Gretzh Statzh and Rhean Lutzh

1313 Words
Di Dalam Kamar   Rhean tampak tengah duduk di tepi ranjang, karena menyusui buah hati. Dia masih merasa sedih, ketika mengingat kejadian di dining room, terutama tuduhan dari sang mertua perempuan, seolah semua adalah salah perempuan muda berambut brunette.   “Rhean! Apa yang kau lakukan, sehingga cucuku jadi begini?”   Air mata mengalir, tanpa bisa dicegah. Ia menangis dalam diam, supaya tidak menimbulkan suara gaduh. Tak lama kemudian, buah hati tercinta menangis keras. Ostara seolah mengetahui suasana hati sang ibu, sehingga menunjukkan perilaku serupa. Fairy prince baru saja berganti pakaian, sehingga saat kembali ke dalam ruangan, ia melihat dua orang terkasih tengah bersedih.   Tanpa pikir panjang, lelaki bertubuh kekar tersebut, langsung melangkah ke tempat pasangan hidup dan anak mereka. Aku tak pernah membuat istri bersusah hati seperti itu, karena sudah berjanji untuk membahagiakan. Apa yang telah mengganggu pikirannya? Ostara pun ikut terisak, seakan mendukung.   “Jangan menangis, Sayang,” hibur Rhean, seraya memaksakan diri tersenyum. Kedua tangan masih mengayun, seakan mencoba untuk menenangkan cucu pertama di keluarga Statzh. Tiba-tiba, ada sesuatu menyentuh bahu, sehingga membuat dia menoleh.   “Hu-bby,” ucap anak tunggal Agrh Lutzh dan Grima Vandft itu.   “Sayang, apa yang terjadi?” tanya fairy male, tanpa berbasa-basi.   “Tidak ada apa-apa, Hubby. Semua baik-baik saja,” jawab Rhean, penuh kebohongan. Dia sengaja mengatakan hal tersebut, supaya pasangan hidup tidak curiga.   Sepasang alis naik dan saling bertaut, pertanda tidak mempercayai ucapan sang istri. “If everything is fine, why do you cry? I know that something was bothering your mind. Do not hide it, because I know you so well, Wifey.”   Wanita bermata hijau itu terdiam. Air mata semakin deras mengalir, sementara tangisan Ostara menjadi lebih keras dari semula. Gretzh menatap raut pasangan lekat-lekat. Ia mengetahui, jika belahan jiwa belum mau mengungkapkan secara jujur, akan tetapi sebagai suami yang baik, harus bisa membuat istri terbuka, dan berbagi perasaan.   “A-aku ti-tidak berguna,” isak Rhean. “Os-tara ter-lahir perempuan dan bukan laki-laki. Selain itu, Mer-tua me-nyalahkan war-na—”   Perkataan yang diucapkan tersendat-sendat di sela-sela tangisan, menjadi terputus, karena Gretzh memeluk tubuh langsing di dalam pelukan. Tak ada lagi kata tercipta, karena di dalam ruangan, hanya terdengar sedu sedan Rhean dan Ostara.   Hati fairy prince menjadi sakit, ketika melihat kedua bidadari di keluarga seperti itu, sehingga lebih memilih, agar teman hidup menumpahkan semua rasa sakit yang menusuk di hati, daripada disembunyikan.   Sementara, perempuan muda bermata hijau tersebut tak sanggup untuk berkata-kata. Ia merasa semua menyalahkan, padahal sebagai seorang ibu, tentu saja mengharapkan, serta mendoakan hal-hal baik untuk keturunan sendiri.   Tangis si kecil tak juga reda. Ia seolah merasakan tekanan psikis ibu tercinta. Sementara sang ayah tak mengucapkan apa-apa, namun bibir itu mengucapkan spell, tanpa suara, agar bisa mengetahui isi hati belahan jiwa. “Gregthux liotz horxti gret vzat Rhean!”   Sejak kecil selalu dipaksa oleh orang tua. Apa pun perintah mereka, tidak boleh dilanggar, semua harus dipatuhi: makanan, minuman, pakaian, sekolah ... belum lagi dipaksa belajar memasak, meskipun lebih suka belajar, dan menulis. Urusan jodoh pun sama. Untung saja, memiliki seorang suami yang baik, penuh perhatian, penyayang, dan perhatian. Ketika hamil masih tetap disiksa secara batin, saat telah memiliki anak, orang tua memarahi, karena bukan laki-laki. Ibu pernah menuduhku berselingkuh, bahkan berani mengatakan jika itu keturunan dari laki-laki lain. Mertua juga ikut menyalahkan. Mengapa harus perempuan disalahkan atas semua kejadian buruk? ratap Rhean.   Aku tak tahu harus bersikap seperti apa lagi, supaya bisa terbebas dari tuntutan keluarga. Tidakkah mereka mengetahui, jika hati ini menjadi sakit, karena ekspektasi berlebihan yang dibebankan? Mengapa orang tua, bahkan mertua, seolah menuntut kesempurnaan dari perempuan biasa seperti diri ini? Sungguh, jika gelap mata, ingin sekali mengakhiri hidup. Mungkin dengan begitu, semua hal buruk berhenti, dan bisa beristirahat dengan tenang, pikir si ibu muda, sedih.   Suara hati si wanita begitu jelas terdengar, seolah perempuan muda bertubuh langsing tersebut mengatakan secara langsung dari bibir. Gretzh menjadi sangat marah, karena mendengar kenyataan itu. Ia merasa gagal menjadi seorang suami, karena tak mampu mencegah kejadian buruk yang menimpa pasangan hidup. “Jangan mati. Aku dan Ostara membutuhkanmu, Sayang,” ucap sang fairy male, dengan suara lembut, meskipun di dalam hati sudah bercampur aduk.   Sang ibu muda terkejut, karena perkataan kepala keluarga. Ia tidak menyangka, jika pernyataan itu seakan-akan menimpali uneg-uneg yang hanya bisa dikatakan kepada diri sendiri di dalam sanubari.   “Maafkan aku, karena belum bisa menjadi suami yang melindungi kalian berdua. Anak kita tidak cacat. It was not your fault if our child was born a female, nor her eyes colour. You never did an infidelity, because you have been staying inside the house. I am your witness and you do not have to worry about that.” Truantz berkata lembut, seraya mengusap punggung istri tercinta.   Wanita yang selalu ditekan sejak kecil, masih menangis. Ia merasa lega, namun tetap ada perasaan sedih. Betapa beruntung aku, karena memiliki teman hidup yang baik seperti ini. Jika kami tak bertemu, mungkin saja menikah dengan pria lain, namun belum tentu memiliki sifat, serta karakter seperti Gretzh.   Laki-laki berhidung mancung tersebut menjadi tercekat, ketika mendengar kalimat terakhir. Ia merasa beruntung, karena telah memilih dunia mortal, sehingga bisa bertemu dengan perempuan baik nan lemah lembut itu sebagai permaisuri di dalam hidup.   “Bukan kau yang beruntung, Sayang, melainkan aku. I am a lucky man because I met you and we could be married. I never regret my decision and you gave me a beautiful, smart yet talented daughter. Do not cry anymore, Wifey,” hibur ayah kandung Ostara.   “Terima kasih, Hu-hubby,” sahut Rhean, susah payah. Ibu kandung Ostara balas memeluk sang suami, dengan perasaan sedih, senang, bahagia, bercampur menjadi satu. Baru kali ini, wanita pemalu itu mendengar, bahwa kehadirannya dibutuhkan, bahkan ada seorang pria merasa beruntung menjadikan anak tunggal Agrh Lutzh dan Grima Vandft sebagai pasangan hidup.   “Kita akan menginap selama tiga hari, setelah itu baru kembali ke kediaman. Aku ingin bertemu dengan adik perempuan, Traimt Statzh. Setelah bertemu dengan dia dan keluarga, maka bisa langsung pulang.”   “Traimt?”   “Ya. Kau pasti mengenal perempuan ceria bermata sama denganmu. Dia tinggal di kota lain bersama suami dan anak mereka di Greztgha. Waktu itu, aku mengirimkan surat, mengabarkan kita telah memiliki anak, jadi kami sudah berjanji akan bertemu di sini.”   Isakan terhenti. Seulas senyum tipis perlahan timbul, karena mengingat nama yang disebutkan oleh suami tercinta. “Ya, aku mengenal adik ipar. Senang sekali bisa bertemu, setelah sekian lama tak bertemu.”   Hati Gretzh menghangat. Pria yang setia dengan istri, menjadi lega, karena tangisan sang istri berhenti, bahkan buah hati mereka pun melakukan hal yang sama. Fairy male melepaskan pelukan perlahan, lalu menatap lekat-lekat manik milik wanita terkasih. Kedua tangan mengusap sisa air mata, sehingga membuat wanita cantik nan lemah lembut terpaku.   “Kamu lebih cantik bila tersenyum. Lihat, Ostara pun merasakan apa yang ibunya simpan di dalam hati. Kalau orang tua sendiri membuat pasangan tidak nyaman, lebih baik kita makan di sini saja. Nanti, aku akan memberitahu pelayan kepala,” ucap si lelaki sungguh-sungguh.   “Terima kasih, Hubby. Maaf telah membuatmu khawatir,” ucap Rhean, malu.   “Tidak sama sekali. Jika ada yang mengganjal katakan saja. Kau perlu kudapan? Lihat, anak kita perlu asupan gizi,” sahut Gretzh, seraya menunjuk ke putri kecil.   Tatapan perempuan muda beralih ke arah bawah dan terlihat wajah lucu nan menggemaskan di dalam pelukan, tengah menatap kedua orang dewasa yang merupakan orang tua yang menyayanginya.   “Apakah boleh menyantap camilan, Hubby?” tanya wanita berambut brunette, ragu-ragu.   “Tentu saja boleh. Kau tengah menyusui, jadi harus banyak asupan gizi. Anak kita bergantung penuh padamu. Let me arrange for you.” Gretzh menjawab lembut, seraya berdiri dari tempat semula.   Rhean mengangguk, lalu mengangkat wajah. Ia melihat sang suami telah berlalu dari hadapan, lalu menuju pintu, dan keluar dari kamar.   *** Istilah bahasa asing: 1. Gregthux liotz horxti gret vzat Rhean! = Buatlah aku mendengarkan isi hati Rhean!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD