Erinna menatap ke setiap sudut ruang rawatnya. Terasa sepi nan sunyi. Tak ada siapapun. Ia melirik ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul 18.10 WIB. Mungkin Mami dan kakak sepupunya tengah sholat maghrib di masjid rumah sakit. Terpaksa, ia menahan rasa dahaganya. Tangannya tak sampai meraih gelas di atas nakas sebelah brankar. Ia sudah mencoba bangkit, tetapi rasa sakit di bagian belakang kepalanya semakin terasa. "Akkhhh...." rintihnya memejamkan mata dan menggigit bibir bawahnya. Ia tak menyangka, pukulan itu sangat melukai kepalanya. Ia harap, lukanya dapat sembuh dalam waktu singkat. Seseorang membuka pintu saat mendengar rintihan dari dalam. Reyhan, pemuda itu berlari mendekati Erinna yang terus merintih kesakitan. Tepat saat ia mengulurkan tangan hendak menyentuhnya, Erinna l

