A SLICE OF HISTORY

1746 Words
Chapter Nine A SLICE OF HISTORY   Angin meniup cukup kencang menerpa wajah Rhaga, lautan terhampar sangat luas di hadapannya. Dia sendiri sedang berdiri di ujung kapal besar milik orang asing yang datang menyerbu tempat tinggal sukunya. Tangannya menyentuh amulet di lehernya, dia hampir tak percaya jika akhirnya memilih untuk mempercayai ucapan ayahnya dan memulai perjalanannya.   Rencana Rhaga untuk berlayar hanya dengan dua sahabatnya dan teman kecilnya, Sorra, tak mendapat dukungan dari Rondakh. Menjelang keberangkatannya, Rondakh meminta beberapa pemuda suku yang telah belajar bersamanya untuk ikut dengan Rhaga. Alasanya, karena Rhaga sama sekali buta dengan peta laut dan tak mengerti sama sekali tentang berlayar. Sementara pemuda suku lainnya jelas lebih rajin dan tahu betul bagaimana caranya membaca peta dan mengendalikan kapal.   “Aku hanya ingin membalas hutangku, walau itu tidak akan pernah bisa aku lunasi.” Begitu kata Rondakh sebelum keberangkatan Rhaga.   Misteri masih menyelimuti pikiran Rhaga terhadap permintaan terakhir ayahnya. Dia harus menemui seseorang bernama Gard Meridiam dan ternyata orang itu adalah ayah dari sahabatnya sendiri, Aranhe. Apakah ayahnya meminta Rhaga untuk mempertemukan ayah dan anak yang sudah terpisah atau ada hal lain, apalagi ayahnya memberikan satu-satunya kalung yang selalu dia pakai.   “Sebenarnya apa hubungan ayahmu dan ayahku, Aranhe?’ Rhaga bertanya pada Aranhe yang berdiri di sampingnya menikmati udara laut.   “Aku juga sangat ingin tahu,” balas Aranhe sambil menghela nafas.   Aranhe pun tak mengerti, dia bahkan tak mengingat kapan terakhir kalinya bertemu dengan sang Ayah. Jelasnya, ayah Rhaga pernah mengatakan jika ayahnya bernama Gard Meridiam dan dia harus menitipkan Aranhe karena hal yang tak pernah diberitahukan Sotaka pada Aranhe.   “Di mana aku bisa menemukan ayahmu dan menemukan orang yang menginginkan nyawaku?” tanya Rhaga dengan suara berbisik pelan. Aranhe menghela nafasnya, dia tahu perjalanan ini hanya akan memakan waktu yang cukup lama. Terlebih lagi mereka sedang menuju ke sebuah tempat yang sama sekali asing untuk mereka.   “Ceritakan padaku!” pinta Rhaga pada Aranhe.   “Kau sudah memintanya bercerita lebih dari dua puluh kali!” seru Risaya sembari membagikan sepotong roti untuk Rhaga dan Aranhe. “Sorra, Sorra!!” Risaya memanggil Sorra si singa kecil yang sedang menikmati duduk di atas bahu Rhaga.   “Ceritakan saja, aku ingin mendengarnya!”   Ketiganya kemudian duduk berdampingan, Risaya memberikan makan Sorra dengan daging yang dia bawa, sementara itu Aranhe mulai menceritakan lagi pengetahuannya mengenai Daratan Lima Negara yang tak bosan di dengar oleh Rhaga.   “itu adalah sebuah daratan yang terbagi menjadi lima negara besar, mereka menguasai daratan itu beratus-ratus tahun yang lalu, setiap negara memiliki keunikannya masing-masing. Arkteir adalah satu dari dua negara yang memiliki batas langsung dengan laut, mereka adalah pelaut yang hebat, tidak ada bajak laut yang berani mendekat pada kapal mereka saat berlayar, pemimpin mereka adalah seorang ratu, dan banyak dari mereka memang menggantungkan hidupnya di lautan. Tetangga dekat mereka adalah Thymur, dipimpin oleh seorang Kaisar, ilmu bela diri mereka sangat baik, terlebih lagi seni berpedang mereka, kau tidak akan pernah menemukan ilmu bela diri yang lebih baik dari mereka, dan katanya mantan kaisar wanita Luxorth adalah murid dari Kaisar Thymur.”   Nafas Rhaga tertahan, aneh saja rasanya setiap kali dia mendengar cerita mengenai negara-negara yang asing baginya itu dan cerita tersebut sampai pada kisah Kaisar Wanita dari Luxorth yang tampaknya menjadi legenda itu ada getaran aneh dalam diri Rhaga. Seolah-olah dirinya memiliki sebuah ikatan, sesuatu yang tak pernah bisa dijelaskan oleh akal sehat Rhaga.   Aranhe meneruskan ceritanya, menceritakan keunggulan masing-masing dari setiap negara. Paling menarik bagi Rhaga adalah saat Aranhe menceritakan bagaimana megahnya istana Luxorth yang hampir semua bagian istananya terdiri atas kristal, tak hanya itu kisah mengenai penyihir terbaik sepanjang yang saat ini masih menjadi seorang Raja di Sholaire pun menarik minat Rhaga walau pun dia sudah mendengar cerita itu berulang kali.   “Sepertinya kau bisa mengasah kemampuanmu saat di Sholaire nanti.” Risaya menimpali.   “Kau juga mendengarkan?” tanya Rhaga.   “Aranhe bercerita dengan sangat keras, tentu saja aku mendengarnya.”   “Akan tetapi, guru mengatakan saat ini hanya ada tiga negara yang masih berdiri sementara dua lainnya di bawah kekuasaan negara yang lain.” Seseorang mendekat, dia seorang pemuda kepercayaan Rondakh yang ditugaskan untuk membantu Rhaga dalam perjalanannya menuju ke Daratan Lima Negara.   “Apa maksudnya itu, Kafga?” Rhaga bangkit dari sandarannya. Kafga, begitu pemuda itu dipanggil pun duduk bergabung dengan tiga serangkai.   “Daratan Lima Negara pernah mengalami krisis yang luar biasa, salah satu negara Narth menuntut jalur sutera dan perluasan perbatasan, Luxorth yang berbatasan langsung dengan Narth tak pernah menyetujui hal itu,  mereka akhirnya berperang, Luxorth mendapatkan dukungan dari Thymur sementara itu Sholaire mendukung Narth, hanya saja pada akhirnya Raja Sholaire terpikat oleh Kaisar Wanita dari Luxorth dan menikahinya. Kemudian mereka bersama-sama menghancurkan Narth,” jelas Kafga.   “Tunggu, jadi Luxorth dan Sholaire bersatu?” tanya Aranhe, di sampingnya Rhaga pun menantikan jawaban dari Kafga.   “Tidak, dua kerajaan itu tak bisa menjadi satu, mereka terlalu besar. Kaisar Wanita meninggalkan tahtanya dan dikembalikan pada kakaknya lalu hidup bersama Raja Sholaire.”   “Bagaimana kau bisa ingat semuanya?” tanya Rhaga yang terkagum pada Kafga. “Kau sudah seperti catatan sejarah yang hidup.”   “Itu keahlianku, jika kau ingin tahu lebih banyak aku bisa memberitahumu semuanya. Namun, saat ini kita memiliki masalah.”   “Masalah, memangnya masalah apa yang bisa timbul di sini?” tanya Rhaga dengan polosnya. Dia sama sekali buta dengan lautan.   “Inilah sebabnya ayahmu selalu menyuruhmu tidak pergi saat pelajaran dimulai! Kau bahkan melewatkan hampir semua hal!” timpal Risaya sembari mengusap-usap tubuh Sorra yang bergelung di sebelahnya.   “Akan aku persingkat saja, jika prediksiku benar kita akan melewati lautan yang memilki gelombang besa, kita harus bersiap untuk hal yang terburuk.”   “Apa hal terburuknya?”   “Kapal ini mungkin akan hancur,” jawab Kafga. “Kita hanya harus bersiap untuk kemungkinan itu. aku akan memberitahu yang lainnya.”   “Baiklah, terimakasih Kafga.” Setelah mengatakan apa yang ingin disampaikan, Kafga pun beranjak pergi untuk memberi tahu awak kapal yang lain.   “Bagaimana dia begitu pintar?” gumam Rhaga sembari memandangi punggung Kafga yang menjauh itu.   “Bukan dia yang pintar, tapi kau yang terlalu bodoh,” timpal Risaya, kemudian dia mencari dukungan pada Sorra, “Benar ‘kan Sorra?”   “Tapi Kafga memang yang terpintar di antara kita semua, itu sebabnya Rondakh mengirimnya untuk membantu kita.” Aranhe menyahut.   ***   “Kosongkan semua tangki!!!” Kafga berteriak dengan kencang sekali walau kapal bergoyang-goyang. Mereka telah memasuki daerah lautan yang memiliki gelombang tinggi.   “Apa yang bisa aku lakukan?” Rhaga bertanya, susah payah dia berusaha untuk menyeimbangkan pijakannya. Kafga menilai Rhaga dari ujung kepala hingga ujung kaki. Lalu melihat dua sahabat Rhaga, yang satunya memiliki kekurangan pada kakinya yang satunya lagi wanita. Kafga tak ingin meminta ketiga orang yang dia jadikan prioritas ini untuk melakukan pekerjaan berat, namun sebentar lagi mereka harus menghadapi ganasnya air laut.   “Tutup semua celah! Kalian tutup semua celah yang ada di kapal jangan sampai ada satu pun celah yang tersisa atau kita akan tenggelam.” Kafga berujar sembari menunjukkan celah mana saja yang perlu ditutup.Mendapatkan instruksi dari Kafga, ketiga serangkai itu kemudian berpencar. Berusaha secepat mungkin untuk menutup semua celah kapal.   Ombak besar mulai menerjang membuat kapal ini bergoyang tak terkendali. Semua orang harus menginjakkan kaki pada dek kapal dengan kuat agar tak kehilangan keseimbangan mereka. Tapi itu masih permulaan, ombak lain datang saling sahut menyahut bagaikan nyanyian kematian yang siap menerkam siapapun.   “Apa kau gila? Siapa yang menyuruhmu memutar kemudinya?!” Kafga berteriak pada orang yang memegang kendali kemudia kapal. “Kita tidak boleh menghindari ombak itu!”   “Jika kita tidak menghindarinya, kita tidak akan selamat.” Rhaga baru saja kembali dari dek bawah kapal.   “Kau salah, saat ini yang bisa kita lakukan adalah menerjang ombak itu, dengan begitu kita semua akan selamat.”   “Kafga, lihat itu!” Rhaga menunjuk pada gelombang tinggi dan besar sedang menuju ke arah mereka. Benar-benar terlihat sangat buruk, apalagi dengan langit yang mendung, suasana pun menjadi begitu mencekam. Melihat gelombang pasang yang datang dengan cepat, Kafga pun memerintahkan orang-orang untuk menurunkan layar dan mengendalikan kemudia kapal itu sendiri.   “Rhaga, cari tempat berlindung!”   Rhaga pun berbalik, beranjak pergi dari tempat itu mencari perlindungan. Akan tetapi, ketika dia melihat Aranhe yang berjalan tertatih mencari perlingungan pun dia segera berlari ke arah Aranhe. Kapal mereka menghantam gelombang yang sangat tinggi itu, air menghempaskan apapun yang ada di atas kapal. Rhaga berusaha melindungi Aranhe, namun sapuan air yang mengerikan itu menyeretnya hingga tubuhnya menabrak tiang layar.   “Rhaga!” teriak Aranhe.   Beruntungnya, Rhaga masih mampu bangkit walau dengan susah payah dirinya harus menerima terjangan air yang tampaknya tidak akan berakhir untuk waktu yang lama. Di sisi lain, Kafga dengan seluruh tenaganya berusaha untuk mengendalikan kapal di jalur yang benar.   *   Terik matahari yang menyilaukan itu membangunkan beberapa pasang mata. Rhaga terbatuk-batuk sesaat setelah matanya terbuka, merasakan kehangatan yang melingkupi tubuhnya, tak hanya dari sengatan matahari tapi ia merasa alas tempat tubuhnya berbaring itu pun cukup hangat.   Saat merasakan sesuatu di tangannya, Rhaga pun terduduk, dia melihat hamparan laut yang berkilau dan melihat kapalnya berlabuh tak jauh dari tempatnya. Rhaga mencoba mengingat kembali kejadian yang menimpa mereka saat menerjang gelombang besar yang luar biasa. Beruntung mereka semua masih hidup walau kapal mereka mengalami kerusakan.   “Rhaga!” Seseorang memanggil namanya, dia menoleh dan mendapati Risaya, Aranhe, Sorra, Kafga dan beberapa orang berjalan mendekat ke arahnya. Keadaan mereka pun tak terlihat baik, letih.   Rhaga berusaha untuk bangkit, dia menilai daerah tempat mereka berlabuh ini. sepanjang matanya memandang hanya ada pasir yang membentang cukup jauh di depan dan di belakangnya. Dia tak melihat ada hutan lebat seperti di Bukit Brysn. Hanya ada bebatuan, dan tebing-tebing landai yang tampak sangat gersang.   “Di mana kita?” tanya Rhaga setelah semua orang mendekat pada mereka.   “Bagaimana keadaanmu?” tanya Risaya yang memperhatikan Rhaga dengan seksama.   “Aku baik-baik saja, bagaimana dengan kalian?” Rhaga melihat mereka satu persatu, sangat yakin keadaan mereka pun sama dengannya. pandangannya pun jatuh pada si singa kecil yang mengekor di belakang Risaya.   “Kami baik, akhirnya kita sampai di sini,” kata Aranhe.   Rhaga berjongkok, dia menjulurkan tangannya untuk menggendong Sorra. “Kau selamat Sorra!”   “Lihat, betapa dia sangat menyayangi singa kecilnya daripada dirinya sendiri.” Risaya menimpali.   “Kita ada di mana sekarang?”   “Seperti yang aku katakan sebelumnya, kita telah sampai!” Aranhe mengulangi ucapannya. Dia kemudian membentangkan ke dua tangannya, seolah-olah sedang menyambut tamu kehormatan.   “Selamat datang di Daratan Lima Negara!”      
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD