduanya. Tiga kancing teratas sudah terbuka, memperlihatkan area d**a yang mulus tanpa cela. Nando sulit menelan ludah, seperti tersangkut di tengah esofagus.
“Stop!” Telapak tangan kanan terbuka ke depan, berusaha menghentikan aksi gila Mei. “Jangan sampai aku berbuat kasar,” gertaknya.
“Ah... Adek suka dikasarin, Bang.” Bukannya berhenti, Mei justru makin menjadi-jadi. Kancing bajunya sudah terbuka semua. Perlahan mulai menurunkan lengan baju.
Mata Nando sudah terpejam dari beberapa menit lalu, meski sesekali membuka sedikit. Tingkahnya membuat Mei geli sendiri. Wajah dan badan Nando tak sesuai dengan responsnya kali ini.
Mei sendiri sulit menemukan alasan. Mengapa dia bisa melakukan hal konyol seperti sekarang. Padahal dirinya punya pengalaman buruk dengan seseorang di sebuah kamar, sekitar 15 tahun silam. Namun, jauh di lubuk hati terdalam, Mei memiliki keyakinan jika Nando bukan seperti pria b******n yang dia temui di masa lalu. Makanya dia tidak takut untuk bermain-main dengan Nando.
“Saya tidak main-main. Jangan sampai kamu menyesal telah melakukan hal konyol seperti ini!”
“Mari kita berbuat konyol,” tantang Mei dengan berani.
Mei semakin berani, dia sudah berniat untuk membuka tank top crop yang melekat di tubuhnya. Tepat ketika benda itu terlepas di tubuhnya, sang suami langsung berguling ke arah seberang kasur dan berlari menuju pintu secara brutal.
“Tolong...!”
“Ada apa Nando?!”
Suara panik orang-orang di luar bercampur dengan dentuman keras daun pintu. Sedangkan di dalam kamar, tawa Mei pecah, tak bisa dibendung lagi. “Padahal masih ada bra, makanya punya mata dipakai,” monolognya.