“Gimana kalau Minggu?” Akhirnya aku memberi solusi, karena sejak tadi di antara kami berempat tidak punya kesamaan pendapat. “Itu kalau kalian nggak keberatan, sih, Mbak. Aku tahu, kalian mau weekend bareng dengan anak dan suami.” Kami bergerak menuju pintu lobi. Pintu lift yang baru saja kami tinggalkan itu mengeluarkan cukup banyak orang yang berjalan tergesa. Selama kantin belum buka, makan di luar cukup merepotkan memang. Seringnya kami akan datang terlambat saat masuk kembali setelah jam istirahat. “Iya, deh, Minggu. Lagipula kita lembur terus. Masak mau mampir jam delapan malam? Mau sampai rumah jam berapa?” Kak Agni mengiyakan. “Kecuali kalian mau aku traktir delivery order saja. Nggak apa-apa, sih, kalau nggak bisa Minggu.” Aku segera menambahkan. Aku tak mau membuat mereka kehi

