HRD

1234 Words

Mbak Nina memintaku datang ke lantai lima. Dia tidak mengatakan apa-apa lagi setelahnya. Meskipun aku terpaku cukup lama di ruangannya sambil memikirkan, kemungkinan aku telah membuat kesalahan apa lagi, dia justru melanjutkan pekerjaannya. Seolah dia ingin aku segera pergi. Ada apa dengannya? Entah perasaanku saja atau memang demikian adanya, sikap Mbak Nina agak dingin sekarang. Dia seperti enggan melihatku yang mau tidak mau memang harus dia lihat. Begitu sampai di lantai lima, aku menarik napas dalam sebelum keluar dari pintu lift. Aku harus berjalan lurus ke ruang HRD tanpa perlu menyapa siapa pun. Lagipula tidak ada orang yang kukenal di ruangan ini. Lantai lima terdiri dari dua divisi. HRD serta manajemen. Awalnya aku mengira dua divisi itu memiliki tugas yang sama, ternyata ber

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD