Chapter Eight
UNSPOKEN WORDS
6 bulan kemudian
Deru ombak menyisir pantai menjadi musik penenang bagi Rhaga yang saat ini sedang duduk di atas sebuah karang sambil mengamati lautan lepas. Laut yang terhampar luas seperti tak berujung itu benar-benar menyita perhatian Rhaga belakangan ini. Dia mengingat kembali percakapannya dengan sang ayah malam sebelum hari pertandingan berburu.
“Tidak ingin melihat dunia luar?” pertanyaan itu masih terpatri dalam pikiran Rhaga, sepanjang pengetahuannya dia hanya hidup di pulau kecil ini, dibesarkan bersama dengan penduduk Suku Brysn lainnya.
“Di luar sana, jauh di luar sana, ada kehidupan yang belum pernah kau ketahui, ada dunia yang lebih indah daripada di bukit Brysn, kau masih tak menginginkannya?” perkataan ayahnya itu tak akan mungkin bisa dilupakan oleh Rhaga, dan kini dia duduk di tepi pantai untuk mengamati lautan.
“Tidak apapun,” gumamnya mencoba menyangkal keberadaan dunia yang lain. Walau dalam hatinya dia pun mulai percaya, bahwa di luar sana seperti yang telah dijelaskan oleh ayahnya ada dunia yang jauh lebih besar daripada suku kecilnya ini. Para penyerang yang berpakaian asing itu adalah buktinya. Kapal besar mereka yang masih berlabuh di pantai pun menjadi bukti jika mereka hidup jauh di seberang lautan.
“Apakah mereka di sana ayah? Apakah orang-orang kejam itu hidup di sana?” Rhaga bergumam sembari memegangi kalungnya dengan erat.
“Rhaga ….” Suara lembut memanggil Rhaga, dia menoleh dan melihat Risaya telah berdiri di sana menatapnya dengan bibir melengkung indah. “Semua orang sudah menunggumu, ayo,” ucapnya sembari mengulurkan tangannya pada Rhaga.
Tak butuh waktu lama bagi Rhaga untuk menyambut tangan Risaya dan turun dari atas bebatuan karang itu. Mereka berdua kemudian berjalan menuju ke pemukiman suku Brysin. Pemukiman para penduduk sudah dibangun kembali, meski tak seperti sebelumnya dan tampak lebih sederhana, setidaknya sekarang mereka sudah memiliki rumah untuk berlindung.
Semua penduduk suku sudah berkumpul, tatapan mereka pun jatuh pada Rhaga yang berjalan di antara mereka. Sementara itu seekor singa bertubuh kecil berlari dan melompat pada Rhaga, dan bertengger di bahunya seperti yang biasa dia lakukan. Rhaga duduk di depan semua orang, pandangannya menyisir seluruh penduduk yang kini menatapnya dengan harapan dan rasa cemas yang bercampur.
Keadaan ini, Rhaga sangat menyadarinya. Para penduduk saat ini sedang cemas karena mereka harus menghadapi pemimpin baru dan berharap pemimpin baru itu bisa menjadi kepala suku yang baik untuk semua orang.
“Terimakasih kalian semua bersedia untuk berkumpul di sini,” ujar Rhaga membuka pertemuan penting itu. Rhaga menjadi ragu untuk melanjutkan kalimatnya, sebenarnya tanpa perlu pertemuan seperti ini secara garis keterununan memang dia yang seharusnya mengemban kursi kepala suku. Rhaga menatap Risaya yang duduk tak jauh di depannya.
Risaya hanya mengangguk samar, seolah memberikan isyarat pada Rhaga bahwa semua akan baik-baik saja. Setelah menghela nafasnya, Rhaga pun kembali mulai bicara.
“Kalian semua pasti menunggu kepastian mengenai siapa yang akan menjadi kepala suku,” ujar Rhaga.
“Ya, benar sekali, seseorang harus menjadi kepala suku!!” sahut seorang pria dari barisan belakang.
“Sebagai putera mendiang kepala suku … aku ….” Rhaga menarik nafas dalam-dalam, “Aku meminta Rondakh untuk menggantikan ayahku dan memimpin suku kita.”
“Apa? Bagaimana mungkin?” Seorang berseru, tampaknya tak setuju dengan usulan Rhaga.
“Mengapa kau memilih seenaknya?!” penolakan lain pun terdengar, keadaan semakin ramai karena banyak yang menolak usulan dari Rhaga.
Rhaga sudah mengantisipasi hal ini saat dia menentukan keputusannya malam sebelumnya bersama dengan dua sahabatnya dan Rondakh. Penduduk suku pasti ingin pemilihan, atau setidaknya menginginkan Rhaga sebagai putera mendiang kepala suku yang menjadi kepala suku yang baru.
“Bagaimana kau akan memenangkan para penduduk?” tanya Rondakh kala itu.
“Mengatakan kebenarannya pada mereka, bahwa para penyerang itu hanya mengejarku dan aku akan pergi untuk menghalangi mereka mengejarku ke tempat ini,” balas Rhaga tanpa keraguan sedikitpun. Sudah jelas tekadnya untuk membalas kematian ayah dan orang-orang sukunya.
“Apa kau sudah benar-benar yakin untuk pergi dari sini?” Risaya bertanya, ingin melihat keseriusan Rhaga.
“Ya, mereka harus mendapatkan balasan.”
Kembali pada saat ini, Rhaga melihat orang –orang mulai tak terkendali, dia menghela nafasnya kemudian kembali bicara, “Tenang semuanya!” perlahan-lahan Rhaga berdiri, semua orang mulai berhenti untuk berbicara. “Kejadian yang telah menimpa kita, sangat membuat kita kehilangan banyak hal, tapi bukan kedamaian dan persatuan suku kita,” ujar Rhaga, “Aku percaya, kalian semua lebih mampu daripada aku dalam menjaga suku kita, walau begitu kita masih membutuhkan seorang pemimpin, Rondakh adalah satu-satunya orang yang bisa memimpin kita, pengetahuan dan pengalamannya tak diragukan lagi karena dia murid mendiang kepala suku yang paling rajin, selain itu ….” Rhaga terhenti sejenak. “Rondakh tidak diburu oleh penyerang asing itu, aku lah yang mereka inginkan, jadi … aku akan menyerahkan Suku Brysn kepada kalian dan aku akan pergi agar para penyerang asing itu tidak akan kembali.”
“Bagaimana kau tahu mereka tidak akan kembali?” tanya seorang wanita paruh baya. “Apa jaminannya?”
“Aku akan pergi ke tempat mereka,” balas Rhaga dengan suara yang tegas.
Risaya berdiri, dia berbalik menghadap ke semua orang. “Lihat apa yang sudah dilakukan oleh Rhaga pada kalian? Dia mempertaruhkan nyawanya untuk melindungi kalian, jadi tidak ada alasannya bagi kalian untuk menolak keputusannya.” Risaya berucap dengan semangat yang membara membela keputusan Rhaga di depan semua orang.
“Baiklah … kami akan menuruti apa keinginan Rhaga, lagipula Rondakh memang yang paling baik diantara kita yang tersisa.”
Suasana menjadi hening, semua orang mengenang kembali hari di mana mereka harus kehilangan orang-orang terkasih mereka akibat kedatangan para penyerang asing itu. Rasa bersalah kembali menyelimuti Rhaga, seandainya dia tidak menjadi target para penyerang itu mungkin kehidupan suku ini tidak akan terganggu.
“Ehm … ehm ….” Aranhe berdeham, berusaha untuk mencairkan suasananya. “Tidakkah kita harus menyambut kepala suku yang baru?” tanya Aranhe lagi sambil berjalan ke depan bersama dengan Rondakh.
“Benar sekali, hidup kepala suku Rondakh!” Rhaga dan Risaya berseru, diikuti oleh Aranhe dan kemudian penduduk suku pun mulai bersorak meneriakan nama Rondakh.
“Bagaimana kalau kita berpesta malam ini, untuk merayakan terpilihnya Rondakh?”
“Ya, betul sekali, kita harus berpesta untuk merayakannya!” seru salah seorang penduduk.
“Baiklah, kalau begitu kita mulai persiapannya sekarang!!!” Rhaga berseru.
Risaya menatap Rhaga dengan seksama, untuk sejenak dia merasa jika Rhaganya yang dulu mulai kembali. Ada semangat dalam diri Rhaga yang mulai terbakar. Enam bulan ini terasa berat bagi semua orang, namun ketika semua orang mulai kembali pada kehidupannya ada satu orang yang masih terjebak dalam rasa bersalah. Itu adalah Rhaga. Semenjak kejadian itu, Rhaga menjadi sangat pendiam, dia hanya berbicara jika perlu, bahkan saat pertemuan mereka tadi malam dia hanya mengatakan sesuatu yang sama persis dengan apa yang dikatakannya di depan semua penduduk suku.
Memang berat bagi Rhaga, dia kehilangan semuanya dalam sekejap mata. Satu-satunya anggota keluarga yang dia cintai pergi meninggalkannya dan Risaya tahu diam-diam Rhaga masih menyalahkan dirinya karena hal itu.
***
Api berkobar menyala terang itu memerangkap pikiran Rhaga. Sementara yang lain sedang bersenang-senang menghabiskan daging panggang dan minuman mereka, Rhaga hanya duduk di depan api unggun. Tubuhnya memang tampak jelas di sana, namun siapa yang tahu pikirannya entah melayang ke mana.
Sesekali Risaya mencuri pandang ke arah Rhaga, memerhatikan Rhaga yang melamun sembari memegangi amulet berwarna lembayung di lehernya itu. Kalung yang menjadi satu-satunya peninggalan Sotaka. Risaya tak tahan lagi melihat Rhaga yang membisu di tengah –tengah keramaian ini.
“Benar ‘kan, Risaya?” Sebuah suara dari teman-teman mengobrolnya itu mengusik kekhawatiran Risaya terhadap Rhaga, walau sebenarnya dia sama sekali tak mendengarkan ucapan mereka.
“Ah, iya, iya, benar sekali.” Risaya hanya menjawab asal untuk menyenangkan semua orang meski tampaknya tak berhasil karena beberapa teman-teman gadisnya itu menatap Risaya dengan kening berkerut.
“Sepertinya aku harus mengambil air minum lagi,” ujarnya berbohong. Risaya berjalan meninggalkan kumpulan gadis-gadis yang sedang bergosip tentang pemimimpin baru mereka. Pergi ke arah Rhaga lalu duduk tak jauh dari tempat Rhaga yang pikirannya sedang tenggelam.
“Sepertinya kau punya sahabat baru.” Risaya berusaha untuk mengusik ketenangan Rhaga.
Rhaga menoleh, lamunannya lenyap seketika saat Risaya membuka bibirnya dan mengeluarkan sebuah suara. Senyum samar mengembang di bibir Rhaga, sebuah senyuman yang jelas sekali dipaksakan. Helaan nafas keluar dari bibir Risaya, dia tak suka melihat Rhaga seperti ini –memaksakan senyumannya. Padahal dulu, Rhaga adalah satu-satunya di antara mereka bertiga yang sering sekali tertawa, setiap bicara pun selalu tersenyum dengan tulus.
“Bagaimana pestanya, apa kau menikmatinya?” tanya Rhaga dengan suara pelan.
“Apa kau menikmatinya?” Risaya mengembalikan pertanyaan Rhaga, membuat pemuda itu menatapnya dengan heran. “Rhaga ayolah, ini adalah pesta kita, kenapa kau malah di sini sendiri? Di mana Aranhe?”
Sekali lagi Rhaga tersenyum, tatapannya memancarkan kesedihan yang mendalam. Dan sedetik itu juga Risaya pun merasa sangat bersalah. Rhaga masih berduka walau enam bulan telah berlalu dari kejadian tragis itu.
“Kau tidak pernah bicara banyak setelah kejadian itu,” ucap Risaya, dia mengalihkan pandangan matanya dari tatapan sedih Rhaga. Tak tahan rasanya jika melihat Rhaga bersedih sementara dia tak bisa menghiburnya.
“Semua orang berduka, Rhaga …,” ucap Risaya lagi. “Tapi setidaknya beri aku sedikit saja celah agar aku bisa menemanimu berduka.”
Rhaga menutup matanya, setetes air mata mengalir dari sudut matanya. Dia menahannya sejak lama, sementara kepala suku yang baru belum ditetapkan dia bertanggung jawab atas semuanya. Melihat orang-orang yang berduka, Rhaga pun tak ingin tampak berduka. Dia ingin terlihat kuat, agar orang-orang bisa kembali pada kehidupannya.
“Kau ada di sini sudah lebih dari cukup, Saya.”
Risaya begitu frustrasi karena Rhaga yang keras kepala, dia mendekat lalu menarik tangan Rhaga dan menggenggamnya erat. Seandainya saja bisa, Risaya ingin menukar perasaan Rhaga dengannya agar dia benar-benar bisa memahaminya.
“Dengar, aku tidak akan pernah bosan mengatakannya padamu,” ujar Risaya sungguh-sungguh. “Ini semua bukan salahmu, memangnya kau siapa bertanggung jawab atas semuanya, kau … dan semua penduduk yang tewas saat itu hanya manusia biasa. Mereka yang menyerang kita semua bertanggung jawab, bukan kau.”
Kalimat itu sudah dikatakan oleh Risaya berkali-kali selama enam bulan belakangan ini sampai Rhaga bisa menghafal setiap katanya. Biasanya Rhaga akan menyangkal itu, karena jauh di dalam lubuk hatinya rasa bersalah itu masih ada dan mencengkramnya dengan kuat. Namun, kali ini Rhaga hanya tersenyum sembari menarik tangannya dari genggaman Risaya.
“Kita akan segera pergi, Rhaga. Bersenang-senanglah sebentar.” Risaya berujar kemudian berjalan pergi. Tak ingin lagi membebani Rhaga dengan ucapannya yang jelas saja sudah dihafal oleh Rhaga.
Risaya pergi dan Aranhe pun datang, dia telah memerhatikan sedari tadi interaksi yang terjadi antara Rhaga dan Risaya. Hanya saja Aranhe tak ingin mengganggunya, dia tahu benar hubungan kedua sahabatnya itu bisa jadi lebih dari pertemanan. Aranhe akhirnya tahu setelah Rhaga bangun setelah berhari-hari tidak sadarkan diri setelah pertandingan berburu dan nama orang yang pertama kali disebut adalah Risaya.
“Aku tidak ke mari untuk menceramahimu, karena Risaya sudah melakukan tugasnya dengan baik,” ucap Aranhe, dia tahu pasti apa yang ada dipikiran Rhaga sejak duduk di sampingnya karena mata Rhaga mengatakan semuanya.
“Bagus kalau begitu, aku juga sedang tidak ingin mendengar ceramah yang lain.”
“Tapi kau tidak boleh menolak minumanku, ayo! Mereka menunggumu.”
“Mereka?” Rhaga tak mengerti, siapa yang menunggunya.
“Rhaga … kau tidak melenyapkan kepintaranmu ‘kan?”
Ujung bibir Rhaga terangkat dan Aranhe merasa cukup senang, setidaknya ejekan yang dia berikan ke Rhaga berhasil membuat Rhaga tersenyum walau samar. Aranhe meraih tangan Rhaga kemudian beranjak pergi dari tempat ini. Menuju ke tempat beberapa pemuda suku berkumpul, terlihat Rondakh pun ada di antara kita.
“Ini dia … pahlawan kita!” seru seseorang.
Rhaga menatap pemuda itu seketika, dan suasana yang hangat berubah menjadi canggung, pemuda itu menutup mulutnya rapat-rapat setelah orang di sampingnya menyenggol pinggang membuatnya mengerti jika dia sungguh salah bicara.
“Hei, kenapa wajahmu begitu?” Aranhe menyenggol bahu Rhaga. “Apa yang dia katakan itu benar, sebagian penduduk menganggapmu sebagai pahlawan mereka,” lanjut Aranhe lagi. Dia kemudian mengambil sebuah gelas yang berisi minuman keras dan diberikan kepada Rhaga. “Ini minumlah, kau benar-benar membutuhkannya!”
“Aku membuat ayahku meninggal dan kalian menganggapku pahlawan?!” Nada suara Rhaga naik satu tingkat, tangannya menggenggam gelas yang terbuat dari kayu kuat-kuat.
Rondakh merangkul bahu Rhaga, berusaha untuk menurunkan tensi ketegangan yang terjadi.
“Rhaga … lihatlah sekelilingmu!” pinta Rondakh dengan suara yang pelan. Rhaga pun menurut begitu saja, dia melihat ke sekelilingnya. Memperhatikan satu per satu pemuda yang duduk melingkar di hadapannya.
“Apa yang kau lihat?”
“Apa yang aku lihat?” Rhaga benar-benar tak mengeri apa yang ingin disampaikan oleh Rhaga. Namun, semakin dia memperhatikan para pemuda itu semakin dia melihat kesedihan, tapi tak ada penyesalan.
“Aku tak melihat apapun,” balas Rhaga sembari menyingkirkan tangan Rondakh dari bahunya. Dia pun lekas berdiri dan beranjak untuk pergi.
“Jika aku harus memilih ….” Seseorang berbicara, menghentikan langkah Rhaga yang baru saja selangkah meninggalkan mereka. “Aku akan memilihmu untuk menjadi kepala suku kita yang baru,” ujar orang itu tanpa keraguan.
“Hati-hati saat kau bicara,” ucap Rhaga tanpa menoleh ke belakang.
Rhaga hendak berjalan pergi lagi, namun langkahnya tertahan karena beberapa orang menghadang jalannya. Mereka tak hanya para pemuda suku, melainkan wanita bahkan ada beberapa anak-anak yang menghadang Rhaga.
“Ad-ada apa ini??”
“Kau adalah pahlawan kami, maaf selama ini kami diam saja dan tidak pernah mengucapkan terimakasih padamu,” ujar seorang wanita.
“Tidak, kalian semua salah.”
“Ya, kami memang salah.” seorang gadis melangkah maju ke depan dan kemudian berdiri di hadapan Rhaga. “Kami semua salah karena telah membiarkanmu merasa bersalah sendirian, Rhaga. Kami …,” gadis itu menatap Rhaga.
“Kami ingin kau tahu, bahwa kami sangat berterimakasih padamu karena kau telah membuat orang-orang asing itu musnah,” lanjut Rondakh.
“Kau adalah pahlawan kami.”
“Tuan Sotaka pasti akan bangga padamu!”
“Tuan Sotaka tak ingin kau terus menerus merasa bersalah.”
Rhaga menatap mereka satu persatu, matanya berkaca-kaca dan dia kehabisan kata-kata. Semua orang mendekati Rhaga, mereka kemudian memeluknya satu persatu.
“Kau hanya harus membuka hatimu, sedikit saja dan kau akan melihat betapa selama ini dirimu sudah salah menilai dunia,” bisik Risaya yang menjadi orang terakhir memberikan pelukan terhadap Rhaga.