THE AMULET

2262 Words
Chapter Seven: THE AMULET   Langit yang berwarna begitu cerah menyambut mata Rhaga, dia terkesiap, berkedip beberapa kali untuk menjernihkan pandangannya, walau sulit karena rasanya ada kabut yang menyelubungi bola matanya. Meski begitu dia tetap berusaha sangat keras agar pandangannya kembali jernih. Ketika matanya jernih, tubuh yang terasa remuk menyerangnya, Rhaga hanya bisa mengerang sambil menggeliat di atas alas yang sangat keras. Setiap kali dia bergerak, rasanya semua tulangnya patah, rasa sakitnya menyebar rata ke seluruh tubuh, sangat menyakitkan.   Meski rasa sakit menghujam tubuhnya, Rhaga tetap memaksakan dirinya bangkit dari … dia melihat ke bawah, tempat boko0ng telanjangnya duduk – sebuah batu yang sebagian tertutupi oleh lumut, keningnya berkerut, sebuah pertanyaan terlintas dalam benaknya, dia sedang telanjang, di tempat terbuka?   “Kenapa aku ada di sini?” Rhaga bergumam pelan setelah dia menyadari saat ini dirinya berada di atas batu, di puncak tebing tempatnya biasa bersama dengan sang ayah untuk menghabiskan waktu dengan melatih sihirnya.   Rhaga berusaha mengingat apa yang terjadi, namun ingatannya kacau, dia tak mengingat apapun kecuali saat dirinya terbangun dan bergegas menemui Risaya untuk menghentikan pernikahannya. Rhaga bangkit dengan susah payah, dengan tubuh telanjangnya dia pun beranjak turun dari batu itu, setelah mencari daun untuk menutupi tubuhnya dia berjalan pelan menyusuri jalan setapak yang terhubung ke pemukiman sukunya.   “A-a-apa yang terjadi?” Kaki Rhaga terhenti, tubuhnya menjadi sekaku pohon ketika melihat pemukiman, tempat tinggal sukunya telah berubah menjadi puing-puing, mayat-mayat banyak bergelimpangan, beberapa bagian hutan tampak hangus terbakar.   Rhaga mulai melangkahkan kakinya dengan gontai, dia mencari keberadaan rumahnya yang tak lagi ada, mencari keberadaan orang-orang terdekatmya – ayahnya, Aranhe, dan Risaya. Hatinya semakin bergetar gelisah ketika ia tak menemukan siapapun yang masih bernafas.   “Ayah ….” Suara Rhaga bergetar memanggil-manggil ayahnya, kebingungan di tengah kekacauan yang tak bisa dimengerti oleh Rhaga. “Ayah? Di mana kau?!” kini kegelisahan itu tergantikan oleh ketakutan yang mencekam, Rhaga takut jika mungkin saja tubuh ayahnya ikut terkubur dalam puing-puing ini.   “Ayah ….” Sekali lagi, Rhaga memanggil ayahnya. Tak mendapatkan jawaban apapun, dia menjadi seperti orang gila, menanggalkan daun yang menutupi area k*********a, dan mulai mengangkat reruntuhan satu demi satu untuk mencari ayahnya. Airmata berderai di wajahnya, sementara bibirnya tak henti memanggil ayahnya.   Rhaga tak berhenti walau tangannya mulai terluka, dia terus menggali di setiap reruntuhan yang terinjak oleh kakinya. Setiap kali melihat mayat, dia akan membabi buta mengangkat semua puing-puingnya, dan ketika yang ditemukan bukan ayahnya, kekecewaan dan kegelisahan jelas sekali mencengkram hatinya.   “Rhaga? RHAGA!”   Panggilan itu tak lantas membuat Rhaga berhenti, telinganya seolah tersumpal dan kesadarannya. Tangannya masih mengangkat satu persatu puing-puing, menyingkirkannya dan mencari-cari sosok ayahnya. Sampai pada akhirnya sebuah tangan menyentuh pundaknya yang telanjang, dan Rhaga pun terhenti.   “Ayah?” Perlahan-lahan Rhaga berbalik, jantungnya berdegup sangat kencang karena harapan yang membuncah. Namun, tatapannya nanar saat sosok yang ada di hadapannya itu bukanlah sang ayah, melainkan Aranhe dengan tatapan ibanya.   “Di mana ayahku, kau tahu, ‘kan?” Rhaga merengkuh bahu Aranhe dengan kuat, harapannya yang membumbung hampir jatuh, tapi dia sadar jika harapan itu masih bisa diselamatkan.   Aranhe tak mengatakan sesuatu, dia melepaskan tangan Rhaga dari bahunya perlahan kemudian melepaskan bajunya sendiri untuk diberikan kepada Rhaga yang telanjang. Sementara itu, Rhaga hanya terdiam dengan hati cemas.   “Kenapa tidak menjawabku, di mana ayahku, di mana Risaya, apa yang terjadi?!” Rhaga meninggikan suaranya.   “Jika kau punya tenaga untuk menanyakan semua hal itu, sebaiknya kau gunakan itu untuk memakai pakaianku dan menutupi tubuhmu!” ujar Aranhe lagi. melihat Rhaga yang sangat menderita karena kegelisahannya sebenarnya membuat Aranhe tak tega. Hanya saja, saat ini  dia membutuhkan Rhaga yang waras, bukan Rhaga yang menggali setiap reruntuhan seperti orang gila.   Rhaga menurut saja, dia pikir denganbegitu Aranhe akan memberitahu semuanya. Setelah dia menggunakan pakaiannya, Aranhe malah berbalik dan berjalan terpincang meninggalkan Rhaga. Mau tak mau Rhaga pun mengikutinya, dia berhasil menyusul Aranhe dan berjalan di sampingnya.   “Apa yang terjadi Aranhe, mengapa kau diam saja?” Rhaga menjadi semakin tak sabar, dia pun tak tahu ke mana Aranhe akan membawanya. Kediaman Aranhe benar-benar membuat Rhaga frustrasi, dia akhirnya melompat dan menghalangi langkah sahabatnya yang memilih diam seribu bahasa sejak mereka berjalan.   “Katakan padaku! Apa susahnya dengan menjawab pertanyaanku?!”   “Ini semua karenamu!” Aranhe meluap, jika Rhaga kehilangan kesbarannya begitu juga dengan Aranhe.   Mata Rhaga melebar, membulat dan siap untuk lepas dari rongganya. Dia terkejut, dan tak bisa menerima informasi yang diberikan oleh Aranhe. Sekilas dia memandangi reruntuhan dan mayat yang bergelimpangan di belakang punggung Aranhe, nafasnya pun sesak tercekat oleh kenyataan yang menghantam dengan keras. Semua kekacauan ini ulahnya, dan Rhaga mulai menyalahkan dirinya.   Sesaat kemudian penyesalan menyusup masuk ke hati Aranhe, salahnya telah mengucapkan sesuatu yang tidak seharusnya. Apalagi Rhaga tampak sangat terpukul setelah mendengarnya.   “Maafkan aku, aku akan menjelaskannya padamu, sekarang ikut denganku ada yang harus kau ketahui.” Aranhe tak peduli bagaimana reaksi Rhaga. Dia hanya menarik tangan sahabatnya itu dan berjalan menjauh dari pemukiman yang sudah luluh lantah.   Sepanjang perjalanannya, Rhaga memaksa otaknya untuk bekerja keras mengingat apa saja yang terjadi, dia menggali dan membuka kembali ingatannya yang entah bagaimana bisa terkubur begitu dalam. Samar-samar Rhaga pun mengingat semua yang terjadi, musik pengiring pengantin, pengakuan cintanya pada Risaya, para penyerang itu, kebakaran … semuanya.   Langkah terhenti ketika ingatannya memutar kembali bayangan di mana Basram menusukkan pedang ke d**a ayahnya. Aranhe yang menarik tangannya pun terpaksa berhenti, dia menoleh ke belakang, ingin tahu kenapa Rhaga tiba-tiba terhenti saat mereka telah sampai di depan mulut gua tempat orang-orang yang selamat berlindung. Aranhe sangat terkejut ketika tiba-tiba saja Rhaga berlutut dna tubuhnya bergetar hebat karena isakan.   “Ayahku … dia …”   “Rhagaa!!” Teriakan lain menghentikan Rhaga yang mulai meracau, dia dan Aranhe menoleh ke sumber suara.   Risaya menghambur ke arah Rhaga, berlutut di depan Rhaga yang tampaknya sedikit lega melihat Risaya baik-baik saja. Risaya segera memeluk Rhaga dengan sangat kuat. Tangisnya pecah ketika tangannya menyentuh tubuh Rhaga. Beberapa hari ini pikirannya kalut, selalu memikirkan keberadaan Rhaga yang tak diketahui sejak hari tragis itu. Melihat Rhaga ada di depannya, membuatnya merasa percaya tak percaya, akan tetapi setelah tangannya menyentuh tubuh Rhaga, rasanya begitu nyata sampai dia tak mampu membendung tangisnya.   “Kau hidup, Rhaga! Kau kembali! Kau hidup! Oh, terimakasih! Terimakasih!” Risaya terisak dengan mendekap kuat Rhaga, tak ingin melepasnya walau sesaat, sebab Risaya takut jika dia melepaskan tangannya mungkin Rhaga akan menghilang lagi.   “Saya … ayahku,” gumam Rhaga dengan isakan yang dia tahan sejak Risaya memeluknya.   “Ya, aku tahu Rhaga, aku tahu …,” balas Risaya, dia mulai mengusap punggung Rhaga untuk menenangkannya. “Menangislah, jangan ditahan.”   “Aku ingat semuanya … aku ingat, ayahku, dia dibunuh, semua karena kebodohanku.” Rhaga tak kuasa lagi menahan tangisnya. Sembari meluapkan isakannya, Rhaga mendekap Risaya dengan erat. “Aku yang membunuh ayah ….”   “Dasar bodoh, kalau kau mengingat semuanya seharusnya kau juga mengingat perkataan terakhir ayahmu!”   Seketika itu Rhaga melonggarkan kembali pelukannya pada Risaya, dengan mata merah berairnya dia menatap Risaya penuh tanda tanya. Risaya hanya mengangguk, membiarkan Rhaga mengingat semuanya secara utuh.   “Ayo … biar aku dan Aranhe mengantarmu ke tempat Paman beristirahat.”   *** Makhluk itu menggantikan tubuh manusia Rhaga, mengambil alih semua kesadarannya, menebar ketakutan pada orang-orang di sekitarnya. Ini pertama kali bagi mereka melihat makhluk mengerikan yang sangat buas. Namun, penyerang asing itu  walau tangan mereka gemetar tetap menyerang Rhaga yang telah menjadi makhluk buas ini.   Mata merah yang menyala itu dipenuhi oleh aura membunuh yang sangat kuat, tangan besarnya dengan cakar yang yang tajam mengoyak tubuh para penyerang asing dengan beringas. Darah mulai berceceran, tubuh-tubuh yang hancur pun berserakan.   “Benar apa kataku! Dia memang ibls! Dia penyihir!” Basram terus berteriak, “Serang dia, serang dia, kalian bodoh!!”  Basram berteriak pada para sekutu dan anak buahnya, sementara dia sendiri perlahan-lahan berjalan pergi menjauh dari tempat ini untuk bersembunyi.   Di sisi lainnya, penduduk suku brysn pun dibuat ngeri oleh penampilan Rhaga yang mengerikan. Namun, mereka yakin Rhaga tidak akan menyerangnya, jadi mereka tetap bersiaga di tempat mereka.   Rhaga sungguh tak terkendalikan, dengan mudah menghancurkan semua musuh-musuhnya, tak hanya itu dia pun mulai menyerang setiap rumah yang terlihat oleh matanya. Matanya menyisir seluruh tempat,mencari keberadaan Basram. Ketika dia melihat sosok Basram yang berlari menjauh, dia melompat tinggi-tinggi lalu dengan keras menghantam tubuh gemuk Basram dan menghancurkannya dengan kaki.  Seperti buah yang terinjak, begitulah kondisi tubuh Basram saat ini, hancur dengan darah yang menyembur tak beraturan.   “GGGRRRAAAAOOOGHH!” Rhaga meraung sangat keras, puas telah memusnahkan pria yang telah membunuh ayahnya.   Kepuasan itu hanya sesaat saja, Rhaga menarik kakinya yang telah berlumur darah itu. Pandangannya beredar ke seluruh pemukiman penduduk suku, terlihat hampir separuh dari pemukiman itu hancur. Rhaga kembali ke pemukiman, tangannya mengibas, menyapu semua rumah yang tersisa, atap-atap berterbangan dan semua rumah-rumah hancur berkeping. Penduduk yang ketakutan pun berlari untuk berlindung.   “Rhaga ….” Suara lirih yang terdengar seperti rintihan itu menghentikan kebengisan Rhaga. “Rha … ga.” Lagi, dan Rhaga pun mencari sumber suara itu. Rhaga membalikkan badanya, melihat sosok kecil yang berdiri dengan susah payah di hadapannya. “Anakku, Rhaga …,” Sotaka mengulurkan tangannya seperti ingin meraih wajah anaknya yang telah menjadi makhluk raksasa yang buas.   Rhaga berlutut dengan keras hingga menimbulkan suara berdebum, matanya yang memerah itu perlahan kembali menjadi matanya seperti sedia kala, iris lembayungnya mulai kembali dan dipenuhi oleh air mata yang siap tumpah kapan saja.   “Rhaga … ayah baik-baik saja, jadi berhentilah.” Sotaka mengucapkannya dengan rasa sakit yang tak terkira. Wajahnya sudah pucat kehabisan darah, kakinya pun melemah tak kuasa menopang tubuhnya dan dia pun jatuh berlutut sembari memegangi dadanya yang tertusuk.   “Ayah! Ayah!” Tubuh Rhaga sudah kembali seperti sedia kala, dia segera menghambur menuju ke ayahnya. Memeluk sang ayah, menjaganya agar tak ambruk ke tanah. “Ayah maafkan aku, maafkan aku.”   “Rhaga …” Suara Sotaka sangat lemah hampir tak terdengar.   Tak berselang lama, datang Risaya dan Aranhe. Keduanya berlari kencang setelah melihat Rhaga kembali menjadi manusia. Sejak diberitahu Aranhe jika Rhaga memiliki sebuah rencana dia pergi meninggalkan tempat perlindungan untuk membantu Rhaga. Namun, yang dia lihat ada makhluk buas yang menyerang desanya. Mahkluk yang tak pernah mereka lihat sebelumnya. Dan makhluk itu perlahan berubah menjadi sahabatnya, Rhaga, sungguh sesuatu yang tak dimengerti oleh Risaya.   Banyak pertanyaan yang menggelayuti pikiran Risaya dan Aranhe, akan tetapi melihat kondisi Sotaka yang buruk mereka lebih memilih diam. Saat ini Rhaga tidak sedang dalam keadaan yang baik.   “Ayah kau harus bertahan, aku akan membawamu pergi dari sini,” kata Rhaga yang berderai air mata.   “Rhaga …,” Sotaka menyentuh kalung yang selalu dia gunakan, sebuah kalung dengan liontin berupa batu permata berwarna keunguan. “Ambil ini … dan cari pria bernama Gard Meridiam.”   “Tidak ayah … tidak, kau harus iku denganku, kau tidak boleh pergi.” Rhaga menangis sembari memegangi tangan ayahnya yang memegang kalung itu. “Aku … tidak akan bisa jika kau pergi, aku tidak bisa melakukan semuanya dengan benar.”   “Rhaga, selamanya kau adalah puteraku …,” ujar Sotaka dengan lemah, perlahan-lahan matanya tertutup, tangannya yang digenggam oleh Rhaga tak lagi berdaya dan jatuh ke tanah.   “Tidak, tidak, tidak, ayah, tidak, kumohon.” Rhaga menangis sejadinya, hatinya hancur berkeping. “Ayah … kumohon,” Rhaga memeluk ayahnya dengan erat, berharap nyawa ayahnya masih terperangkap di tubuhnya. Di sisi lain, Risaya dan Aranhe menatap dengan mata yang telah basah.   Rhaga yang berduka tanpa sadar membuatnya mengeluarkan sesuatu dari tubuhnya, seperti sebuah pelindung samar yang mengelilingi tubuhnya. Dia tak membiarkan siapapun untuk mendekati dirinya dan ayahnya. Aranhe dan Risaya yang tak berani mendekat ketika mengingat bagaimana Rhaga bisa mengubah wujudnya menjadi makhluk yang buas.   “Aayahhhhhh!!!!!!” Rhaga berteriak sangat keras sekali, lalu pelindung samar itu tiba-tiba saja bercahaya sangat terang lalu menghilang bersama dengan Rhaga dan hanya menyisakan tubuh Sotaka yang tergeletak di tanah. Hal itu membuat Aranhe dan Risaya bertanya-tanya, kemana hilangnya Rhaga.   “Aranhe … apakah Rhaga?” Risaya tak berani melanjutkan pertanyaannya.   “Tidak, aku yakin dia tidak lenyap, dia ….” Aranhe pun ragu, hanya saja dia tidak ingin percaya jika Rhaga bunuh diri menggunakan sihirnya untuk melenyapkan dirinya sendiri. “Dia pasti akan kembali, sekarang kita urus paman dan yang lainnya.”   *** “Apa kau sudah mengingat semuanya, Bodoh?” tanya Risaya yang sedang duduk di samping Rhaga.   Ketiga serangkai itu duduk tepat di hadapan gundukan kuburan Sotaka. Di tempat itu, Rhaga akhirnya mampu mengingat semuanya. Termasuk kalung pemberian sang ayah. Namun, sepertinya dia menghilangkan satu-satunya benda peninggalan ayahnya.   Sebuah tangan terjulur dan di atasnya terdapat kalung dengan liontin batu permata yang berwarna keunguan itu. Mata Rhaga pun melebar, dia menoleh melihat Risaya yang tersenyum ke arahnya sembari memberikan kalung itu padanya.   “Kau itu selain bodoh, juga ceroboh, mengapa pergi tanpa membawa kalung ini. Kau tahu ini sangat berharga.”   “Risaya benar, kau harus menyimpannya mulai sekarang,” sahut Aranhe.   “Dan mencari pria itu …,” ucap rhaga lirih, “Gard Meridiam, apakah dia penduduk di sini?”   “Ayahku ….” Aranhe menghela nafasnya, sementara mendapatkan tatapan aneh dari ke dua sahabatnya. “Itu benar, Gard Meridiam adalah ayahku dan dia tidak tinggal di sini.”   “Tunggu, selama ini kau punya ayah, lalu kenapa dia tidak pernah ke mari?” tanya Risaya yang telah dikuasai oleh rasa penasaran yang tinggi. Ini sungguh mengejutkan, karena selama ini mereka pikir Aranhe adalah yatim piatu, itu sebabnya Tuan Sotaka merawatnya.   “Ya, begitulah.”   “Jadi di mana ayahmu?”   “Daratan Lima Negara.”              
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD