Ia berjalan mendekat. Pelan. Bahkan napasnya ditahan. Seolah takut membangunkan keduanya. Ia duduk di lantai, di dekat kaki sofa, lalu akhirnya menyandarkan bahunya pelan di sisi sofa. Hanya lima menit, pikirnya. Lalu kembali ke kamar. Tapi baru saja ia menutup mata, kepala Nadine bergerak pelan. Dan ... duk. Kepalanya bersandar di bahu Sava. Degup jantung Sava langsung melonjak. Matanya terbuka. Ia menoleh sedikit. Tapi Nadine tidak sadar. Ia masih terlelap. Tarikan napasnya tenang, sesekali mendesah pelan sambil mengusap punggung Demas dalam tidurnya. Sava diam. Dan membiarkan semuanya tetap begitu. Ada hangat yang mengalir perlahan ke tubuhnya. Hangat yang tidak berasal dari sentuhan fisik saja. Tapi dari rasa. Rasa yang selama ini ia pendam dalam-dalam. Apa ini salah? pikirnya

